Welcome to my greeeeeny world :D

Matahari sudah mulai meningggi ketika aku masih sibuk membalut tubuh dengan selimut tebal warisan eyang. Bunda bilang, waktu masih kecil dulu dan masih imut-imut, aku akan memaksa untuk tidur di kamar eyang dan nggak mau melepaskan selimut tebal ini. Setelah kuingat, ternyata ada alasan yang sangat krusial. Sebagai anak kecil yang nggak tau betapa luar biasanya punya kamar mandi, maka diriku yang lampau lebih memilih ngompol daripada pergi ke ruangan segiempat lengkap dengan closet dan bak air yang cukup besar itu. Alhasil, eyang membeli selimut baru dan setelah meninggalnya eyang kudapatkan selimut kesayangan beliau yang sudah kuberi tanda. Ah, memangnya aku guk-guk?

Seperti hari Minggu sebelum-sebelumnya, aku belum berniat untuk beranjak dari tempat tidurku yang kalau dilihat-lihat nggak pantas disebut tempat tidur. Buku, kaos kaki, botol bekas minuman semuanya ada di situ. Abang bilang aku nggak ada bedanya sama monyet. Aku bilang abang nggak ada bedanya sama abangnya monyet. Abang mencak-mencak dan aku lonjak-lonjak.

Membicarakan abangku yang bernama Anjar ini nggak akan ada habisnya. Abang adalah manusia dengan rambut mirip duri landak, kacamata kotak berbingkai tebal layaknya manusia-manusia cerdas di luar sana, dan badan kurus seperti papan tripleks. Tapi aku sayang pada abangku seperti aku menyayangi monyet milik tetangga sebelah. Mereka memang agak mirip, ketika aku melempar kacang pada Nugi—monyet tetangga sebelah, maka Nugi akan dengan senang hati mendekat. Seperti itulah abang, ketika aku melempar kacang pada abang, dia juga akan mendekat, bedanya adalah kemudian abang balik melempariku dengan sandal jepit. Abangku memang luar biasa dermawan.

Di balik persahabatanku dengan abang yang unik, aku memendam banyak perasaan sayang pada abang, kali ini benar-benar seperti pada abangku. Abang adalah tempat curhat yang oke setelah aku mencurahkan segenap perasaanku di ujung sajadah tiap selesai sholat. Abang ibarat buku harian yang siap menampung segala uneg-uneg. Curhat masalah sekolah sampai masalah Nugi yang ngambek karena tuannya lagi ngapel pacar pun bisa ditampungnya. Abang juga nggak pernah marah ketika aku dengan seenaknya masuk kamar dan menjajah teritorialnya. Dia dengan sukarela memberi ketika aku meminta coklat kesukaannya asalkan aku mau meminjaminya uang tanpa harus dikembalikan. Abangku baik. Aku sudah tahu itu.

Suatu hari, ketika aku mendapat pesan dari seorang teman cowok, abang dengan baik hati membalas pesan cowok itu. Besoknya waktu di sekolah, cowok tinggi besar itu memberi bunga lengkap dengan kartu ucapan bertuliskan “I love you, Deer”. Aku bingung dan kembali membuka pesan balasan abang.

Abang: “Kalo kamu emang suka aku, besok aku tunggu setangkai bunga mawar dari kamu.”

Teman cowok: “Aku akan bawakan untukmu besok.”

Aku hampir muntah. Abang suka sama cowok. Abang mengkhianatiku. Abang ngembat orang yang lagi menyatakan rasa sukanya ke aku. Abang dodol.

Pulangnya, aku melemparkan bunga itu ke abang.

“Noh, makan tuh kembang! Dasar rusa!”

Abang garuk-garuk kepala. Iya, abang memang rusa. Makanya di kartu ucapan ditulis “deer”.

^^^^^^

Jalanan sepi, suara jangkrik bersahut-sahutan, dan lampu rumah sebelah byar-pet-byar-pet tanpa diketahui akibatnya. Aku memandangi punggung abangku yang tak sebegitu lebar. Punggungnya pun tampak sedih. Gimana nggak, minggu tenang begini abang pulang dengan membawa banyak tugas. Sebenarnya abang nggak mau pulang, tapi aku memaksanya. Aku sudah sangat merindukannya. Nugi pun begitu.

Handphone abang tiba-tiba berbunyi lirih. Abang langsung terlonjak dan nggak lagi mempedulikan aku yang masih memandangi punggungnya. Senyum segera terkembang di wajah abang. Dia memencet keypad dengan sangat bersemangat. Aku memanggil abang berkali-kali dan yang aku dapatkan hanya suara “ctik-ctik” dari hape jadulnya.

“Siapa, Bang?”

“Temen.”

Cuma itu. Abangku yang bawel hanya mengatakan itu. Aku bergeser sehingga kini duduk di samping abangku tercinta, ikut memelototi layar laptop dan sesekali melirik ke arah hape. Aku nggak tahu kenapa aku begini. Aku hanya merasa bahwa sebagai adik yang baik aku harus mencontoh apa yang abang lakukan. Itulah tanda cintaku pada abang.

Dulu, waktu abang masih berseragam abu-abu putih, aku suka sekali mengekor di belakang abang. Saking nempelnya, aku dikira piaraannya abang. Nggak apa. Aku sayang sama abang. Bahkan waktu aku ngantuk, kamar abang adalah tempat singgah paling layak walaupun nggak beda jauh sama keadaan kamarku. Setidaknya, ketika di kamar abang aku bisa leluasa mengobrak-abrik kamarnya tanpa disuruh membersihkan lagi. Gantinya, abang tidur di kamarku dan membalas kebaikanku itu. Abangku memang sangat baik hati karena selalu membalas budi. Anggap saja itu adalah tanda sayangnya untukku.

Ah. Mungkin abang kangen dengan rawon bikinan bunda. Tapi, hari ini bunda bikin rawon dan abang makan sedikit. Apa abang tau kalau rawonnya nggak sengaja terciprat cairan yang disekresikan oleh kelenjar ludahku? Bukannya tadi Nugi bahkan nggak protes waktu aku curhat sama dia? Seingatku, Nugi hanya diam dan menikmati kacangnya. Nugi memang nggak mencicipi rawon bencana itu, tapi Nugi tau kalau rawon itu lebih enak setelah mendapat titel “bencana”.

“Abang sakit?”

Abang memandangku heran sambil membenarkan letak kacamatanya. Hari ini abang terlihat lebih tampan dari biasanya. Benar, abang bahkan mungkin nggak punya kesempatan untuk panen jerawat bulan depan, wajahnya sudah cukup mulus, bahkan kemajuan yang sungguh luar biasa untuk wajah abang. Kenapa aku baru menyadarinya hari ini?

“Abang jatuh cinta?” pertanyaan itu tanpa sengaja terlontar.

“Uhuk!”

Di sana, di depan pintu, ada seseorang yang terkikik setelah Abang terbatuk. Aku menoleh, memperhatikan sosok gendut dengan kumis melintang di antara hidung dan bibir beliau. Dilihat dari wajahnya, tak akan ada yang percaya bahwa ayah kami adalah orang yang suka terkikik melihat putra-putrinya tumbuh dewasa. Dibanding tertawa terbahak-bahak, Ayah lebih suka terkikik geli. Ayah bilang, kami sangat lucu dan imut, tapi tetangga bilang kami amit-amit. Itu sudah biasa.

“Ayah kan pernah muda. Iya nggak, Ca?” Ayah mengelus kepalaku.

“Nggak tau, Cahya pikir Ayah lahir langsung kumisan begitu. Hehehehe. Becanda, Yah…”

Abang nggak menimpali, hanya sesekali melirik, lalu kembali memelototi laptopnya. Ayah kembali terkikik geli dan memutuskan untuk meninggalkan kami berdua.

“Segera dikenalkan Ayah sama Bunda, Bang Anjar. Nggak usah lama-lama. Nggak usah pake pacaran.”

Ayah melenggang santai, aku melongo, dan Abang kembali terbatuk-batuk.

^^^^^^

Abang selalu bisa menarik perhatianku. Bilang saja aku memang sangat mencintai abangku. Kalau dia nggak ada di rumah, aku bisa bosan seperempat hidup. Aku jadi suka berlama-lama tidur di keset. Bukan karena abang punya bau seperti keset. Bukan. Abang sangat wangi, apalagi belakangan ini. Bunda sering protes karena Abang selalu menghabiskan uang sakunya untuk beli parfum. Sebenarnya nggak apa, tapi Abang jadi susah makan. Bunda kan nggak mau putra kesayangan beliau keliatan kayak tengkorak berjalan.

Di sela-sela kerinduanku dengan abang, hari ini aku mengunjungi kamarnya tanpa izin. Sungguh, belakangan dia jadi jarang pulang. Ketika aku memintanya pulang, abang malah bilang banyak rapat ini-itu dan aku hanya bisa cemberut. Nugi pun jadi sering makan kacang dan akhirnya diare. Aku nggak tahu apa hubungannya, tapi tetangga sebelah selalu memintaku memeriksa keadaan Nugi. Tiring. Apalagi sekarang kami sedang bertengkar hebat. Nugi manyun. Aku pun begitu.

Kalau saja Abang tahu bahwa aku sempat melihat selembar foto itu terselip di antara buku-bukunya. Foto itu, yang membuatku merasa tebakan ayah benar. Foto itu, yang membuktikan bahwa abang sudah melabuhkan hatinya. Foto itu yang kemudian disobek Nugi dan mungkin karena foto itu juga abang akan sangat kesal.

^^^^^

“Mas Ical!” kupanggil cowok berambut cepak yang sedang berjalan ke arah gedung besar bertuliskan rektorat. Mas Ical celingukan sambil sesekali menyipitkan mata. Aku yang ada di belakang pohon hanya bisa menampakkan sedikit wajahku. Gawat kalau ketahuan. Aku kan dalam misi memata-matai Bang Anjar.

“Mas Ical!” sekali lagi kupanggil nama sepupuku itu sambil melambaikan tangan dengan tanggung. Mas Ical kemudian bergegas mendekatiku sambil tetap memperlihatkan ekspresi kebingungan.

“Lho, ngapain kamu di sini? Nggak sekolah?”

Aku menjelaskan semua pada Mas Ical, menjelaskan bagaimana aku ada di sini, bagaimana aku bisa mengetahui angkot yang ke kampus mereka, bagaimana sikap Bang Anjar yang aneh, bagaimana ngambeknya Nugi sampai merobek foto berharga abangku, bagaimana kemudian aku juga merasa aku harus tahu gadis yang hatinya menjadi pelabuhan cinta Bang Anjar.

Mas Ical kemudian memberi tahu kalau abangku pasti sedang kuliah kalau tidak sedang tidur di student center. Segera kukeluarkan foto yang berhasil kuselotip di sana-sini. Aku mendesak Mas Ical supaya membawaku ke tempat di mana bisa kutemui gadis itu. Biar bisa kulihat wajah aslinya, secantik apa gadis yang membuat abangku sampai lupa dengan kelezatan rawon buatan bunda. Apakah abang pernah makan rawon buatannya ataukah abang pernah tahu bahwa dia bisa membuat rawon? Semua ini kulakukan bukan hanya untukku, tapi juga untuk Nugi. Nugi pasti sudah menunggu kabar di rumah. Perjalanan ini tak akan kusia-siakan.

“Namanya Aira. Seangkatan sama Anjar, sama aku juga. Jago masak, jago beres-beres, lemah lembut, bukan yang paling pinter di kelas tapi hampir selalu jadi kesayangan dosen, kesayangan cowok-cowok jomblo juga sih. Nggak kaget kalo abangmu suka dia. Lagipula mereka satu organisasi,” Mas Ical menjelaskan sambil membawaku berkeliling kampus mencari gadis bernama Aira itu.

Aku manggut-manggut sambil menggigit jempol, bergumam tidak jelas, intinya sih sebal karena aku pasti kalah telak kalau harus bertanding dengan gadis luar biasa macam Mbak Aira. Tapi, seandainya Mbak Aira jadi kakak iparku, Nugi bakal ngamuk nggak ya?

“Faisal!”

Mas Ical menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang memanggilnya. Baru beberapa menit di sini, kami harus berkali-kali menoleh, berhenti, mengobrol dengan teman-teman Mas Ical. Tak beda jauh dengan abangku, Mas Ical juga termasuk aktivis kampus yang hobinya rapat ini-itu. Mungkin suatu hari abang sama Mas Ical nikahnya juga pas rapat. Habis sibuknya ngalahin pejabat. Tapi kuakui abang nggak pernah lupa sama aku, sama Nugi, bahkan sama coklat yang kumakan diam-diam tanpa bilang padanya. Dia mungkin semacam cenanyang. Tapi itu dulu, sebelum Mbak Aira masuk dalam hidupnya. Ah…

“Undangan nikah dari Aira. Buru-buru aja sih keluar kelas jadi tadi Aira nggak sempat ngasih langsung.”

Tanpa banyak tanya, Mas Ical langsung membuka plastiknya, matanya menelusuri jajaran huruf yang tertera di undangan. Keningnya berkerut, seperti nggak percaya akan kenyataan. Aku langsung mengaduk-aduk tas, mencari minyak kayu putih, barangkali Mas Ical pingsan dan harus segera dapat pertolongan pertama. Kalau diingat dari apa yang dijelaskan Mas Ical tadi, kayaknya dia juga menyimpan berjuta kekaguman sama Mbak Aira.

“Bagus? Bagus fakultas sebelah?” tanya Mas Ical sambil menunjuk sebuah nama di undangan.

Teman Mas Ical menjelaskan siapa si Bagus yang akan menikah sama Mbak Aira. Katanya Bagus ini teman dekat abangku. Iya, abangku yang suka sama Mbak Aira, abangku yang sampai lupa sama Nugi, abangku yang jadi getol pegang hape dan mengetik pesan lalu senyum-senyum nggak jelas.

“Kupikir Aira bakal nikah sama sepupumu. Jadi hot topic of the year nih. Eh, ini siapa? Pacarmu ya?”

“Mas, Student Center di sebelah mana?” kutanya teman Mas Ical tanpa menggubris pertanyaannya. Masalahnya bukan itu sekarang. Mau jadi pacar atau istrinya Mas Ical kan aku boleh-boleh aja, jadi jawabannya itu nanti, bukan sekarang. Ada hal yang lebih mendesak yang harus kuurusi, terkait dengan hatiku, hati Nugi, bahkan hati abangku sendiri, atau mungkin juga hati teman-teman organisasinya.

Mas rambut kriwul itu menunjuk ke arah Timur lalu menjelaskan di mana Student Center yang jadi markas tidur abangku. Sebagai adik yang dididik secara ketat oleh abangnya, aku nggak akan lupa berterima kasih, sebenarnya mau minta uang saku juga, tapi aku takut nanti malah dilamar, sedangkan aku nggak ingin mengecewakan Mas Ical atau siapa pun fans-ku yang ada di luar sana. Karena kata abang, menolak pemuda sholihah itu boleh, tapi kalau sholih itu nggak boleh.

Kakiku melesat, bermanuver di antara para mahasiswa yang sedang duduk-duduk atau sekedar mengobrol santai di koridor. Beberapa ada yang melihatku, mungkin heran karena ada manusia lucu yang mondar-mandir di kampusnya atau bingung karena ada cewek yang jalannya kayak buto ijo versi langsing.

Di sana, di gedung kecil yang di depannya berserakan sepatu, katanya menjadi tempat abangku tidur. Mengenaskan. Memangnya usahanya nggak menghasilkan uang yang cukup buat sewa kamar kos? Bagaimana mungkin abang sanggup menghirup udara yang konsentrasi aroma jempolnya sangat pekat? Pasti indera penciuman abang rusak karena keseringan rapat.

Belum sempat aku melangkah mendekati Student Center, kulihat pemuda kerempeng berkacamata keluar dengan ekspresi yang susah ditebak. Aku mematung di tempat. Bukan karena ingin, tapi melihatnya semakin kurus membuatku kesal. Manusia yang satu ini kenapa segitu tersiksanya karena cinta? Bukankah sudah ada aku dan Nugi? Kurang sayang apa kami padanya? Abang nggak peka.

“Eh?”

Abang menunjuk-nunjukku, telunjuk kanannya menempel di hidungku sedangkan telunjuk kiri beserta jempol kirinya mencubiti pipiku. Walaupun begitu, aku jelas tahu ada yang beda dengan wajahnya. Bukan karena jerawatnya mulai tumbuh liar lagi, tapi pandangannya terlihat lebih mengenaskan dibanding saat kulunturkan baju kesayangannya dulu.

“Pulang, yuk!” ajakku sambil menarik bajunya.

“Jadi ke sini cuma ngajak abangmu ini pulang? Sebenarnya masih ada…”

“Kalo nggak mau pulang, aku makan nih cokelat simpanan abang!” kuperlihatkan cokelat yang tadinya disimpan di dalam kulkas. Awalnya kubawa untuk kuberikan karena aku tau abang pasti kecapekan. Kan aku sudah bilang kalau aku ini adik yang baik, pasti tau abang sedang ribet dengan organisasinya.

Mataku nggak berhenti memandangnya, bahkan sekarang terasa panas disertai tenggorokan yang sakit. Andai saja aku nggak tau apa namanya, tapi aku tau kalau aku mau menangis untuk suatu hal yang nggak kumengerti. Aku sudah hafal dengan ketidaksukaan abang dengan rengekan. Tapi hari ini aku ingin merengek, ingin membawanya pulang. Biar hatinya itu terobati atau setidaknya tidak terluka lagi. Aku lihat kok waktu Bang Anjar memasukkan undangan ke dalam tas sebelum pakai sepatu. Aku juga lihat waktu dia menghela napas panjang. Bang Anjar pasti sakit. Sehalus apa pun penolakan, pasti akan mengecewakan. Apalagi ini, gadis pilihan hatinya akan menikah dengan sahabatnya sendiri.

“Iya, iya, kita pulang. Mau beli makanan dulu? Kamu suka puding kan? Mau beli kacang dulu buat Nugi?”

Kupandangi punggungnya, kepalanya, rambut “duri landak”-nya, hingga telinganya yang memerah. Abang memaksa untuk terlihat tegar seperti biasa. Kata abang, lelaki harus kuat, bahkan dalam menahan sakitnya gigi, nggak boleh berkaca-kaca apalagi meraung-raung tak berdaya. Abangku lelaki. Tulen.

“Bocah bandel, tirulah Aira. Nanti, kalo ada yang bilang cinta, abaikan aja. Cari yang serius, yang nggak main-main dengan kata-kata, yang berani menghadapi omelan ayah atau lirikan tajam bunda. Kamu juga, jangan berani obral kalimat cinta. Terlalu sakral dan berharga kalau dibayar murah, apalagi cuma dengan setangkai mawar dan sebatang coklat. Carilah yang tak pernah bermain dengan perasaan, yang pergi karena takut cintanya tidak suci, yang diam karena takut cintanya melukai, yang menunggu waktu yang tepat agar cintanya tak lagi malu-malu. Jangan cari yang seperti abangmu ini…”

Abang mengusap kepalaku, “Tidurlah… nanti abang bangunkan kalau sudah sampai di depan rumah…”

Advertisements

Comments on: "Cerpen: Balada Abang Tersayang" (2)

  1. Baguus Ca….. 😀

    • hikarihamzah said:

      Ini Nyo Erni ta?
      Wehehehe, mamaci 😀 Itu masih belum dibantai sama temen-temen FLP 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: