Welcome to my greeeeeny world :D

Assalamu’alaykum warahmatullah…

Annyeoooong 😀

Hola-hola Ramlaaaan *apadeh?

Well, hari ini kayaknya merupakan salah satu hari yang luar biasa buat saya. Nggak Cuma karena saya nggak ada kuliah, tapi juga karena ada Talkshow Interaktif bareng Ustadz Salim A. Fillah dan Mas Adri Suyanto beserta Mbak Euis (Istri Mas Adri). Gila, meeeeen! Keren banget! Bagi yang galau dan nggak ikut, bakal makin galau *padahal yang ikut juga galau.

Seperti judul yang tertulis di atas, tema talkshow-nya juga itu. Galau banget kan, ya? Yang datang ke sana emang rata-rata pada galau, MC-nya aja galau, pesertanya juga masih banyak tuh yang galau. Naaaah, di sini saya pengen menyampaikan rangkuman dari apa yang tadi sudah disampaikan para narasumber nih. Mungkin sedikit saya tambahin, soalnya rangkuman di buku saya sedikit, keasikan mendengar nostalgia para narasumber ketika mereka menuju gerbang pernikahan 😀

Pagi ini, saya terlonjak ketika saya melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 06.57, sedangkan acara akan dimulai pukul 07.00 *niat banget nggak sih?. Akhirnya dengan mata yang masih agak sepet, saya bergegas bersih diri dan berangkat ke kampus terkasih. Ternyata udah banyak yang datang dan saya harus duduk di barisan pojok. Awal acara, ada sedikit interview oleh MC gitchu, saya nggak terlalu memperhatikan sih, yang ditanyain kan yang putra, yang putri mah Cuma bisa liatin, eh, dengerin.

Sebelum masuk ke sesi tausyiah oleh Ustadz Salim, kami diajak untuk melihat video testimoni dari beberapa teman di FKH. Macem-macem pendapat yang didapat. Ada yang bilang pacaran itu boleh, ada juga yang bilang nggak, dan ada yang bilang GALAU *maklum, angkatan tua. Haha. Lalu dilanjut dengan sesi tausyiah oleh Ustadz Salim. Sesi ini diawali dengan pertanyaan darimana asal kata pacaran. Challenger pertama adalah saudara kita yang udah nggak asing lagi di FKH maupun di fakultas lain, hobinya muter-muter buat ngisi acara. Dengan kopyahnya yang setinggi 17 cm itu, Sodara Pandu Tokoh Amukti menjelaskan teori pacaran yang berasal dari Mbahnya. Jadi, kata Pandu, pacaran itu dulu dari kata Sir yang artinya sembunyi. Nah, orang dulu akhirnya menjadikan kata “sirsiran” (saling suka, jawa-pen) sebagai tanda lagi pacaran. Orang dulu pun kalo pacaran ternyata nggak kayak sekarang yang kemana-mana kayak prangko ditempel pake alteco, tapi malah  ada di rumah dan berbincangnya dari surat. Beda banget kan ya sama pacaran sekarang ini? Tapi kemudian Ustadz Salim meminta yang lain untuk menjawab, setelah tiga orang menyampaikan pendapatnya, ketua panitia dari acara ini akhirnya angkat bicara *cieeee* dan pendapat inilah yang akhirnya menjadi pendapat yang bisa membuka kunci sesi tausyiah.

Jadi, asal kata pacaran itu dari kata pacar. Di Sumatera Utara, Pacar itu sejenis tumbuhan yang daunnya dijadikan pewarna kuku. Dulu itu, kalo ada pemuda yang suka sama seorang gadis, dia bakal meniup seruling di bawah jendela rumah si gadis. Lalu, ayah sang pujaan hati akan menyuruhnya masuk ke rumah dan menanyai sebenernya ini mas pengennya apa. Pemuda itu lalu menjelaskan kalo pengen melamar si putri. Kalo putrinya juga setuju, maka keduanya akan diolesi daun pacar di kukunya. Nah, ini merupakan tenggat waktu buat si pemuda untuk mempersiapkan pernikahan. Kerennya lagi, si gadis dipingit selama tenggat waktu tersebut. Nah lho nah lho?

Berarti pacaran yang sekarang ini bedaaaaa banget ya? Parahnya, Deteksi Jawa Pos menuliskan 60% responden menyatakan bahwa bukan pacaran kalo nggak pake ML. Oh noooo! Gaswat beud nggak sih? Duuuh, generasi muda kita kayaknya makin getol aja tuh yang begituan dengan jalan illegal. Emang nggak semua. Sayangnya, yang masuk kategori “nggak semua” itu belum tentu nggak melakukan yang aneh-aneh juga.

Trus Islam sendiri gimana? Di al-Qur’an tidak disebutkan kata pacaran. Di QS. An-Nuur ayat 30-31, kita diperintahkan untuk menahan sebagian pandangan. Bukan selalu nunduk kalo jalan, nunduk tapi kalo bayangin sih sama aja atuh ya. Ini menahan sebagian pandangan dengan nggak sampe ngamatin *emangnya lagi penelitian*. Seeing is okay soalnya kadang dalam komunikasi kita emang perlu melihat wajah yang lagi kita ajak ngomong, tapi kalo looking at apalagi kalo watching, itu yang harus diwaspadai.

Lalu, bener nggak sih pacaran itu mengenalkan kita pada pasangan? Ada banyak kisah nyata tentang pasangan yang pacarannya lebih dari 8 tahun tapi menikahnya hanya seumur jagung. Ketika ditanya, katanya suaminya udah keliatan aslinya. Nah, selama pacaran 8 tahun itu apa dong? Ternyata suaminya waktu pacaran so sweet bangeeeet. Pacaran yang segitu lamanya akhirnya diindikasikan sebagai ajang promosi diri, jadi yang diliatin yang baik-baik karena dia belum jadi apa-apa buat pasangannya, dan dia juga pengen masuk ke gerbang pernikahan dengan pasangannya. Makanya itu, sang suami dulu waktu pacaran meninggikan kualitas diri yang terlihat daripada kualitas yang sebenernya. Apa bukan beli kucing dalam karung juga kalo gitu? Kenapa saya bilang ‘juga’? Soalnya banyak yang merasa bahwa ta’aruf (yang waktunya nggak lama-lama) kayak beli kucing dalam karung. Nggak kenal tiba-tiba nikah. Padahal ta’aruf ada prosedurnya juga, nggak asal comot *emang gorengan?

Ustadz Salim mengatakan bahwa ta’aruf itu proses seumur hidup. Iya sih ya, yang bisa kenal diri kita seutuhnya ya cuma Allah gitu lho. Makanya, setelah nikah pun, kita wajib memperkenalkan diri kita sama pasangan. Dengan nikah insya Allah bisa lebih jujur.

Kalo ditanya, kenapa sih pacaran? Banyak yang bilang karena cinta. Kahlil Gibran sendiri mengatakan bahwa cinta adalah anak dari kecocokan jiwa. Sayangnya ini disalahgunakan oleh orang labil kalo mau gonta-ganti pasangan, biasanya nemu yang oke dikit bilang cocok, bilang udah pas, bilang nyaman, trus ngerasa udah nggak cocok, trus putus, trus cari lagi, trus bilang cocok, udah pas, nyaman, udah nggak cocok, trus putus lagi (ini mau cari baju apa nyari pacar?). Akhirnya kayak BBB ya, putus-nyambung-putus-cari lagi. Kalo dianalogikan sama kunci, mana ada sih kunci sama gembok yang tiba-tiba nggak cocok? Masa’ iya gembok sama kunci setahun udah nggak klop. Itu kuncinya dibuat dari karet kali ya, jadi gampang melar akhirnya nggak cocok. Nah, kalo nikah, mana ada tuh seenaknya gitu memutuskan? Emang tali main diputus-putus aja? Makanya, nikah itu butuh pertimbangan yang matang. Eit, tunggu dulu, nggak usah menyiapkan penolakan dulu. Biasanya kalo dibilangin gini ntar jawabannya adalah, “Maka dari itu kita pacaran dulu biar persiapannya matang.” Jah, makin labil dong, Mbak, Mas. Orang kalo pacaran banyak berantemnya.

Coba kita analogikan dengan segelas air mineral. Misalnya pembaca saya suruh minum air setengah gelas lalu saya suruh lari-lari lapangan sepak bola 5 kali, haus nggak? Pasti haus dong… Kecuali kalo pembaca punya kantong kayak onta, jadi nggak haus *sok tau banget kalo onta nggak haus*. Trus saya suruh minum air yang sisanya tadi. Seger kan? Nah, sekarang kita ubah, sebelum lari, pembaca nggak boleh minum sama sekali. Tapi waktu udah selesai lari, pembaca boleh minum satu gelas penuh. Seger kan? Lebih seger mana? Pasti seger yang segelas penuh kan? Makanya itu, daripada setengah-setengah pacaran, mending langsung nikah, itu juga harus dengan banyak kesiapan ya. Kesiapan itu pun harus mulai dibentuk sekarang. Kesiapan itu apa aja sih?

  1. Kesiapan mental (nikah nggak Cuma yang indah-indah. Harap hati-hati bagi yang hobi liat drama korea *tunjuk diri sendiri*)
  2. Kesiapan Sosial (akan memasuki lingkungan yang baru)
  3. Kesiapan spiritual (pengetahuan tentang agama yang cukup)
  4. Kesiapan finansial

Guys, sebenernya, jodoh kita tuh tertulis di Lauh Mahfudz. Nulisnya kapan itu terserah Allah dong. Mau kapan juga apa hak kita buat mengganggu-gugat? Jadi misalnya jodohnya sama si A, maka mau pacaran sama B, C, D, E, dst juga ntar baliknya ke si A. Masalahnya begini, ketika kita sudah berjodoh dengan si A, lalu kita pacaran sama B, C, D, E, F, dst, masa’ sih nggak ada sedikit pun di hati kita merasa mengkhianati dia yang jadi jodoh kita?

“Kita kan nggak tau dia setia apa nggak?”

Hedeeeeh, makanya itu, kita juga harus mulai membenahi diri dooong. Kalo Mas Adri sendiri menyampaikan gini, ketika kita memperbaiki kualitas diri, maka jodoh kita juga melakukan yang sama. Jadi, kalo kita kita lagi sikasik boncengan sama yang bukan mahram, maka bisa jadi di tempat yang sama waktu berbeda atau tempat berbeda dan waktu yang sama atau di waktu dan tempat yang berbeda dia melakukan boncengan sama yang bukan mahram juga. Nah, kalo ternyata yang kita boncengin itu jodoh kita, berarti nggak apa dong? Hhhh… Gregetan nih saya, gregetaaaan… Gini lho, ketika kita bisa menjaga hati bahkan walaupun ternyata yang ada di depan kita tuh jodoh kita, nggak ada ruginya kan? Insya Allah malah dapat pahala. Kalo saya sih, ketika saya tau dia menjaga pandangannya bahkan ke saya sekali pun, maka saya seneng, berarti dia berusaha untuk menjalankan perintah Allah di QS. An-Nuur 30-31. Seneng dong dapat jodoh yang taat pada perintah Allah? Tapi kita juga harus taat biar nggak jomplang. Intinya gini deh, kita mau apa nggak menaati perintah Allah? Gitu aja. Nggak mau ya dosa, mau dapat pahala. Udah.

Gimana dengan banyaknya ketidakcocokan, misalnya istrinya nih sholihah banget tapi suaminya disebut sholih kayaknya rada kurang cocok? Coba kita tengok lagi sejarah. Tau Asiyah? Siapa hayoooo? Beliau adalah istri Fir’aun, Asiyah adalah hamba yang taat pada Allah. Asiyah dapat suami yang model pengen digetok pake sepatu orang satu bumi gitu kan? Padahal Asiyah bahkan termasuk wanita mulia yang disebut dalam al-Quran dana namanya disebutkan dalam hadits. Nabi Nuh dan Nabi Luth? Tau nggak? Itu istri-istrinya bahkan diazab sama Allah. Padahal mereka istrinya nabi. Saya nggak tau kenapa, tapi mungkin itulah cobaan untuk hamba-hamba-Nya yang beriman. Karena manusia yang beriman tetap akan diuji oleh Allah. Hayo, itu di ayat mana ya?

Lantas bagaimana dengan orang yang ditinggal (meninggal) atau cerai? Yang saya tangkap dari pembicaraan tadi adalah ada orang-orang yang memang jatah jodoh dengan orang itu Cuma segitu-gitu. Makanya dikatakan bahwa jodoh sejati adalah yang di dapatkan di akhirat. Jadi, masih pada pengen pacaran?

Perlu diketahui jua nih, seringkali ketika kita datang ke pernikahan cuma mendoakan biar langgeng sampe kakek-nenek. Tapi kita lupa bahwa kelanggengan itu harusnya bagaimana? Apakah nantinya bisa langgeng dalam ridho-Nya? Atau jangan-jangan langgeng sampe ke neraka? Kayak Abu Lahab dan istrinya yang kompak memusuhi Rasulullah, maka mereka juga bakal kompakan masuk neraka. Langgeng kan?

Kita pasti pengen membangun keluarga yang sakinah. Iya kan iya dong pasti kan pasti dong? Sakinah itu ternyata mempunyai empat (apa ya? Aduh, tadi nggak ditulis empat apaan. Empat fungsi mungkin ya):

  1. Menjaga iffah dengan kehadiran pasangan kita (terjada dari kemaksiatan dan kemungkaran)
  2. Membangun ikatan
  3. Membuat kecenderungan kepada pasangan kita
  4. Membuat tenteram

Lalu gimana sih tanda orang yang sudah siap untuk nikah? Ustadz Salim (apa Mbak Euis ya? Nggak valid nih si Cahya kalo bikin ulasan. Maaf ya….) mengatakan bahwa salah satu tanda siap menikah adalah ketika fase yang ada di dalam dirinya sudah mencapai fase obsesi, bukan lagi fase ekspektasi. Apa sih fase ekspektasi itu? Fase ekspektasi adalah ketika kita pengen nikah masih kepikiran, “Wah, kalo nikah nanti ada yang nyuciin baju, ada yang masakin, ada yang mijitin, dll.” Sedangkan fase obsesi adalah, “Nanti saya akan memperlakukan pasangan saya seperti ini, ini, ini.” Jadi, termasuk yang manakah, Saudara? 😀

Catatan buat ortu juga nih, jangan jadi wasit doang, ikutlah menggalau. Jadi kalo putra-putrinya belum ada calon, dibantu cari dong. Biasanya nih ortu tinggal bilang setuju-nggak setuju aja, tapi nggak bantuin nyari. Galau sendiri deh putra-putrinya. Huiks. Ortu juga jangan terkejut luar biasa gitu dong kalo putra-putrinya yang baru 20 tahun (bukannya ini udah biasa?) tiba-tiba ngomongin nikah. Kan ngomongin doang, nggak ada salahnya. Calon bisa di cari. Ini mah Cuma pembuka komunikasi biar ntar nggak kaget kalo tiba-tiba putra-putrinya bilang “Ma, Pa, ananda mau nikah sama fulan/a.” Lagian dengan begitu mungkin bisa ditularkan itu ilmu membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.

Terakhir dari Ustadz Salim, “Rumah tangga yang gersang bukan karena kekurangan cinta, tapi karena kekurangan ilmu untuk mengekspresikan cinta.

Pals, saya minta maaf kalo resume dari acara hari ini kurang mengena. Saya sadar benar sih kalo kacau banget susunannya. Tapi saya berusaha menyampaikan apa yang sudah saya catet. Kalo ketambahan saya minta maaf, kalo kurang saya juga minta maaf. Intinya adalah saya ingin berbagi ilmu bagi yang nggak bisa datang, baik yang alasannya karena lagi ada tugas lain atau pun yang emang jauh tempatnya. Ini karena kita bersaudara dan “tidak disebut beriman seseorang bila tidak mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri” (HR. Bukhari dan Muslim)

Well, semoga Allah memberikan hidayah-Nya pada kita agar kita mudah menerima kebaikan. Karena seperti yang kita tahu bahwa Allah memberikan hidayah pada yang dikehendaki-Nya, makanya kita nggak boleh putus meminta hidayah dari-Nya.

Akhir kata, wassalamu’alaykum warahmatullah 😀

^hikarihamzah^ yang minta doa biar bisa dapat beasiswa *nggak nyambung sama tema*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: