Welcome to my greeeeeny world :D

Lalu Harus Bagaimana?

Assalamu’alaykum 😀

Holaaaaaa, seperti biasanya, saya mau cerita-cerita tentang pengalaman saya.

Hari ini, 07 Oktober 2012, saya baru saja pulang dari diklat atau biasa disebut LDKM BDI di Smanela. Berhubung saya harus segera balik ke Surabaya, saya pulang jam setengah lima pagi dan langsung naik kereta Penataran pukul 04.55. Sesuai dugaan saya, saya beneran dapat tiket berdiri. Langsung lemes deh karena semalaman nggak tidur dan membayangkan harus berdiri sampe Gubeng. Alhamdulillah karena kemudian ada ibu-ibu yang nggak dapat tempat duduk juga disuruh pindah sama kondekturnya, jadi saya bisa mengikuti jejak ibu tersebut untuk pindah ke gerbong paling belakang yang memang disiapkan untuk penumpang dengan tiket berdiri.

Lalu apa yang mau saya ceritakan kali ini? Well, setelah saya menikmati tidur saya yang tertunda, ketika bangun saya mendengar percakapan penumpang kereta yang duduk di sebelah saya. Mereka membicarakan KTB. Saya agak kaget dengar kalau KTB mau dihapus (nggak apdet banget kan saya?). Nah, terus yang terbiasa PP naik kereta gimana dong? Kasian kan ya karena sekarang tiket kereta dibatasi. Naik alat transportasi lainnya? Menurut saya kurang efektif karena sesuai dengan pengalaman lebaran kemaren ini, jalan macet banget karena keterbatasan tiket kereta. Malang yang biasanya H+3 sudah sepi malah macet begitu. Balik ke masalah KTB tadi, saya memang nggak tau benar sih, tapi kalau saya boleh bilang, kebijakan seperti itu harusnya disertai solusi yang tepat juga. Saya juga sempat dengar kalau salah satu stasiun di Malang ketika hari Minggu tidak menerima KTB, jadi yang sudah bayar KTB untuk sebulan tetap aja harus beli tiket, padahal kan sebulan itu harusnya langganan kan ya? Akhirnya si penumpang tadi bilang jarang naik kereta kalo hari Minggu, habisnya sering kehabisan tiket juga. Mmm… saya nggak tau sih alasannya kenapa stasiun itu nggak menerima KTB waktu hari minggu (stasiun lain mau-mau aja nerima soalnya), tapi saya rasa nggak adil juga kalo KTB nggak berlaku. Udah bayar.

Beda harga tiket kereta sama bus emang jauh sih, tiket kereta dari Malang ke Surabaya seharga empat ribu rupiah sedangkan bus bisa lebih dari sepuluh ribu rupiah, kalo patas dua puluh ribu, belum lagi kalo saya kan mesti naik bus kota dulu, jadi makin mahal. Dengan begitu, naik kereta memang kadang menjadi pilihan kalo lagi bokek berat. Tapi, saya juga sering nggak kebagian tiket pagi, kadang pengennya naik yang pagi tapi udah habis, atau kalau nggak begitu maka saya dapat tiket berdiri, padahal ngantrinya udah pagi banget. Saya belum pernah nyoba beli tiket lewar mart gitu, ya kapan-kapan deh saya tanya kalo lagi belanja. Hehehe.

Kalau boleh dibilang, system transportasi di Indonesia emang kacau. Semakin hari semakin semrawut, banyak yang nggak sabaran nunggu lampu merah, main diterobos aja, trus kecelakaan dan mati di tempat. Makanya waktu ada kebijakan baru tentang kereta api, banyak yang akhirnya memutuskan naik motor dan tentu saja jalanan makin macet. Gimana nggak? Sekeluarga KADANG punya mobil lebih dari dua dan semuanya dipakai keluar. Bapak, ibu, anak, semua bawa mobil sendiri-sendiri. Okelah, semua punya hak untuk menyamankan dirinya. Tapi ya sudah jangan mengeluh ketika macet di mana-mana. Motor juga begitu, anak-anak yang masih di bawah umur kadang main pake motor aja seenaknya sendiri. Seinget saya, anak SMP tuh harusnya belum punya SIM, tapi nggak jarang saya lihat anak SMP udah mengemudikan motor ke sekolah.

Orang mungkin berpikir saya ngiri atau apa karena nggak bisa punya mobil seperti mereka. Kadang saya juga pengen sih ke mana-mana ada yang nganter, nggak usah naik angkot, tapi saya lebih sering mikir, kalau aja semua orang sadar atas kewajibannya menjaga bumi ini. Setidaknya tidak banyak membuat polusi lah, nggak banyak bikin macet juga. Menurut saya, pemerintah perlu lebih tegas dalam segala hal, termasuk yang ini. Gimana kalau nambah armada bus yang beroperasi? Susah juga sih, karena kebanyakan dari pihak swasta. Trus juga pasti banyak protes karena supir angkot bisa kehilangan pekerjaan karena lebih dominan ke bus kotanya. Aaaaaaah… saya mikirnya aja sumpek sendiri. Kalau ditanyain ingin mulai dari mana, saya juga bingung. Setidaknya sekarang saya masih menjadi penumpang angkot yang setia.

Segitu dulu deh, saya Cuma menyampaikan OPINI saya yang lagi-lagi bergejolak di kepala. Soalnya waktu saya baca postingan orang lain dan baca komen-komennya, emang banyak yang tidak terpikir oleh saya, termasuk alasan-alasan kenapa KTB mau dihapuskan. Ya pada akhirnya saya Cuma bisa bilang, TOLONG, BUDAYAKAN JUJUR DAN TERTIB… (untuk saya juga!)

Insya Allah kita ketemu lagi di bahasan lainnya ya J

Terima kasih dan wassalamu’alaikum 😀

^Hikari Hamzah yang harus belajar lagi tentang Fowl Cholera =.=’^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: