Welcome to my greeeeeny world :D

Cinta di Tepi Ember

Mungkin bener kata orang-orang, cinta itu mengalahkan logika. Begitu juga yang Cahya sadari dari seorang gadis manis di sebelahnya. Belakangan tiba-tiba menyentuh-nyentuh jilbab Cahya sambil sesekali mencoba memakainya. Cahya cuma senyum-senyum, dia tau kalo cewek bernama Fanny itu sedang jatuh cinta. Awalnya Cahya sempat rada heran juga, selain karena baru kali ini temen sejak SMP-nya itu menjatuhkan hatinya pada seorang pemuda, Fanny juga memilih pemuda yang nggak biasa: seorang Ketua Remaja Masjid di kampung tempat kosnya.

“Pake aja, Fan,” Cahya menjawil lengan Fanny yang hanya menjawab dengan senyuman malu-malu ketika menyentuh jilbab berwarna kuning yang Cahya gantung di pintu lemari.

Sebenarnya Cahya agak bingung juga dengan pilihan Fanny. Seingat Cahya, Fanny pernah bilang kalo tipe idealnya nggak jauh-jauh dari Justin Bieber. Gaul abis. Bahkan Cahya sempat keselek waktu Fanny mengutarakan perasaannya kepada Mas Ketua Remas. Ini suatu yang langka. Cahya langsung menuliskan pada buku hariannya. Jangan salah, di buku harian itu isinya nggak cuma pengalaman Cahya, hampir semua pengalaman temannya di situ. Lumayan kalo nggak ada inspirasi, bisa dibuat bahan ledekan. Belum insyaf juga ternyata.

“Hari ini motif bajunya kotak-kotak warna coklat…”

Itu kata Fanny mengawali laporannya. Cahya sampe merasa bingung sendiri, kenapa harus laporan? Tapi yang dia tau, orang jatuh cinta emang gitu, kalo nggak ada yang diceritain jadi kurang seru. Cahya sendiri sih merasa laporan nggak perlu, nantinya malah teman kita lebih mengerti, jadi rancu siapa yang suka. Apa juga yang mau dilaporkan? Cahya yakin belum pernah jatuh cinta. Kalo kagum doang sih pernah, ungkap Cahya waktu itu ketika diwawancarai crew mading kampus buat artikel seputar jombloers.

“Aku mau pake kerudung.”

Fanny mengatakannya dengan wajah penuh binar, wajah yang menampakkan keinginan luar biasa. Kalo misalnya tampil di tipi, nanti bakal ada efek kembang-kembang sekaligus sparkling di sekitar wajah Fanny. Cahya menutup mulutnya dengan sapu lidi lalu terbatuk-batuk karena baru sadar kalo sapu lidi tersebut baru dibuat nyapu eek ayam sama ibu kos (jangan tanyakan gimana sapu itu tiba-tiba bisa di tangan Cahya, penulisnya pun bingung). Cahya segera cuci wajah dan Fanny mengikuti di belakang, menjelaskan secara detil apa saja yang akan dibelinya. Kerudung, baju lengan panjang, rok panjang (karena kata Fanny yang sudah menyewa intel, Mas Ketua Remas itu suka sama cewek feminin), bahkan sepatu yang ada kembang-kembangnya.

Nggak ada yang bisa Cahya lakukan selain mengangguk buat mengiyakan ide sahabatnya yang menurut Cahya agak membingungkan. Jadi, Fanny pengen berkerudung karena siapa? Allah kah? Atau demi mendapatkan Ketua Remas yang hobi pake sarung itu?

“Apa sih yang menarik dari dia, Fan?” tanya Cahya. Selama ini Fanny emang belum pernah dengan jelas memberikan penjelasan kenapa dia bisa suka sama seseorang yang bahkan nggak masuk kategori idealnya.

“Kharismanya.”

Cahya ber-ooo panjang. Belum ngeh dengan kharisma seseorang yang yang muda. Bagi Cahya, orang yang kharismatik itu kayak dosen-dosen klinik, dosen-dosen di kesehatan masyarakat, juga dosen-dosen virologi. Semuanya kharismatik. Makanya kalo kuliah untuk mata kuliah dari departemen di atas, Cahya usahakan datang, meskipun telat. Hah, tetap nggak insyaf juga.

“Dia suka cewek yang berkerudung, Ca.”

Oke, di sini Cahya mulai tau, mulai mengerti kalo sedikit banyak si cowok itu membuat Fanny menyatakan ingin berkerudung. Cahya mengerutkan kening, sebegitukah cinta telah berbuat? Cahya belum mengerti, lalu kemudian mengingat sebuah pepatah, from zero to hero. Begitulah yang ada di hadapannya. Fanny yang sedang jatuh cinta dan seorang pemuda yang dicintainya mengubahnya secara tidak langsung.

^^^^

Cahya mengendap-endap ke kosan. Yes, ibu kos nggak ada. Siiip! Cahya menaiki tangga ke lantai atas. Mencopot sneaker bolongnya, lalu bersenandung lirih merogoh saku mencari kunci kamar.

“Cahya… belum bayar kosan…”

Cahya langsung tiarap, seakan barusan ditembaki pake laras panjang. Lalu dengan tangan yang masih di atas kepala, Cahya merasakan ada aura aneh di sekitarnya. Benar saja, ibu kos sudah berdiri di sampingnya sambil membawa buku pembayaran. Cahya meringis, mengeluarkan dompet, lalu mengeluarkan beberapa lembar ratusan ribu. Huh. Ludes. Ibu kos tertawa senang lalu kembali ke habitatnya.

Belum sempat say good bye dengan elite pada uangnya, Cahya sudah mendapati Fanny ada di dekatnya. Gadis manis itu makin terlihat cantik dengan busananya yang sekarang. Tapi apa tuh? Sanggul? Kok di dalam kerudungnya dia pake sanggul? Cahya berdecak-decak kagum atas keluguan yang melekat pada dirinya sendiri.

“Cantiiiiik…” pemilik hamster bernama Muniroh itu memandangi kawan baiknya dengan cermat. Memeriksa tiap inci pakaian yang melekat padanya. Gamis model baru yang mulai menjamur di tambah kerudung yang belakangnya kayak sanggul. Terlihat cocok buat Fanny. Cahya kembali berdecak kagum, kali ini kagum karena dia masih mempertahankan budaya jadulnya. Di rumah aja hobinya Cahya pake baju olahraga SMP yang masih muat. Jadi kalo ada mode-mode kayak gini, Cahya masih belum bisa mengimplementasikannya. Orang udik tulen.

Fanny segera menarik Cahya ke kamanya, memamerkan pakaian-pakaian yang baru dibelinya. Feminin sekaliiii. Tentu saja Cahya nggak mudeng. Fanny salah orang. Harusnya dia minta tolong sama anak kamar depan, bukan Cahya yang buta mode. Tapi, Fanny masih saja bersemangat buat menjelaskan mana-mana yang harus dipasangkan. Ikat pinggang yang ini harus dipasangkan dengan baju yang itu. Sepatu yang ini bagusnya dengan yang itu. Fanny benar-benar bersemangat, sedangkan Cahya tersenyum. Nggak ngerti.

“Ajarin aku bikin puisi dong, Cinta…” kata Fanny setelah puas menjelaskan perihal busananya.

Puisi? Wah, jelas Cahya cuma bisa melongo. Kalo soal ngecat tembok dia bisa, tapi kalo bikin puisi mah bukan bidangnya. Nulis buku harian dan bikin puisi itu beda jalur. Maka sebagai orang yang sadar diri, Cahya menolak. Kemudian dia melihat Fanny cemberut. Cahya nggak bisa apa-apa kecuali… aha! (iklan banget ya?) Cahya inget ada perkumpulan pecinta puisi dan cerpen. Fanny segera menyalakan laptop, mengetikkan alamat yang diberikan Cahya, membuka puisi-puisi yang bagus, lalu segera mendaftar, mencari kenalan, dan minta ajari.

^^^^

Cahya merasa bersalah. Apa dengan begini dia mendukung Fanny buat seenaknya menggebet orang ya? Apalagi ini yang digebet Ketua Remas. Ya untung aja sih, daripada nggebet dokter muda yang juga lagi dikaguminya. Hus. Hus. Nggak boleh curhat, kata Cahya dalam hati.

Cahya ingat waktu pertama kali Fanny pakai kerudung ke kampus. Semua mata tertuju padanya. Cantik, pasti. Manis, tentu aja. Menggemaskan, itu sih Si Poci—kucing gendut yang hobinya makan sama tidur terus; mirip sama Cahya kalo lagi liburan. Bahkan Aris yang udah punya gebetan pun akhirnya memutuskan buat menggebet Fanny. Hal itu disampaikan pada Cahya sejam setelah mereka kenalan. Aris adalah kakak kelas yang hampir lulus. Karena tau kalo Cahya nempel mulu sama Fanny di kampus, maka Aris memutuskan buat kenalan sama Cahya buat ngedeketin Fanny. Cahya yang udah mengendus itikad kurang baik dari Aris segera menanyakan secara vulgar.

“Mas suka sama Fanny ya?”

Aris keder. Cahya malah bilang kalo dia bisa baca pikiran orang. Dia titisan Edward Cullen yang memilih untuk transgender. Tapi kemudian Aris malah bersemangat, ya itu tadi, setelah sejam mereka kenalan, Aris curhat ke Cahya kalo dia suka Fanny. Nggak ada pilihan lain juga. Mau nggak bilang juga Cahya udah tau. Dia kan bisa baca pikiran orang, kata Aris. Sangat cerdas!

Cahya menggeleng-gelengkan kepalanya ketika Aris mengajaknya untuk berkoalisi, mendukungnya jadian dengan Fanny. Gerah Cahya dibuatnya, apa nggak liat kalo Cahya berkerudung seukuran taplak meja? Lalu dengan tampang cueknya Cahya bilang kalo dia siap jadi comblang asalkan Aris mau mendengarkan kalimat yang akan Cahya ucapkan. Aris mengangguk dan Cahya mengatakan:

“Audzubillaahi minasysyaitaanirrajiim… Bismillaahirrahmaanirrahiim… Maaf, Mas, saya anak SKI. Nggak pake pacaran-pacaran. Langsung nikah.”

Aris bingung, lalu menjawab, “Lho, saya kan nggak ngajakin kamu pacaran. Saya pengen pacaran sama Fanny.”

Cahya berpikir sejenak, trus mengangguk-anggukkan kepala. Iya juga, begitu katanya. Tapi kemudian Cahya sadar dan bilang, “Tapi saya nggak suka nyomblangin orang, Mas. Saya nggak mau ikutan kecipratan dosa. Lagian saya juga belum punya pacar, kenapa saya mikirin orang lain?”

Aris garuk-garuk kepala, nggak tau mesti ngomong apa. Namun akhirnya dia bilang kalo Cahya bakal dikenalin sama temennya yang juga lagi nyari pacar berkerudung. Cahya menggeleng sambil bilang dia nggak pacaran sebelum menikah. Aris masih keukeuh menawari macam-macam ke Cahya. Titisan Edward Cullen itu bangkit dari duduknya.

“Haduh, Mas, cerpen ini kan ceritanya tentang Fanny sama Ketua Remas itu!” Cahya melangkah pergi smabil berkomat-kamit nggak jelas.

Aris tersadar dan melangkah dengan gontai, “Lain kali aku harus bilang ke penulisnya buat nulis tentang aku.”

^^^^^

Ini pertama kalinya Cahya liat wajah Ketua Remas itu. Lubang hidungnya ada dua! Cahya mengacungkan jempol tanpa sadar hingga tukang becak di depannya menawari naik becak karena dikiranya Cahya sedang ingin naik becak. Cahya buru-buru minta maaf, lalu berlari ke dalam kos. Mengaduk-aduk ember yang ada di tempat cucian. Ketika Fanny menanyainya sedang mencari apa, Cahya langsung bilang dia nyari Fanny, barangkali Fanni lagi nyungsep di cucian karena pujaan hatinya lagi lewat di depan kos.

Aneh. Wajah Fanny bahkan tampak nggak bahagia waktu Cahya menyebutkan nama Ketua Remas itu di depannya. Nggak berubah juga waktu Cahya sengaja melambat-lambatkan pelafalan nama Si Ketua Remas. Ada yang janggal. Jelas. Apa Fanny udah nemu yang lain di dunia maya? Di perkumpulan penyair itu? Cahya jadi garuk-garuk kepalanya yang nggak gatal, Cahya udah pake sampo antikutu, udah di-dipping juga di kolam pembasmi ketombe. Tapi keinginannya untuk garuk-garuk kepala ketika fanny beralih ke tempat cuci baju, duduk di bangku kecil, dan mulai mengucek pakaiannya.

“Aku salah,” ujar Fanny tanpa memandang Cahya.

“Aku… baru dari pengajian,” tambahnya.

Cahya mendekat ke arah Fanny, berjongkok dan menempel ke tembok yang dibelakangi Fanny. Wajahnya masih memperlihatkan kebingungan. Kentara sekali karena kini Cahya malah ikut mencuci baju yang direndamnya tadi sebelum kuliah. Bagi Cahya, saat galau adalah saat yang tepat untuk mencuci. Dan seperti yang diketahui oleh semua member kosan, Cahya orang yang paling mudah galau, apalagi ketika tau kalo Muniroh itu jantan. Waktu namanya diganti jadi Munir, hamster itu nggak mau nurut, terpaksa namanya tetep Muniroh. Sejak itulah intensitas kegalauan Cahya meningkat. Ah, ayo kita kembali ke cerita.

“Niatku salah, Ca. Bisa-bisanya aku berniat pake kerudung karena seorang cowok.”

Nah!

“Tapi aku bersyukur Allah langsung menegurku…”

Cahya diam, menunggu penjelasan selanjutnya. Muniroh bangun dari tidurnya, sesekali menengok ke arah tempat cuci baju, melihat tuannya galau.

“Dia nikah, Ca…”

Seketika langit mendung, hujan turun dengan derasnya, kilat menyambar-nyambar, dan itu semua hal yang mungkin akan terjadi kalo cerita ini dijadikan film. Tapi yang ada langit tetap cerah dan air kran belum juga keluar dengan lancar, Cahya melanjutkan mengucek pakaian dengan kuping tegak siap mendengarkan kelanjutan kisah Remaja Masjid yang sudah menikah. Namun sepertinya Fanny nggak ada niat untuk melanjutkan ceritanya.

“Kapan?” tanya Cahya nggak sabar.

“Beberapa minggu sebelum aku suka sama dia.”

“Ooo…”

“Aku melirik suami orang, Ca! Huaaaaaa!”

Nggak ada lagi suara kucek-kucek di kubu Fanny, air matanya meleleh dan berkali-kali menetes di ember. Cahya bingung karena tiba-tiba air di kran keluar dengan deras, menyiprat ke sana-sini, sedangkan roknya basah dan wajah Fanny juga basah. Dia bingung harus menyelamatkan yang mana dulu.

“Cup… cup… cup…”

“Bayangkan, Ca… Aku berkerudung demi dilihat seseorang yang sudah beristri! Aku keterlaluan! Aku sia-sia menyewa intel itu! Sia-sia sudah aku mengeluarkan uang banyak demi orang yang sudah menikah! Demi suami orang, Ca!”

“Tapi kan kamu juga nggak tau kalo Mas Faiz sudah nikah.”

“Harusnya aku jaga pandangan, Ca!”

Cahya terlonjak saking kagetnya. Ini pertama kalinya sejak SMP Fanny berteriak sekencang itu. Muniroh sampai buru-buru ke lorong transparan untuk naik ke lantai atas. Muniroh sampai lupa kalo kandangnya dilengkapi tangga. Muniroh sampai kehilangan keinginannya buat mengawini tetangganya di depan kamar—Shanti yang berbulu kecoklatan dengan mata sayu dan bulu mata lentik.

“Belum jodoh mungkin, Fan… Insya Allah ada yang lebih baik…”

Muniroh pun kembali tenang setelah mendengar suara tuannya.

^^^^^

Cahya buru-buru melepas sepatunya, bukan karena ibu kos menenteng buku pembayaran, bukan juga karena anak ibu kos lagi mau ngajakin Cahya buat besanan—ngawinin Muniroh sama Jeniffer (tentu aja Muniroh nggak mau karena udah fall in love berat sama Shanti yang ternyata udah nggak dalam siklus mau dikawinin lagi. Kasian Muniroh.)

“Fan, Fan, gut nyus, gut nyus!”

Fanny yang lagi setrika baju memandang Cahya dengan tatapan heran. Jam segini Cahya nggak akan mungkin berwajah senang. Menurut pengalaman yang sudah dicatat Fanny dalam bukunya “The Most Unpredictable Person”, Cahya hanya akan terlihat bahagia jam segini waktu nemu uang lima ribuan di dalem kantong jaket dan tentu saja itu jarang sekali terjadi.

“Yang nikah itu Mas Faris, bukan Mas Faiz. Mas Faiz masih available lho…”

“Trus?”

“Eh?”

“Aku pengen melabuhkan hatiku pada yang pasti, Ca. Aku mau memperbaiki niat.”

Cahya melongo. Kata-kata itu yang sering dicamkannya dalam hati dan beberapa detik yang lalu dia bahkan membuat seorang gadis pemilik prinsip yang sama dengannya hampir memikirkan yang belum pasti. Cahya segera terduduk di depan kamar Fanny, sejenak menenangkan dirinya. Kemudian minta maaf dan berlalu pergi. Muniroh melihat Cahya dengan heran, sesekali mendekati tempat minum, lalu mencari perhatian, sayangnya Cahya sedang nggak ingin diganggu. Muniroh makin autis, dia nyelip-nyelip di antara roda mainannya dan jeruji kandang. Mau nggak mau Cahya jadi kasian. Setelah dilihat ternyata Muniroh kehabisan air minum, makanya dari tadi entah kenapa pipinya yang gembil jadi hilang (menurut Cahya).

Setelahnya Cahya melangkah gontai ke tempat cuci baju. Ditelusurinya tepi ember dengan jari telunjuk. Cahya berpikir, sejauh apa pun melangkah, pada akhirnya jodohnya adalah di tempat awal dia melangkah. Kembali ke situ lagi. Dan tetap kembali ke situ lagi.

“Hh… Yeobo…”

^^^^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: