Welcome to my greeeeeny world :D

Ini sebuah kisah beberapa hari lalu ketika kami para member kosan—yang lama maupun yang baru—berniat mengerjai salah satu member yang lagi ultah. Sebenarnya, persiapan rencana itu sudah cukup oke. Ya cuma bingung aja gimana ntar teknisnya.

Well, mari kita perkenalkan yang yang lagi ultah. Sebut saja namanya Fara *takut digetok kalo pake nama asli*. Dia ini tak lain dan tak bukan adalah sepupu saya yang belakangan mengaku mengalami penurunan daya pikir. Jadi rada nggak ngeh gitu kalo diajak ngomong. Lalu, di kubu yang mau ngerjain, ada saya, Hanna—tetangga depan kamar, Hanu—tetangga belakang kamar, Elen—sahabat si korban, Laila—yang lagi kasmaran, dan Nastiti—yang ngilang waktu kejadian.

Baik, mari kita mulai saja ceritanya. Siang hingga sore hari itu hujan deras tak kunjung berhenti. Saya udah bête setengah mati karena rencana yang kami susun bersama terancam bakal gagal. Padahal rencana itu sudah disusun berdasarkan konsep KB (Keluarga Badung) yang sangat sempurna. Hanya tinggal mengerjakannya saja. Tapi apalah artinya jika hujan tak kunjung berhenti sehingga menambah perih di hati akibat efek skripsi.

Saya dan Hanna akhirnya menyiapkan diri, sewaktu-waktu bila langit tak menangis lagi maka kami akan segera capcussss menuju sebuah toko yang menjual tart dan lilin (dan sepertinya tidak perlu kemenyan). Doa saya segera terkabul, hujan ternyata tak tega membiarkan kami merana, tersiksa, maupun menderita. Akhirnya, Sodara-sodara, kami langsung pergi ke tempat tujuan. Meskipun agak bête karena Hanu sempat ngegodain dengan tanya, “Mau beli apaan sih, Mbak?” Itu jelas membuat rencana kami hampir bugil! Udah dipelototin malah ketawa-ketawa lagi ==”

Di sanalah kami berada, di sudut toko sambil memilih enaknya beli yang mana. Mau yang itu, tapi kok biasanya Si Korban suka banget yang ada cherry atau yang ada kembangnya. Ya sudah, saya memilih dengan insting calon dokter hewan yang saya punya. Ngahahaha. Belum selesai sampai di situ, kami masih harus berburu lilin. Nah ini, lilin yang kami temui nggak ada yang cocok. Semuanya angka ataupun  lilin untuk meja yang gede-gede itu. Jelas, nggak akan cocok kalo ditaruh di atas kue. Maka akhirnya saya milih angka 9 karena Si Korban lahir pada tanggal sembilan.

Selesai sudah tugas berburu kue dan lilin, maka sekarang kami harus kembali ke kos untuk bertemu pasukan yang lain. Dengan hati dag-dig-dug, saya berencana untuk beli makanan yang lain agar tidak dicurigai, apalagi Si Korban hari itu demen banget ngendon di depan tipi. Kalo kami datang dengan tangan kosong, pasti Si Korban akan curiga. Saya yakin itu.

Sampai di kosan, saya langsung mengendap-endap layaknya kucing jantan yang habis selingkuh takut ketauan kucing betinanya. Oke, sip! Si Korban ternyata nggak ada di depan tipi (padahal udah sampe nitip kuenya ke anak lantai bawah). Cincay! Marilah beraksi.

Rencananya, kami akan menakut-nakuti Si Korban dengan berkostum ala makhluk dunia lain yang sering ada di pilem-pilem horror itu. Dari sekian banyak pasukan, saya lah yang terpilih menjadi “hantu jemuran”. Masalahnya, saya nggak punya kostum putih panjang selain mukena, maka saya diwajibkan memakai mukena. Untuk menambah kesan seram, maka lampu di depan, samping, dan belakang kamar korban dimatikan. Oh iya, Si Korban saat itu sedang tidur lelap sambil memeluk boneka panda pemberian sang kekasih.

Mulailah kami meneror korban, saya—si hantu jemuran—sudah tepat di dekat jemuran yang ada di depan kamar korban, jadi saya emang nggak langsung di depan, agak minggir deket kamar mandi. Karena takut efek ngerjain itu jadi boomerang, maka nggak ada acara pake bedak maupun menghadap ke tembok. Nggak lucu banget kalo saya pingsan karena yana asli muncul dan meringis ke saya.

Hanna sudah mulai mengetuk pintu, Laila sudah geje lelompatan di depan kamar, dan Hanu sudah siap dengan kuenya.

“Tok tok tok”

Tidak ada jawaban, yang empunya kamar masih tidur lelap dengan boneka panda.

“Tok tok tok”

Masih juga belum keluar, sang empunya tetap memeluk boneka panda.

Namun kemudian, beberapa menit setelah saya betah-betahin deket jemuran dan berdoa biar nggak liat yang macem-macem, Si Korban membuka pintu kamarnya. CKLEK! Setelah berkedip-kedip memastikan penglihatannya benar, Korban yang kami sayangi ini malah bilang,
“Ngapain di situ, Dik Ich?”

Oh maaaaaaiiiiiiii! Oh maaaaaaiiiiii! Sakkkiiiiiiiiiit! Kurang putih apa ini mukena? Kurang serem apa saya meringis di bawah jemuran? Kurang apa?

Akhirnya saya masuk kamar Sang Korban dan menceritakan kisah seram. Malu, tengsin, nggak punya muka, pokoknya kalo waktu itu saya bisa ngilang, saya akan milih langsung ngilang dan berlindung di ketiak Yeobo tercinta *yang entah masih ngiter di mana*.

Pasukan pembawa kue pun datang, yang lain juga datang. Tidak ada kejutan. Semua DATAAAARRRR! Saya kecewa, pasukan juga kecewa, saya malu, tapi pasukan saya tidak malu. Mereka kan nggak ngerasain perasaan saya waktu ditanyain ==”

Jelas sudah saya bête, sebel, kesel, dan mangkel, terlebih sama itu si boneka panda. Iya, kalo misalnya boneka pandanya nggak ada dan Si Korban nggak terlelap begitu adanya, mungkin kejutan kami akan berhasil. Saya bingung mesti ngapain. Kue dimakan tanpa selera. Apalagi saya bener-bener beteeeee!

“Masa nggak sadar kalo lampunya dimatiin, Mbak?”

“Oooo, kukira mati lampu,” begitulah jawabnya. Tenang, lembut, seakan tak ada beban.

Kami kembali ke kamar masing-masing dengan perasaan sendiri-sendiri. Kesel karena nggak berhasil, juga kesel karena Si Korban nggak ngeh kalo ternyata lampunya sengaja dipadamkan. Yang jelas, pelajaran yang saya petik adalah: Berilah kejutan pada yang mengaku tidak mengalami penurunan daya pikir.

Advertisements

Comments on: "“Ngapain Di Situ, Dik Ich?”" (1)

  1. singosari malang said:

    Kisah nyata yang bagus, lucu dan menggemaskan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: