Welcome to my greeeeeny world :D

Mall vs Wisata Alam

          Ehm, eheeee, saya kali ini mau sedikit curhat dan berbagi opini nih 😀
Dulu, waktu saya masih seneng-senengnya di bangku sekolah, waktu bawaannya masih buku warna pink “Jangan Nodai Cinta” karangan Oleh Solihin atau serial bersampul ijo berjudul “Betty Ta Iye” karangan dr. Fauzan Muttaqien (kira-kira bagaimana ya kabarnya?), masih belum ada mall semacam Matos atau MOG di Malang. Jadi, waktu itu kalo mau main ya ke kebun teh atau sumber air di desa sebelah. Tapi semuanya menyenangkan. Mungkin karena saya emang suka liat yang ijo-ijo (uang dolar? Hihi).

Namun sekaraaaang… *sigh* Well, mari kita tengok apa yang ada di Malang. Matos, MOG, Mx, what else? Kalo dulu pas saya masih SMP, paling juga perginya ke department store, itu aja cuma mampir karena tujuan utamanya ke toko buku yang deket situ. Lagian saya rada mabok kalo berada di tangah-tengah orang banyak. Mungkin karena tubuh saya yang pendek, jadi merasa tenggelam. Hihi.
Kemaren waktu saya ke salah satu mall di Malang, banyak banget anak-anak muda (masih duduk di bangku sekolah) yang main ke sana. Temen saya sempat tanya kenapa mereka masih pada pake seragam sekolah. Walaupun saya nggak ikut pake seragam sekolah, tapi agak malu juga sih ditanyain begitu.

Sebenernya kalo mau dicari, masih banyak juga lho tempat wisata yang oke punya, tapi entah kenapa mall lebih banyak dikunjungi belakangan ini. Padahal saya aja eneg liat banyak mall dibangun dengan mengorbankan tanah-tanah berhias tanaman. Padahal kita juga butuh tanaman lho, nggak Cuma butuh toko dan mall. Oke lah, silakan bilang saya primitif, bilang saya jadul, tapi kenyataannya, akibat banyaknya tanaman yang kita singkirkan, banyak juga kerugian yang kita panen. Mulai dari kurangnya pasokan air di musim kemarau sampai tanah longsor yang banyak menewaskan orang. Jangan bilang Cuma karena takdir, tapi kita sendiri yang memicu adanya kejadian itu. Illegal logging, pembukaan lahan, pengadaan pabrik, bukankah semua itu ulah kita? Kita sepertinya asik aja gitu membangun ini-itu tanpa memikirkan solusi untuk mengatasi kemungkinan terburuk.

Pals, semakin kita tergila-gila dengan adanya mall dan pusat perbelanjaan itu, maka semakin banyak pihak yang akan membangun usahanya di atas tanah-tanah yang awalnya dihuni para tanaman. Bukan nggak mungkin suatu saat kita beneran bakal hidup dengan minum minuman elektrolit doang. Oke lah, saya juga suka kok main ke sana, liat yang berkilau-kilau bikin saya juga tersenyum senang.   Kita memang perlu sebuah pusat yang menyediakan kebutuhan kita, tapi sekarang kayaknya berceceran banget tempat-tempat model begitu. Terserah aja sih, itu kan hak manusia untuk menyenangkan hatinya masing-masing, bukan urusan saya juga. Namun saya bener-bener marah waktu saya liat tanah seluas itu mau dibikin pabrik ini lah, mall ini lah, proyek ini lah. Sedih liatnya. Dan sedikit-banyak itu juga karena perilaku konsumtif kita yang makin menjadi. Kestabilan ekonomikah? Halo halo, masih banyak warga negara kita yang nggak bisa makan tiga kali sehari (bahkan mungkin ada yang Cuma makan dua hari sekali). Uang akan Cuma berkutat di tempat-tempat itu aja. Apalagi kalo ternyata yang mendirikan bangunan adalah investor asing.

Gapapa sih kalo sesekali pengen nyenengin diri, tapi ingatlah bahwa kita sendiri yang akan membawa nasib bangsa kita. Ayolah, kita mestinya mulai mencintai alam seperti dulu. Kita harusnya mulai memikirkan nasib bumi kita ini nantinya gimana. Jangan Cuma bilang bahwa hidup ini sekali dan nggak usah dibikin susah. Gimana nasib anak-cucu kita nanti? Kita juga bertanggung jawab lho. Ayo dong kita mulai menyadari pentingnya alam dengan tidak terlalu menghabiskan waktu kita di mall atau tempat-tempat yang akan memanfaatkan keluguan kita. Jadi para manusia-manusia yang suka membangun ruko dan bangunan-bangunan ‘megah’ itu nggak nambah kekayaan mereka dengan membeli nyawa para pepohonan dan makhluk hidup yang ada di tanah. Suatu saat alam ini mungkin akan menuntut keadilan.

Jadi, tidak tergerakkah hati kita ketika melihat pohon-pohon tak bersalah itu direnggut kebebasannya untuk hidup? Sesama makhluk hidup harusnya kita bisa mengerti gimana susahnya hidup (bagi yang nggak pernah hidup susah, nggak perlu bangga). Tak perlu juga bilang bahwa daripada kita ngurusin tanaman, mending ngurusin manusia-manusia kelaparan di deket rumah kita. Manusia, hewan, tumbuhan, semuanya makhluk hidup yang perlu kita jaga sebagai sesama makhluk-Nya. Manusia kan diciptakan untuk beribadan pada-Nya. Beribadah itu bisa dengan cara apa saja, termasuk mencintai makhluk-makhluk-Nya.

^hikari_hamzah^ yang masih tertatih dalam memaknai hidup

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: