Welcome to my greeeeeny world :D

“Tangkaaaaaaap!” suara lantang disertai derap langkah buru-buru di belakang membuatku makin terbirit-birit.

Gedung-gedung biru yang bentuknya meliuk-liuk menjepitku tanpa ampun. Ah, jika saja tulangku mengalami skoliosis! Tak terpikirkan olehku dengan cara apa aku harus melewatinya. Kuyakin sekarang gelombang PQRST jantung ini sudah merepet. Aku terus melesat meski kadang tersandung bebatuan yang sengaja dicat warna laut.

“Udin!”

Di sana, di depan toko berhiaskan neon biru, seorang pemuda melambaikan tangan gempalnya ke arahku. Suara-suara pemburuku mulai terdengar lirih. Beberapa puluh langkah lagi aku sampai ke toko Sarip. Kupercepat langkah tanpa menoleh ke belakang.

Sarip menangkap bahuku ketika aku limbung di depan pintu. Masih dengan lidah menjulur ke luar, aku memberikan isyarat padanya untuk mengambilkan minum. Aku harus segera memenuhi kebutuhan sel-selku kalau tidak ingin mereka ngambek dan krenasi berjamaah.

“Sudah aku bilang berkali-kali, Din, hentikan kelakuan bodohmu itu!” Sarip mengulurkan segelas air berwarna biru seperti urin yang ditetesi reagen Fehling. Ada keengganan untuk meminumnya, namun aku terlalu haus untuk berpikir lagi.

“Dengar, Rip, ini bukan masalah bodoh atau tidak, ini masalah hidup dan mati,” mataku terbelalak ketika indera pengecapku bekerja, “ini air apa?”

“Rebusan blueberry dengan sedikit potongan ekor bunglon. Enak?”

Seketika kuletakkan gelas itu di meja. Bunglon? Pasti saat berubah warna menjadi biru. Apapun di negeri ini harus berwarna biru atau hijau. Selain itu pasti akan masuk daftar dimusnahkan.

Sarip mengambil gelasku dengan tangan kanan, sedangkan telunjuk kirinya sibuk dimasukkan ke dalam lubang hidung. Kebiasaan ngupilnya setelah matahari tenggelam selalu membuatku terpukau.

“Pemburu dari istana tak akan membiarkanmu hidup tenang! Akhiri saja semua ide gilamu! Aku mengingatkanmu sebagai sahabat, Din,” Sarip berbalik dan memandang tepat ke biji mataku.

“Tapi aku suka sambal, Rip!”

“Ssssstttt…” Sarip menempelkan telunjuk kirinya ke bibirku. Cuih!

Benar saja, beberapa sekon setelah aku mengucapkan kata terlarang itu, pintu didobrak dan lelaki-lelaki bertubuh besar masuk. Aku melompat ke pintu belakang diikuti Sarip yang ketakutan.

“Kita harus kembali ke laboratorium! Tapi kita harus merangkak di dalam pipa, Rip, itu jalan teraman.”

Sarip mengikutiku dari belakang. Beberapa kali kudengar Sarip mengeluh karena kepalanya terantuk bagian atas pipa. Aku hanya bisa meyakinkannya bahwa tak lama lagi kami sampai.

 

Welcome!”

Kubuka pintu rumah yang kusebut sebagai laboratorium. Ada banyak cawan Petri di atas meja beton. Sedangkan pot-pot berisi cabai dan tomat menghiasi meja-meja kayu dekat jendela.

“Biru?”

“Yap.”

“Mereka tetap akan mengetahuinya, Din. Ini tak akan berhasil!” katanya pesimis namun mata itu memandang takjub ke arah tanaman biru rekayasa genetik hasil kerjaku.

Kuulurkan sepiring sambal biru yang tadinya kusimpan di kulkas. Sarip memandangku jengah tapi tetap mencolek sambal dan menjilat telunjuknya.

“Hyuuuu… Selalu tanpa cuci tangan!”

“Anggap saja Staphylococcus aureus sebagai lauknya, Din. Ini… hebat, tapi gila!”

“Dengar, raja negeri ini lebih gila! Dia bertengkar dengan Raja Merah, kakaknya sendiri. Dia melarang semua yang merah dan pedas. Sedangkan sebelum kematian ibuku, beliau ingin makan sambal. Apakah karena sambal adalah komoditi utama Negeri Merah, lantas kita tidak boleh memakannya? Ini tak adil, Rip!”

Sarip menunduk. Aku tahu, Sarip pasti mengingat kejadian itu. Saat Raja Biru dan Raja Merah masih akur, saat kami selalu berbagi dengan penduduk negeri seberang, saat sambal bukan barang haram, juga saat kisah cintanya dengan Maemunah berawal dari sesendok sambal. Hanya karena Raja Merah tidak memakai baju biru saat ulang tahun Raja Biru, semua malapetaka ini tercipta. Bahkan ayahku yang berasal dari Negeri Merah harus kembali dan dilarang masuk negeri istrinya. Sambal kesukaanku pun harus dihentikan peredarannya.

Tiba-tiba kudengar derap langkah tak jauh dari rumahku. Kudorong Sarip ke dalam lemari di pojok ruangan. Belum sempat Sarip protes, kututup pintunya dengan tangan gemetar. Aku tak mungkin lari lagi. Pun aku sudah lelah untuk mencari tempat bersembunyi.

Kusambar kertas biru dan segera kutulis pesan terakhirku. Mungkin tak akan lagi kutemui Sarip dan sahabat yang lain. Setidaknya mereka tahu aku melakukan ini karena patuhku pada mendiang ibu.

Rip, tak akan sia-sia perjuanganku karena ada kau. Kisah kasihmu dengan Maemunah bisa kembali kaurajut. Juga kerinduanku pada ayah bisa saling berpaut. Sambal ini ‘kan jadi tanda cinta kita untuk mereka, Rip. Yakinlah.

“Angkat tangan!”

Sekejap saja berpuluh manusia mengelilingiku, handlingrestrain mereka lakukan layaknya aku ini kera abu-abu. Lelaki berjas mengeluarkan spuit dari kotak. Jarum menembus vena dan… semuanya gelap.

Warna biru di mana-mana. Pilar, lantai, gorden, apa pun itu, semuanya biru. Di kursi bertahtakan ribuan batu safir, pria gendut itu melayangkan pandangannya padaku. Dingin dan seakan bisa membuat semua beku.

“Tenggelamkan dia di Samudera!”

Tangan-tangan kekar sekali lagi mencengkramku. Tak ada pemberontakan yang kulakukan. Aku sudah bersiap menutup mata. Kolam besar berisi balok-balok es yang disebut “Samudera” sudah siap melahap mangsa.

“Satu… Dua… Tiga…”

Byur!

“Udiiiiiiin! Tangi! Durung sholat subuh!” di depanku sudah ada Sarip dengan gayungnya.

Mataku terbuka lebar. Tadi hanya mimpi, tapi kini aku basah dan yang ini bukan mimpi.

 

NB: Ini adalah tugas saya di FLP dengan tema “Aku Suka Sambal”. Karena saya memang pingin jadi penulis fiksi fantasi, saya coba jnulis kayak di atas, tapi akhirnya dibuat hanya dalam mimpi karena karakternya masih sisa banyak 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: