Welcome to my greeeeeny world :D

Ikhlas Tak Semudah Mengucapkannya

 

Bismillaah…

Sepanjang hidup saya, saya rasa saya merupakan orang paling tidak mudah ikhlas. Seperti saat saya tidak mendapatkan beasiswa. Hati saya seakan diiris dengan baling-bali helicopter yang masih berputar hingga akhirnya hati saya bila disusun sedemikian rupan pun tetap kehilangan banyak bagiannya. 

Sudah lama berselang setelah saya tahu saya gagal mendapat beasiswa. Berita itu bahkan membuat saya terisak di kelas Managemen Hewan Coba (saat UTS) dan kelas Kewirausahaan (saat kuis). Pun bila sekarang masih disinggung masalah beasiswa, persediaan air di kelenjar lakrimal saya secara otomatis mensekresikan air mata. Saya kesal. Kenapa lagi-lagi saya harus menangis?

Sebelum pengumuman nama-nama calon penerima beasiswa, saya sudah yakin mendapat beasiswa karena persyaratan yang diberikan sudah terpenuhi. Sayangnya, Allah berkehendak lain, mungkin ini juga salah saya yang terlalu takabur dan (sedikit) berharap pada selain Allah. Saya tiba-tiba dialihkan ke beasiswa lain yang saya sendiri belum tentu dapat—karena masih ada seleksi di yayasan—dan nominalnya hanya 57,14% dari beasiswa yang saya ajukan (PPA-BBM). Saya sempat (atau bahkan masih sangat) kesal pada teman saya yang mengajukan beasiswa ini. Akhirnya kami (saya dan dua orang teman saya) harus dialihkan dari PPA-BBM ke beasiswa yang tidak saya ketahui untuk diikutsertakan dalam seleksi. Setelah saya browsing di internet, makin kesal hati saya karena beasiswa itu tidak mensyaratkan IPK, sedangkan saya pantas mendapat beasiswa PPA. Itulah sebabnya beasiswa itu nominalnya jauh lebih sedikit dibanding PPA-BBM.

Selain karena teman-teman saya yang notabenenya kaya dan mampu bisa mendapat beasiswa tidak mampu, saya juga merasa sangat bersedih karena ibu saya berkali-kali menanyakan kapan uang beasiswa akan cair. Mengingat itu membuat saya hampir bersumpah-serapah, saya mengecewakan ibu saya lagi. Saya merasa sangat tidak berguna. Ibu sudah berkali-kali bilang tak apa, tapi mengingat kalimat tanya “Nduk, kapan beasiswa keluar?” dari bibir ibu saya, saya kembali terisak menahan sakit hati yang tak terperi.

Inilah yang saya benci, saya tidak bisa bersyukur atas apa yang saya dapat. Saya tidak bisa ikhlas pada apa yang belum saya dapat. Saya hanya bisa menangis, menanyakan kenapa nasib saya seperti ini. Menangis karena membayangkan saya harus mengeluarkan banyak biaya untuk KKN dan skripsi yang awalnya saya rencanakan akan menggunakan uang beasiswa.

Bilang saja saya berlebihan menanggapi semua ini, mungkin memang iya. Tapi beginilah adanya yang sedang saya rasakan. Kecewa, bingung, galau. Seorang kakak kelas pernah menyarankan pada saya untuk bersikap baik pada para staf—apalagi yang berhubungan dengan beasiswa, tak perlulah dia berkata seperti itu, saya selalu mencoba menyapa para staf, menganggukkan kepala dan tersenyum jika berpapasan karena beliau-beliau sudah saya anggap KELUARGA. Tapi sepertinya saya invisible. Beliau-beliau sepertinya tidak melihat saya. Bahkan ketika saya jalan berdua dengan kawan saya yang manis, yang ditanya hanya kawan saya, lagi-lagi saya menjadi Harry Potter yang sedang memakai jubahnya. Apa yang sudah saya lakukan? Senyum, sapa, salam, hampir selalu saya lakukan, bukan karena iming-iming beasiswa, tapi karena saya ingin menjalin silaturahim, tapi saya tetap invisible, dan saya hanya bisa menggigit bibir, berusaha menahan agar air mata tidak jatuh. Wajah saya terlalu buruk untuk dilihat atau mungkin walau sekedar dilirik. Akhirnya saya kembali tidak bisa ikhlas. Saya mengungkit apa yang sudah saya lakukan.

Kalau saya pernah ditanya niat atau tidak, maka silakan lihat bagaimana pontang-pantingnya saya dari Malang ke Surabaya pada hari dimana saya baru saja sampai di rumah. Begitukah disebut “tidak berniat untuk mendapat beasiswa”? Saya yang pontang-panting ke Rektorat demi beasiswa, saya yang dimarahi demi mendapat beasiswa, masih saja dipertanyakan niat saya hanya karena teman saya yang manis beritikad baik untuk mengambilkan form.

Kini saya harus kembali menata hati. Saya harus mengikhlaskan beasiswa yang lari dari genggaman saya ke genggaman orang lain. Kalau ditanya bagaimana sakitnya, mungkin lebih sakit ketimbang saya tahu orang yang saya kagumi suka dengan sahabat saya. Jauh. Jauh lebih sakit. Tidak bisa dibandingkan.

Saya pun harus tetap tersenyum, menyapa, dan menganggukkan kepala agar saya bisa menerima semuanya. Mendiamkan ‘keluarga’ cuma akan membuat saya teringat akan kegagalan saya. Saya toh sudah tidak akan bisa mendapat beasiswa PPA-BBM lagi, ini sudah semester akhir. Bukan itu modus saya. Saya tidak mau rizki saya dipersempit karena memutuskan tali silaturahim. Saya tidak mau ibadah saya tidak diterima. Saya tidak mau lulus dengan predikat ‘alumni yang bermuka masam karena dendam’. Bagaimana pun mereka pernah ada dalam kehidupan saya, membantu saya beradaptasi dengan lingkungan kampus.

Saya ingin berterima kasih pada Pak Rodi yang meskipun sekarang sudah pensiun tapi tak pernah saya lupa karena beliau sudah berkenan berkeliling kampus dan menawarkan beasiswa PPA pada saya selama 4 semester. Saya harap, Allah memberikan kemudahan pada Pak Rodi dan pada semua pihak yang telah membantu saya dan teman-teman.

Saya yakin, Allah sedang menyiapkan yang lebih indah bila saya bersyukur. Semoga tidak ada yang salah paham dengan curahan hati saya kali ini. Marilah kita menjadi keluarga yang baik, yang bisa melihat keluarganya ketika ada di dekatnya maupun tidak. Saya harus menata niat. Saya harus berniat karena Allah. Bukan yang lain.

 

^hikari_hamzah^ yang ingin jadi dokter

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: