Welcome to my greeeeeny world :D

Ditolak? Oh!

“Berapa kali kamu sudah ditolak?”

Pertanyaan ini berkali-kali, bahkan mungkin ribuan kali melintas dalam otak saya—kalo nggak dibilang udah mengendap dan jadi pigmentasi eksogenous. Dari naskah novel, novelet, kepanitiaan, sampe daftar sekolah, saya DITOLAK. Ohohohoho. Bangga? Nggak dong. Ditolak kok bangga. Kecuali saya ditolak neraka. Baru saya bangga. Lega malah.

Penolakan itu membuat hati saya hancur. Mungkin itu yang dibilang berkeping-keping. Saya nangis. Bertanya-tanya kenapa mereka menolak saya? Lalu saya merenung, mencari jawaban pada hal-hal yang saya lakukan. Ketika saya makan, saya mencoba mencari tau. Ketika saya memasukkan buku ke tas, saya masih mencoba mencari tau. Ketika saya onlen, saya juga mencari tau. Inilah awal saya mendapat jawaban itu.

Sebut saja E. Dia kakak kelas saya yang omongannya selalu “nylekit”. Kalo kepedesan di mulut bisa ditanggulangi pake pisang, tapi kalo ini mana bisa saya masukin pisang ke “hati” saya? *geje*.

Saya mulai cerita ke Si E. Responnya menarik. Menganalogikan saya dengan pemain sepak bola. Saya cemberut. Kenapa? Saya nggak suka sepak bola. Tapi, biar deh, mungkin analoginya tepat. Dia mulai bicara tentang 11 orang yang jadi pemain utama. Mereka ada di situ karena sudah siap—secara mental dan fisik (seingat saya). Lalu bagaimana dengan yang berada di bangku cadangan? Mereka ternyata juga berusaha agar suatu saat jadi pemain utama—begitu kurang lebih katanya. Lantas yang lain? Yang ada di belakang? Yang tidak ditunjuk sebagai pemain utama maupun sebagai pemain cadangan? Mereka tentu berusaha juga. Lebih keras. Memperlihatkan kepada pelatih mereka bahwa mereka pantas.

Saya bersikeras melawan Si E. Si E bilang, saya bisa bertahan jika ingin atau saya meninggalkan jika tak ingin (maaf, saya nggak hafal apa yang diomongin Si E. Saya serap sari-sarinya aja). Ada pergolakan hebat di hati saya. Saya masih berontak, mengutarakan banyak alasan yang bisa saya lontarkan. Lagi-lagi Si E bilang ‘love it or leave it’ (bener gak ya?).

Kemudian saya menyesap semua kata-kata Si E. Benar. Mereka yang siap yang di pilih. Lalu bagaimana dengan orang yang punya koneksi dengan panitia? Masa bodoh. Begitulah dunia. Manusia bukan malaikat yang anti-KKN. Sedikit atau banyak, kita sering bersikap tidak adil demi orang yang kita kenal. Sengaja atau tidak.

Saya sadar, kapasitas saya tidak cukup untuk berada di komunitas itu. Saya butuh banyak latihan apalagi mental. Saya sadar saya masih mental tempe. Mungkin saya harus beralih kepada yang lain. Untuk apa memaksa kalau memang saya tidak dibutuhkan?

Saya masih memperkuat akar saya. Saya butuh waktu untuk menjulang. Saya yakin Allah memberikan yang terbaik. Husnudzan saja lah 😀

Advertisements

Comments on: "Ditolak? Oh!" (2)

  1. well,,sepertinya saya ingat dialog itu
    hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: