Welcome to my greeeeeny world :D

Aku Masih Mencintainya :’)

            Sudah hampir 16 tahun berselang, tapi puing-puing dirinya masih tersisa di wajahku, watakku, dan hatiku tentu. Tak banyak kenangan tentangnya. Hanya ada beberapa kejadian yang kuingat, salah satunya adalah ketika ayah membelikanku es krim di waktu hujan deras mengguyur bumi tak henti-henti. Rasa stroberi. Aku tidak suka stroberi. Aku lebih suka cokelat meski aku seorang putri. Tapi kumakan saja, ayah sudah membelikan untukku dengan uang pribadi.

            Setelah kepergian ayah, aku hanya memimpikannya dua kali. Pertama saat aku masih kecil, entah umur berapa, aku sudah tak ingat lagi. Kedua kalinya adalah beberapa bulan lalu. Pria dengan stelan jas hitam dan kulit putih yang tidak tampak jelas wajahnya itu adalah ayah, begitu dalam mimpiku. Ayah mengajakku pergi tapi aku menolak ajakannya, aku memilih tetap tinggal. Ayah tersenyum saja, lalu menghilang menyisakan udara…

            Sering aku berdoa agar aku memimpikan ayah. Setidaknya aku ingin memastikan bahwa ayah masih hidup dalam ingatanku. Tapi memimpikan ayah bukan perkara mudah, ayah masih saja tak mengunjungiku dalam mimpi meski aku sudah merencanakannya. Mungkin juga karena dalam lubuk hatiku, aku takut kemunculan ayah di mimpi akan menjadi luka, luka karena rindu.

            Ada dua kejadian yang baru-baru ini membuatku sadar bahwa saat itu aku tidak mengerti akan kepergiannya. Beberapa hari setelah kepergian ayah, aku melihat ayah di atas setumpuk pakaian yang belum disetrika. Saat itu maghrib dan aku menolak untuk sholat tepat waktu. Ayah melotot ke arahku. Aku berteriak, memberi tahu ibu yang ada di samping ‘ayah’ bahwa beliau masih ada, beliau muncul dengan wajah seram seperti biasa. Tapi ibu tak bisa melihat ayah, ibu hanya melihatku yang berteriak kegirangan karena ayah kembali… walau hanya sekejap mata.

            Kejadian kedua ketika ada banjir bandang. Selama ini aku selalu berpikir kalau saat itu ayah berada di rumah sendirian sedangkan kami mengungsi ke tempat yang lebih tinggi. Tapi beberapa bulan belakangan ketika aku membuat cerita tentang hujan, aku baru tahu kalau saat itu ayah sudah jauh meninggalkan kami. Bahkan aku masih belum percaya, aku masih menyangka ayah belum ke mana-mana saat hal itu terjadi.

            Ayah tidak pernah mau mengalah dan memuji karya buatan putrinya. Ayah bilang nilai delapan tidak ada apa-apanya, padahal itu nilai paling tinggi di kelas kami. Ayah selalu gengsi. Beberapa waktu sebelum meninggal, aku merengek minta ayah menggambar sesuatu untukku yang suka berlari-lari. Standar sekali. Dua gunung dengan jalan di tengah, dua pohon kelapa yang doyong, dan beberapa burung di atas gunung, tak lupa ditambah matahari. Gambar ayah lebih mengenaskan dari gambar ikan warna-warni. Gambar ayah hanya mendapat nilai enam setengah. Ayah kalah. Gambarku pernah mendapatkan nilai 95 di kelas kesenian, Ayah 🙂

            Ibu bilang ayah adalah pria paling tampan. Aku menolak dengan kemantapan. Ayah jelas bukan tipeku. Aku benar-benar tidak suka dengan pandangan tajam yang seakan mampu menembus baja itu. Aku juga tidak suka dengan tulang pipi yang seperti tidak bisa remuk meski dilindas bulldozer itu. Di foto pernikahan ayah dan ibu, ayah terlihat cool, sedingin kulkas. Ayah benar-benar bukan tipeku.

            Kemudian aku beranjak ke depan tivi, melihat foto saat ayah mendudukkanku di pangkuannya. Tak ada lagi senyum samar karena senyum jelas terpatri di wajahnya. Membuat air mataku makin tumpah, membuat aku merasa bersalah karena mengatakan ayah biasa saja. Ayahku jauh lebih tampan saat aku di pangkuannya. Wajah kaku itu sedikit memudar, ayah tak lagi sedingin kulkas, auranya sehangat mentari, senyumnya selembut embun pagi..

            Kalau ayah masih di sini, umurnya sudah 51 tahun kini. Mungkin sudah beruban, mungkin giginya juga sudah ada yang copot, mungkin juga akan sering mengeluh sakit pinggang… Ibu bilang, ibu memilih ayah karena ayah pandai mengaji. Jadi kupikir meski beruban, ompong, dan encok, ayah akan tetap menawan di depan ibu selama ayah pintar mengaji dan mengamalkan apa yang dikaji. Begitu kan seharusnya? 🙂

            Sedikit sekali kenangan tentang ayah. Aku ingat ayah sering mengajakku bersembunyi dalam lemari ketika ibu datang. Ayah juga yang sering pura-pura tidak tahu aku sedang bersembunyi di bawah bantal, lalu ayah akan sibuk mencariku yang jelas-jelas sudah ada di depan matanya yang tidak berwarna biru. Di dalam hatinya, ayah pasti juga mencintaiku..

            Kini aku tahu kenapa aku menangis ketika lebaran tiba. Karena aku rindu ayah. Kini aku tahu kenapa aku meneteskan air mata saat aku mendengar yang lain bisa menceritakan ayah mereka. Karena aku rindu ayah. Kini aku tahu kenapa aku memilih untuk tidak pacaran, memilih jalan ini, memilih dicap culun, dan tidak jadi fashionista. Karena aku takut itu akan memberatkan ayah di kuburnya. Entah, apakah doaku sudah bisa menjadi amal tak teputus untuk ayah, tapi kalau aku harus menambah beban ayah dengan bertindak seenaknya, maka aku tidak tahu bagaimana jadinya. Pada akhinya semua bermuara pada satu kesimpulan: aku masih mencintai ayah :’)

            Aku tidak ingat apakah ayah pernah memelukku erat seakan takut kehilangan putri semata wayangnya. Tapi bila kini ayah masih hidup, aku ingin ayah meletakkan tangannya di kepalaku sembari berkata,

            “Jadilah sebaik-baiknya perhiasan dunia…”

            Lalu ayah memelukku dan mengelus kepalaku.

            “Ayah, aku mencintai ayah…”

Rumah Cinta, 20 September 2013

01:07 AM

Cahya Andina Thalib

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: