Welcome to my greeeeeny world :D

 

Bismillah.

Alhamdulillahi rabbil ‘aalamiin. Sholawat serta salam semoga selalu tercurahkan pada kekasih Allahu Subhanahu Wa Ta’ala, Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam : )

Hampir 10 hari pertama di bulan Ramadhan telah terlewati. Cepet banget yak? Padahal ibadah berasa kurang. Berasa nggak full gitu. Belum apa-apa udah rindu Ramadhan lagi. Sayangnya, belum tentu tahun depan kita bisa ketemu bulan yang penuh ampunan ini kan? Sedih kalo mikir gitu😥

Baideweh, mau cerita-cerita nih, rada-rada curhat kali ye. Daripada dipendem ntar jadi bisul. Gawat kalo munculnya di pantat, ntar nggak bisa duduk. Kalo muncul di wajah, ntar menurunkan tingkat keserasian kalo jalan sama suami, puihihi😀

Wokeh, sesi curhatnya dimulai dari… sekarang:D

Ga tau deh ini sekedar perasaan saya aja atau emang beneran murni mutlak perasaan saya😀 Berasa nggak sih mengalami pergeseran aktivitas di bulan Ramadhan? Maksudnya dari Ramadhan jaman baheula dan Ramadhan yang sekarang. Atau mungkin pergeseran ini karena semakin bertambahnya umur?

Dulu, jaman masih kecil, tahun 90-an, bulan Ramadhan identik dengan tarawih. Anak-anak SD akan membuat janji untuk sholat tarawih bersama. Entah kumpul di rumah siapa dulu, nantinya berangkat bareng ke masjid, gelar sajadah di satu baris. Walau sholat masih bolong-bolong, agenda ke masjid ini sungguh mangasyikkan. Kapan lagi selain Ramadhan bisa main malam-malam bareng teman? Hehe. Pun remajanya, masih banyak yang sanggup tarawih full (kecuali berhalangan) sampai masjid tak benar-benar menyisakan beberapa baris saja ketika lebaran hamper tiba. Kalau orang tua nggak perlu ditanya lah ya, para generasi yang meski sudah tak gesit lagi, semangat ke mesjidnya lebih membara dibanding kita yang ngaku masih muda :v Malu atuh harusnya yak :v

Kini, suasana itu mungkin masih didapatkan di perkampungan dan permukiman yang jauh dari ingar-bingar lampu kota. Alhamdulillah di tempat saya tinggal, seperti yang diceritakan suami saya, masjid masih ramai. Namun, suami saya pun pernah bercerita ketika ke salah satu masjid, sang imam komplen karena mesjidnya sepi jama’ah sholat. Padahal saat itu baru awal bulan puasa. Semoga saja itu karena banyak yang berhalangan dengan alasan syar’i, bukan karena malas ke masjid atau sengaja tak ikut sholat tarawih berjama’ah.

Beda masjid, beda rumah makan. Rumah makan dekat sini saja, kalau mau pesan menu buka, harus pesan dulu minimal satu setengah jam sebelum adzan maghrib. Saking ramainya! Coba kita cek, berapa agenda buka bersama yang sudah direncanakan grup yang kita ikuti? Alumni SD, alumni SMP, alumni SMA, yang itu juga masih dibagi-bagi berdasarkan kelas, belum lagi alumni kampus, geng main, teman sekosan, dll, dll. Banyak nian!

Pernah suatu saat ketika saya ikut acara bukber yang memang agak jauh dari masjid, sholat maghrib jadi keteteran, sholat tarawih pun kelewatan karena jarak rumah yang jauh dari tempat buka bersama. Jadilah hari itu buka bersama malah membuat saya lalai pada yang wajib. Hanya karena buka bersama yang notabenenya hanya untuk membasahi kerongkongan. Yang ada malah jadi momen ngerumpi sampe lupa sholat : ( Maapin saya, Ya Allah…

Coba deh sekarang kita pikir lagi, Ramadhan yang belum tentu akan kita temui lagi ini mau diisi dengan apa? Bukan berarti buka bersama nggak boleh, tapi kudu inget sholat Maghrib, Isya’ dan tarawih, kalo bisa tetep jama’ah di masjid bagi yang laki-laki, perempuan pun nggak boleh ninggalin kalo emang nggak berhalangan. Kalau memang untuk silaturahim, cari saja waktu yang lebih lengang, atau cari tempat bukber yang menyediakan tempat sholat, jangan sampai karena tempat sholat nggak ada trus bilang mau jamak aja lah, padahal cuma karena berbuka. Bisa juga buka bersama diadakan setelah tarawih aja kalau mau makan besar. Intinya yang nggak mengganggu ibadah kita. Sayang sekali kalo bulan istimewa ini agendanya full buka bersama, bukan full ibadah. Belum tentu ketemu lagi tahun depan. Iya kan?

Semoga Ramadhan kali ini lebih baik dari Ramadhan kemarin. Aamiin.

Kesempurnaan hanya milik Allahu Subhanallahu Wa Ta’ala, kesalahan dan opini saya ini jika salah tentu murni karena saya yang penuh dosa dan lupa. Barakallahu fiikum. Wallahu a’lam.

Tidurnya Wanita

Salah satu kesalahan fatal wanita yang telah berumah tangga adalah tidur. Entah itu tidur siang, tertidur, atau bahkan tidur duluan. Aktivitas tidur ini bisa menebar syak wasangka yang tak main-main. Iya, tak main-main menyakiti hati seorang wanita yang telah menjadi istri.

 

Contohnya saja sehabis melahirkan. Ibu baru yang butuh istirahat cukup malah dilarang tidur dengan alasan menyangkut mitos aneh yang tidak jelas kajian ilmiahnya. Padahal malam hari ia harus berjaga (tak jarang seorang diri) untuk membuat sang bayi tertidur pulas. Sedangkan ia sendiri harus menahan kantuk dan sakitnya jahitan yang belum kering. Padahal di pagi hari, popok sudah menunggu untuk dicuci. Namun tak ada tawar menawar lagi. Tidur siangnya seorang ibu adalah kejahatan yang harus diberantas. Hah.

 

Belum lagi ketika anak sudah mulai tumbuh, tertidur adalah hal keji. Harusnya seorang ibu selalu siaga mengawasi anaknya. Seorang ibu harus siap melaksanakan tugas beres-beres dan menjaga anak. Giliran ibu tertidur, lava gunung berapi seakan dimuntahkan tepat di hatinya. Dianggap menelantarkan anak, tidak becus, seharian kerjaannya hanya tidur, pemalas, hingga julukan manja akan sangat mudah tertempel pada citranya. Tak mempan lagi alasan pusing, lelah, meriang, atau demam. Ibu yang tertidur memang pemalas!

 

Tidur yang lainnya adalah tidur duluan. Ini haram hukumnya untuk seorang wanita bisa tidur duluan dibanding suami dan anak. Wanita harus tidur belakangan! Periksa dulu apakah gerbang sudah digembok, pintu telah dikunci, kompor tak lagi menyala, dan yang paling penting adalah memastikan anak dan suami sudah pulas! Kenapa? Karena dengan begitu dia bebas dari tudingan tetangga sebagai istri yang tidak bisa diandalkan.

 

Istri itu wonderwoman. Tak ada suami yang menolak punya istri multi talenta. Mau jadi koki, tukang cuci, pembantu, manajer, bendahara, guru, tukang kebun, tukang bersihkan selokan, bahkan tukang ojek. Tapi semua akan sirna bila istri TIDUR! So, para bujang yang mau cari istri, sebaiknya kumpulkan uang buat beli robot dari Jepang. Tak perlu kau lihat dia tidur, tak akan kau dapati dia menganggur. Dirimu akan bebas dari curhatan istri yang menangis karena sakit hati dibilang pemalas oleh orang lain. Sekian.

Bismillah..

Sudah beberapa hari Dedek susah sekali makan, kalaupun mau pasti beberapa sendok lalu mulutnya rapet pet pet lantas memalingkan muka. Dan kalaupun mulutnya mau terbuka sampai makanannya habis, sudah barang tentu yang dimakan bukan nasi tim atau buburnya, sekedar telur atau biskuit. Pusinglah emaknya ini menghadapi nafsu makan si kecil yang turun drastis. Pasalnya, saya sedang mengupayakan pertambahan berat badan dedek karena ketika ditimbang kemarin berat badannya hanya naik sedikit.

Sebenarnya kalau saya mau dedek buka mulut, cukuplah saya sodori semangka atau melon, pasti dia doyan. Tapi, bukan cuma buah yang dia butuhkan untuk tumbuh kembangnya. Saya harus mampu menyediakan gizi seimbang buatnya. Hal ini sebenarnya sudah dari dulu membuat suami saya ngoceh karena saya lumayan kaku dengan jadwal makan dan menu makan dedek. Ini nggak boleh, itu nggak boleh. Berkali-kali saya harus pura-pura congek biar gak makan ati kalo denger usul ngasi makan ini itu ke dedek, soto (yang sudah dikasi garam) misalnya. Rempong yak? Yuk ya yuuuk :v

Read the rest of this entry »

Berbagi Pengalaman: Saat Bayi Susah BAB

Bagi seorang ibu, kesehatan bayi merupakan hal yang sangat penting. Salah satunya tentang BAB bayi. Seperti yang saya alami sebelumnya, si dedek sudah dua hari nggak BAB dengan lancar, pupnya bulat-bulat kecil dan agak keras. Mungkin karena MPASI-nya yang mulai bertekstur. Namun, hal ini tetap membuat saya khawatir. Awalnya, saya konsumsi air minum yang lebih banyak dari biasanya. Hasilnya, pup dedek yang sebelumnya keras jadi agak lembek, namun tetap sedikit jumlahnya. Kemudian saya coba berikan pisang untuk dedek karena beberapa kali pisang bisa membuat BAB si dedek lancar kembali, namun tak terlalu membuahkan hasil.

Hingga dua hari lalu ketika pulang kampung, ada beberapa jenis kurma di rumah, yang saya pilih adalah kurma kering karena rasanya yang tidak terlalu manis. Dua hari setelahnya, BAB dedek lancar dan banyak. Alhamdulillah🙂

Sebenarnya saya memberikan kurma bukan Cuma sekali ini, beberapa bulan sebelumnya setelah dedek masuk RS, saya rajin memberikan kurma sebagai makanan di pagi hari. Ada beberapa cara yang saya lakukan agar kurma mudah dikonsumsi dedek.

  1. Dibuat cair dengan cara dipotong kecil-kecil, dimasukkan ke dalam gelas belimbing, lalu ditambahkan air hangat secukupnya. Setelah agak lunak, kurma dihancurkan menggunakan sendok.
  2. Dibuat cair dengan cara diblender. Cara ini tentu lebih cepat namun agak sulit jika yang diblender hanya sedikit
  3. Disuapkan menggunakan tangan. Namun sebelumnya harus mencuci tangan dulu. Sebutir kurma dibuka kulit luarnya dan diambil bagian yang lunak, dipencet dengan telunjuk dan ibu jari, lalu disuapkan secara langsung ke mulut bayi. Pastikan tidak terlalu besar dan menggumpal agar bayi tidak tersedak atau muntah.

Sekian sedikit pengalaman saya dalam menangani bayi yang susah BAB. Semoga bermanfaat.

Rumah Cinta, 20 Oktober 2015

Cahya Andina Hamzah

Ketika IPK-ku Biasa Saja

“By… IPK saya jelek…” adu saya pada suami saat menjemput di kampus.

“Berapa, Adek?” lalu suami menyebutkan angka untuk menebak.

“Hehehe, iya segitu… Kok Mas tau?”

“Iya, Adek…”

“Jelek ya, By… Kalo koas biasanya nilainya 3,7 baru disebut bagus…”

“Oh, Adek… Nilai Adek sudah bagus… Bagus itu segitu, Adek…”

Saya tersenyum mendengar suami menenangkan saya dengan kalimat sederhana itu. Ya, bagi kami, IPK tak lagi penting. Suami tak pernah mematok berapa IPK yang harus saya dapatkan. Hal itu tentu membuat saya malah merasa bersyukur dan malu jika IPK saya terjun bebas.

Sebenarnya, saya cukup study-oriented. Read the rest of this entry »

Saya Muslimah dan Saya Merdeka!

Saya muslimah yang merdeka

bebas dari pandangan lelaki

yang tak segan memandangi aurat wanita.

Tak perlu repot membenarkan posisi rok yang kependekan,

tak repot menutup paha karena kelihatan,

tak kebingungan mencari pinjaman jaket

karena baju yang terbuka atau tanpa lengan.

Saya muslimah yang merdeka

Read the rest of this entry »

 

 

            Setelah terungkapnya pembunuhan seorang PSK yang berujung pada terungkapnya prostitusi online di tanah air, banyak hal yang perlu disorot, salah satunya adalah tentang tarif yang dipasok PSK untuk sekali berkencan.

            Pada akunnya, Deudeuh menuliskan bahwa tarif untuk bersenang-senang dengannya adalah 350 ribu. Bisa dibilang affordable bahkan untuk kalangan anak muda, sehingga tak heran bila banyak anak muda dengan kategori ‘brondong’ berbondong-bondong untuk menyewa Deudeuh sebagai pelampias syahwat mereka. Hal ini dibuktikan dengan testimoni yang dipasang Deudeuh di akun twitternya. Tentu harga ini juga sangat mampu dibayar oleh yang berduit, termasuk oleh seorang suami.

            Nah, membicarakan tentang suami, bagaimana dengan para suami yang lebih memilih melampiaskan hasrat mereka dengan mendatangi PSK padahal masih ada istri di rumah yang halal untuk digauli? Tidak menutup kemungkinan bahwa faktor penampilan menjadi alasannya. Read the rest of this entry »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,353 other followers