Welcome to my greeeeeny world :D

Assalamu’alaykum 🙂

Cahya’s hereeeee~ ♥

Sebelumnya, saya mau memberi senyum dulu 🙂

Well, sekarang… 28 November ya? Berarti saya sudah hampir 3 hari menjadi seorang berumur 22 tahun. Udah tuaaaaa… Pun masih belum semua yang saya cita-citakan tercapai. Saya belum bisa jadi penulis, belum bisa jadi dokter, belum menjadi aktivis dakwah yang militan. Mmmm… Masih banyak bangeeeeet…

Saya mau mengucapkan terima kasih dulu deh. Alhamdulillaah… Segala terima kasih dan syukur selalu untuk Allah yang memberikan kesempatan bagi saya—yang bandel ini, untuk Rasulullah yang selalu mencintai umatnya, untuk ibunda tercinta yang saya rindukan belaian tangannya, untuk ayahanda yang juga saya rindukan gambaran indahnya, untuk seluruh keluarga Hamzah yang sangat berarti untuk saya, untuk sahabat-sahabat yang menjadi supporter hebat ketika saya menghadapi hal-hal sulit, untuk semua yang menyayangi saya (bisa dihitung pake jari sih). Terima kasiiiiiih. Tanpa kalian saya mungkin tak akan bisa seperti sekarang. Well, mungkin saya memang belum menjadi orang hebat, tapi saya akan berusaha kok 🙂

Berbicara soal teguran, saya merasa berkali-kali ditegur oleh Allah. Di saat yang heboh dengan keinginan saya untuk kuliah di kedokteran umum, hati saya serasa berlubang oleh pembicaraan kemarin sore dengan pegawai pom bensin.

Kemarin, 26 November 2012, hari ulang tahun saya *gak penting? Bodo amat :D* dialog itu terjadi tanpa saya duga. Sore itu saya memang berencana ke Mulyosari karena ada yang ingin saya beli, tapi bensin saya tidak mencukupi, maka sebelum berangkat ke Mulyosari, saya pergi ke pom bensin untuk memberi minum Si Saphire. Sebelum saya capcus, pertanyaan itu mampir ke telinga saya.

“Kuliah ya, Mbak?”

“He’eh,” jawab saya sambil tersenyum.

“Enak, ya, Mbak, bisa kuliah,” Mas itu memperhatikan saya yang menutup perut Saphire.

“Masnya juga kuliah…” saya mengucapkannya dengan nada member semangat.

“Pengen sih, Mbak. Tapi biayane itu lho, gak ada.”

DEG!

“Insya Allah, insya Allah nanti masnya juga kuliah, insya Allah.”

Saya langsung pergi, takut air mata ini jatuh dan dilihat masnya. Pada kalimat terakhir yang diucapkan Masnya, dia tersenyum getir. Saya nggak bohong. Tenggorokan saya langsung sakit. Sedih. Ada dua yang membuat saya merasa sangat bersedih. Pertama karena saya selama ini tidak bersyukur dengan keadaan saya, saya bisa kuliah tanpa harus memikirkan biaya masuk dan tiap semesternya. Kedua karena ternyata begitu banyaknya orang ingin merasakan bangku kuliah, tapi seringkali saya nakalnya minta ampun, kadang kurang memperhatikan, suka telat (ya walaupun nggak parah-parah banget, nggak melebihi yang di kontrak kuliah).

Saya masih bisa tengah malam begini menulis apa yang saya rasakan, tapi mungkin di luar sana banyak yang tengah malam begini masih mencari uang demi keinginan kuliah. Saya masih bisa tidur dengan perut kenyang, tapi banyak yang di luar sana tidur dengan perut keroncongan, saya bisa seenaknya mendengarkan lagu-lagu galau sedangkan saudara kita di Palestina sana meneriakkan asma Allah karena hidupnya bisa berakhir kapan pun (sadar atau tidak, kita sebenarnya juga seperti itu, tapi kelapangan ini membuat kita lalai).

Kawan, saya nggak mengelak kalau dibilang lebay, alay, peres, atau apalah. Mungkin memang saya terlalu parno dalam menghadapi hidup. Saya nggak bisa santai. Tapi beneran lho, kadang santainya kita itu bisa melalaikan, bisa menumpulkan kepedulian. Ini ciyus lho! Ciyus!

Yaaaa… kesimpulannya sih, tahun ini saya merasa banyak dapat teguran dari Allah… Teguran itu pertanda kasih sayang, kalau nggak ditegur malah nggak memperbaiki diri. Mungkin juga bukan teguran sih, ge-er sakarepa dewe mungkin, tapi bukankah kita bisa menangkap pelajaran pada setiap momen? Iqra! Bacalah! Bukan hanya membaca tulisan, tapi bacalah keadaan di sekitar kita.

Itu saja sih… Tahun ini memang banyak air mata, tapi semoga ini bisa menjadi penyelamat saya. Terima kasih karena sudah mau membaca curhat colongan saya. Hahahahaha *pasang muka badak*

Wassalam 🙂

^hikari hamzah yang makin tua :D^

Advertisements

Comments on: "Teguran Itu Bisa Hadir di Segala Tempat" (2)

  1. iy, sering juga ngalamin kayak gitu pas di kereta..byk yg mampu kuliah, tapi kuliahnya seenaknya, telat lah, titip absen lah..sementara di sisi lain, byk yg pgn kuliah tapi terbentur dana..smoga kita yg diberi kenikmatan untuk mengenyam pendidikan lebih tinggi dibanding sebagian sodara2 kita yg lain, bisa mensyukuri nikmat tsb dgn cara kuliah sebaik2nya, kemudian memberi karya nyata bagi ummat (bukan cuma jadi ahli demo, atau nongkrong di acara talkshow di TV sebagai penonton)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: