Welcome to my greeeeeny world :D

Bismillaah…

Assalamu’alaykum…

Holaaaaaa! 🙂 Saya lagiiiii… Cahya lagi… Hikari Hamzah lagi… Dan saya bukan mas-mas lagi… *obat, obat, mana obaaaaaaat?

First, biarkan saya menyanyikan lagu…

                        “Hanya satu pintaku tuk memandang langit biru dalam dekap seorang ibu~~”

Sebelum membaca, siapkan kertas tissue! Sudah? Kalau nggak punya, bisa kok nanti ngusap ingus pakai lengan baju 🙂love-mom

IBU-MOM-UMMU-UMMA

Bukankah maksudnya sama? Tertuju untuk wanita di sana, yang pengorbanannya tiada tara, yang hatinya sering menderita, yang air matanya sering tersita, yang pandangannya sering mengabur akibat kabut di mata, yang kemudian mengelus kepala kita meski tak diminta.

Saya memanggil beliau “ibu”, meski peran ayah juga beliau sandang dengan sangat baik *aduh, mulai burem nih mata*. Bilang saja ibu dan saya seperti dua mata uang yang meski bertolak belakang (ibu:saya, feminine:tomboy, tegar:cengeng, cantik:kurang cantik *tapi saya sangat bersyukur kok, jangan memvonis saya tidak bersyukur*, teratur makan:jadwal makan terserah, dll, dll), tapi kami saling melengkapi.

Ibu adalah pahlawan dalam hidup saya. Beda pendapat pasti ada, namanya juga kepala punya sendiri-sendiri, apalagi kalau sudah tentang selera, byuuuuuuh, bedanya jauuuuuuh. Saya suka yang unyu-unyu, ibu saya suka yang macho. Makanya, ketika saya bilang ayah saya tidak tampan, ibu menolak keras, kata ibu ayah adalah cowok paling ganteng dibanding yang lain. Saya tidak setuju meski akhirnya mengangguk agar tidak dikutuk jadi lemur walaupun lemur adalah binatang lucu.

Saya dan ibu sama-sama keukeuh dalam berpendapat, saya suka sekali dengan yang simple, ibu suka yang elegan. Jadi ketika beli tas atau sepatu, saya selalu nggak ngerti apa yang bagus dari pilihan ibu. Well, ibu suka pakai pantofel, saya suka pakai sneaker. Saya suka warna hijau, ibu suka warna ungu. Tapi hijau dan ungu punya kesamaan, sama-sama warna terong, dan bisa dibikin pelengkap tempe penyet.

Saya memang hidup selama belasan tahun tanpa ayah, tapi ibu menjadi dua sosok yang sangat baik. Kadang saya merasa sebal ketika ibu suka elus-elus kepala adik sepupu saya, cemburu itu sangat mendominasi, mungkin karena saya merasa hanya punya ibu. Mungkin karena merasa bahwa pertemuan saya dengan ibu sangat sebentar dan kalau saya pulang saya ingin sekali meringkuk dengan kepala di pangkuan ibu *waaaaah, tissue, tissue!

Membicarakan ibu, saya sering bertanya-tanya, kapan ya saya bisa membuat beliau bahagia? Kadang ingat bahwa sepupu-sepupu saya berprestasi, cantik, pintar, dan punya pacar. Well, untuk yang terakhir, saya mungkin akan menggantinya dengan “suami” bagi diri saya sendiri. Dulu, ibu menolak keras dengan prinsip saya untuk tidak pacaran. Tapi lama-kelamaan mungkin bosan mengingatkan dan Cuma geleng-geleng kepala karena saya keukeuh nggak mau pacaran sebelum akad. Mmm…

Kadang ketika saya mikir untuk kuliah ke luar negeri, saya bingung harus bagaimana. Saya ingin sekali ke luar negeri dengan beasiswa yang saya kantongi (nanti kalau Allah berkehendak), tapi memikirkan apakah ibu ridho kalau saya pergi, semua impian saya seperti lenyap dan puff… meletus begitu saja. Saya satu-satunya putri ibu dan ibu satu-satunya orang tua saya, bagaimana bisa saya meninggalkan ibu begitu saja? Ibu mungkin bisa hidup tanpa saya, tapi saya tak akan bisa. Saya ingat percakapan itu.

            “Nduk, nanti ibu aja yang meninggal duluan,” kata ibu sambil leyehan di depan TV.

“Emoh, aku aja yang meninggal duluan, Buk,”

“Yowes, meninggal bareng aja ya, Nduk?”

Mengingat kejadian itu, saya jadi sadar betapa bandelnya saya. Keukeuh dalam mewujudkan keinginan masuk kedokteran dan kuliah di luar negeri itu adalah salah satu keegoisan yang sangat mendominasi hidup saya. Kok saya nggak bisa nurut kayak orang lain ya? Tapi meski sadar begitu, saya tetap ngeyel. Karena bagi saya, dua impian itu tanda cinta saya pada ibu. Jangan tanya, tentu saja saya ingin member hadiah naik haji, tapi untuk membuat ibu bahagia dengan prestasi saya, saya ingin jadi dokter, kuliah dengan bekal yang saya dapat.

I’m everything I am because you loved me, Mom… (Because you loved me by Celine Dion dengan sedikit tambahan ‘Mom’ di akhirnya)

Selamat hari ibu, Ibuku… :’)

Aku sayang ibu… :’)

Wassalam 🙂

^Hikari Hamzah yang insya Allah juga calon ibu^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: