Welcome to my greeeeeny world :D

Dear Jodoh..

Doa CahyaAssalamu’alaykum warahmatullaah…

Bismillaah 🙂

Nyahahaha, saya senyum-senyum nggak jelas mau nulis ini. Lucu aja gitu saya nulis yang macem begini. Bagaimana bisa seorang yang tingkahnya masih kayak anak-anak ini nulis yang berbau-bau ‘jodoh’? Ah, saya juga manusia, udah mengalami masa puber juga kok.

Terinspirasi dari kejadian di rumah beberapa waktu lalu. Biasanya, saya akan didudukkan tanpa sengaja, lebih tepat kalau saya lagi duduk di ruang tengah, tiba-tiba ada kru ‘kompor cari jodoh’. Mereka akan menasihati saya macam-macam, mulai dari mencari ‘teman’ hingga kemudian membeberkan banyak hal yang saya sendiri seringkali tidak sependapat. Anak muda sih, masih idealis banget gitu. Hahahaha.

Nah, kapan hari itu, Oom—salah satu kru juga—tiba-tiba tanya, “Kapan bawa someone special ke sini?” Ditanyain begitu saya sih… saya ngapain ya waktu itu? Kok saya lupa… Ah, ya anggap saja deh saya menyangkal. Kan biasanya juga banyak alasannya kalo ditanya gitu. Eh, maaf ya, saya bukan nggak laku, karena saya tidak sedang memperdagangkan diri, sekarang Cuma belum ketemu jodoh saya aja. Lagian saya insyaAllah memilih pacaran setelah menikah, biarpun beda dengan sodara saya yang lain. Mungkin itu juga yang membuat keluarga besar agak gerah ya, soalnya sodara-sodara saya udah punya pacar, udah dikenalin juga, bahkan udah ada yang nikah. Saya? Hihihihihi. Cuma bisa ketawa deh.

Dari situ saya berpikir lagi, memangnya kalau saya bawa someone special sekarang, apakah keluarga setuju saya menikah muda? Jawabannya sudah jelas, mereka tidak akan melepas sebelum saya siap. Siap yang seperti apa? Saya juga nggak tau. Hahahaha. Wong saya masih pecicilan kayak anak monyet. Kadang kalo di kos, adek-adek bilang gini, “Nggak bayangin Mbak Ca nikah, tingkahnya aja masih kayak gitu (sok imut—pen).” Lha iya, wong menikahkan aja masih belum mau, kok berani-beraninya tanya kapan saya bawa someone special? Ortu emang mesti galau kalau anak gadisnya belum ada yang melirik, tapi galaunya karena ingin menikahkan dong, jangan karena gengsi (ortu saya masuk yang mana ya?).

Kata Bang Darwis, konkret dari menjemput jodoh itu adalah memperbaiki diri. Saya aja masih kayak gini. Sudahkah saya menjadi putri terbaik mereka (ibu dan ayah)? Belum. Sudahkah saya berlemah lembut dengan mereka? Belum. Sudahkah saya menyulam senyum di wajah mereka? Belum. Saya belum memperbaiki diri *usap air mata, usap ingus* Masih banyak yang harus saya perbaiki, termasuk amal harian yang bolong-bolong kayak tikar digigitin tikus. Apalagi terkait dakwah… beuuuuuh… diri saya masih menyedihkan. Trus dengan keadaan seperti ini ingin menjemput jodoh yang seperti apa? Hafidz, aktivis dakwah, bertaqwa? Mimpi di siang bolong! Itu keajaiban dan kejadiannya langka! Rusuk dan rangka harusnya tak beda jauh. Nah sekarang, Cahya, lu sukanya K-Pop gituh, minta punya jodoh seorang hafidz? Wadaw, ya udah ke laut aje sono. Pungguk merindukan bulan! Maaf, saya sebel sama diri saya sendiri.

“Lho, bukan karena Allah ya? Jadi pingin berubah bukan karena Allah? Cuma karena pingin jodoh?”

Saya juga pasti gelagepan kalo ditanya begitu rupa. Tapi dikembalikan lagi, niatnya nikah itu buat apa. Nah, kalau di Islam kan jelas buat apa. Mau tau? Ikut kajian sana, baca buku sana, Nyahahahahaha >> ini ngeles karena kurang paham juga :p

Oh iya, pas nulis ini saya lagi dengerin lagunya Khalifah yang “Selaksa Cinta”. Ada kalimat yang saya suka:

“Jikala cinta tlah menggelora, cukuplah Allah tumpuan hidupnya”

Bisa diartikan macam-macam sih. Kalau saya sendiri mengartikan sebagai seruan untuk lebih mencintai Allah lebih dari segalanya. Seringkali manusia lebih cinta dunia daripada Allah. Bisa dilihat dari sekulerisme yang ada. Seakan Allah cuma bisa lihat pas kita lagi sholat aja, padahal Allah Maha Melihat, bahkan kalau kita matikan lampu, berselimut tebal, dan mulai kehabisan napas. Mungkin bisa juga diartikan kalau lagi jatuh cinta, biar Allah aja yang memilihkan baik dan tidaknya. Hmm… Semua orang di rumah bilang begitu juga. Mintalah petunjuk pada Allah, bukan pada dukun, apalagi jin ==” (Baidewei, suaranya Bintang Khalifah oke punya bangetz! Kayak Vidi tapi lebih ngebass gitu).

            Oke, waktunya berbagi ilmu yang saya dapatkan di talkshow bersama Bang Darwis dan Bunda Sinta kemarin Sabtu. Jadi, ketika cinta menyapa, ini yang harus kita lakukan sebagai muslim dan muslimah yang ingin menjaga cintanya.

  • Kekuatan “Tidak Bilang”

Jadi, perasaan yang muncul karena terbiasa itu disimpan rapat-rapat. Jangan tergoda untuk bilang apalagi mengumbar kalimat cinta. Fokus saja perbaiki diri sebelum bilang cinta.

Versi Cahya: Kata Ust. Felix di buku beliau “Udah Putusin Aja”, kalimat cinta sebelum nikah itu bohong! Jleb ya? Hehehehe. Bagi saya sendiri, sebuah cinta itu memang hanya akan terwujud ketika mampu dipertanggungjawabkan eksistensinya, ketika Allah selalu terlibat di dalamnya, ketika Allah menjadi niatnya. Ceile Cahya… Ngemeng epeh to, Nduuuk?

  • Hakikat menunggu

Banyak remaja yang belum mengerti hakikat menunggu. Nah, pas fase menunggu ini, sekalian sambil perbaiki diri.

Versi Cahya: Kayak buah yang belum mateng, kalo dipetik maka harus dikarbit, tapi bisa jadi rasanya tak seenak buah yang matang pohon. Begitu juga cinta, tunggu, sabar, sik to, sik to, biarkan cinta itu merekah pada saat yang tepat, di mana Allah sendiri ridho karena dilantunkan dengan asma Allah. Inget lagunya Kahitna: “Walau ke ujung dunia, pasti akan kunanti, walau ke tujuh samudera, pasti ku ‘kan menunggu…” Ecieeeeeeh

  • Hakikat berharap

Tidak cemas di ujung proses. Berharap pada Allah.

Versi Cahya: labuhkan harapanmu hanya pada Allah, terkait siapa jodohmu kelak, sambil terus perbaiki diri, sambil terus meluruskan niat. Kayak lagunya Ashanti sama Anang “Jodohku, maunya ku dirimu…” Ya emang sih, kalo udah kadung kepincut, kadang doanya jadi aneh, jadi semacam maksa minta jodohin sama dese. Padahal Allah tau yang terbaik, Allah tau mana yang sesuai dengan kita.

  • Wisdom “Pergi”

Kadangkala dengan pergi, kita bisa tahu itu cinta sejati atau bukan.

Versi Cahya: ketika kepergian itu membuat lebih mencintai Allah, kenapa kita tidak pergi saja untuk kembali? Tulang rusuk toh tidak akan tertukar. Segetol apa kita memaksa di dekatnya, bila Allah tidak meridhoi, akan dijauhkan pada akhirnya. Tapi pergi sejauh apa pun, jika Allah berkehendak sudah saatnya bertemu, maka tak ada yang menghalangi. No mountains too high enough, oceans too wide… 😀

Sebenernya mau saya teruskan, tapi kok udah lebih dari dua halaman. Kan jadinya cetar banget. Lagian yang baca pasti udah bosen. Nyahahaha. Gitu aja sih dari saya. Semoga gak kapok nyasar di blog saya. Nyahahahaha.

Wallahu a’lam bishshawab :’)

Wassalam 🙂

^Cahya Andina Thalib yang sedang mencoba husnudzon pada Allah^

NB: terima kasih untuk Kawan Imut atas gambarnya 😀 Saya tambahin tulisan 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: