Welcome to my greeeeeny world :D

Saya selalu tertawa sinis mendengar pernyataan itu. Begitukah cara berpikir seseorang yang berpendidikan? Mengandalkan orang lain sebagai tameng ketidakberdayaannya akan suatu masalah. Saya marah. Nggak trima dong!

Pernyataan itu sering kali terucap ketika akan memasuki kelas menjelang ujian dimulai. Dulu, saya pikir kalo udah masuk kuliah, lebih banyak orang yang jujur, yang sadar bahwa nyontek bukan budaya muslim. Eh, saya salah. Gedhe lagi! Pas SMA dulu, yang pinter-pinter (Namirah, Putri, Rizka, Ermy, Dian, dkk) lebih mengandalkan otak mereka sendiri. Inilah usahaku, maka inilah hasil yang aku dapat. USAHA. USAHA dengan KEJUJURAN.

Saya sempat nangis *nggak guna* waktu liat yang pinter-pinter di kuliahan ternyata nyontek. Lagi-lagi dengan alasan kekompakan. Kasian. Kasian sama siapa coba? Harusnya kasian sama yang nggak contekan. Tapi selalu aja disangkal dengan kalimat “salah sendiri nggak nyontek”-nya yang bikin hati meletup-letup. Grrrr…

Saya masih inget waktu dulu di SMA, waktu saya harus ngerjain ujian dengan kepala pening akibat thypus. Ibu saya udah nyuruh saya nyontek. Khawatir saya nggak lulus. Apa saya nggak khawatir? Jelas saya khawatir! Saya harus meneruskan perjuangan keluarga saya. Anak semata golek ini. Tapi saya yang emang kepala batu berusaha nggak nyontek. Malu sama kerudung saya. Malu sama Allah. Udah sakit, nyontek pula—udah sakit fisik, sakit hati juga.

Alhasil, nilai saya jeblok sejeblok-jebloknya. Tapi saya bersyukur, pemegang predikat terbaik se-SMA masih anak yang jujur. Saya bersyukur. Teman-teman saya bersyukur. Kami bahagia.

Adakah tangis? Iya dong! Nilai segitu! M.E.M.A.L.U.K.A.N! *minum dulu biar nggak emosi*. Serasa deh hidup ini nggak adil. Kenapa nilai mereka bagus? Kenapa nilai kami mengecewakan? Pertanyaan itu terngiang di kepala saya. Bikin saya makin pusing bin puyeng. Anak-anak yang memegang peringkat 10 besar di kelas saya hampir semuanya punya nilai jelek. Guru-guru memberi semangat. Ada hikmah. Ada barakah yang tersembunyi. Begitu kata mereka. Saya mencoba tersenyum, meski berat.

Saya mulai mikir lagi. Sebenernya posisi yang kayak gimana sih yang menentukan prestasi? Lalu saya tambahin lagi kata, “Posisi hati yang seperti apa yang menentukan prestasi?”. Hati. Saya tambahkan kata HATI atau QOLBU.

Agak aneh atau bisa dibilang aneh banget. Hati kok ada posisinya? Posisi = tempat = keberadaan. Mikir lagi *oon mode on*. Saya bayangin aja hati saya bisa masuk ke salah satu ruangan dari dua ruangan. Putih atau hitam *meski pada kenyataannya sering ke hitamnya*. Baiklah, saya milih yang putih meski hitam lebih macho.

Trus, apa hubungannya sama prestasi? Prestasi seperti apa? Prestasi yang bagaimana? Saya mikir lagi, lebih lama dari sebelumnya—sembari mencari kata-kata yang pas. Prestasi di hadapan-Nya? Yak! Bingo! Ingat, nanti di akhirat kan ada rapornya juga!

“Ya ampuuuun, masih banyak amalan lain yang dinilai. Ini cuma sebagian kecil!”

Ups, jangan main-main dengan sesuatu yang kecil, yang nggak kerasa, atau yang diremehkan! Contohnya aja virus, dia kecil banget. Virus yang paling gede masih sepertiganya bakteri yang kecil. Ada juga protein infeksius. Itu keciiiiiiiiil banget. Tapi BERBAHAYA!

Jadi, emang bener kalo posisi menentukan prestasi? Silakan tanya pada diri masing-masing 😀

NB : Ini hanya opini pribadi. Jangan diambil hatiiii… 🙂

Advertisements

Comments on: "“Posisi Menentukan Prestasi”, Begitukah?" (1)

  1. kadang, sudah capek ngingeting para ‘posisi’mania
    jadi, saya cuma bisa diam dan nggak ikut2an begitu deh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: