Welcome to my greeeeeny world :D

            “Hoaaaaaaaahhhmmmm… Lapaaaaar!”

            Ani bangun dari pembaringan dan beranjak ke luar kamar, bergabung dengan teman-teman kosnya yang lain. Tanpa ba-bi-bu Ani mencomot gorengan di atas meja lipat.

            “Eeee… Aaaaan, itu buat anak ibu kos!” Mbak Alfi menunjuk-nunjuk gorengan yang sudah masuk ke mulut Ani. Ani malah semakin menikmati makanannya.

            “Kebiasaan buruk banget sih, An! Itu kan bukan punya kamu…” Eca menyenggol lengan Ani.

            “Iya, iya, nanti aku ganti. Buat anak ibu kos aja kenapa repotnya setengah mati sih?”

            “Bukan masalah gantinya, An. Tapi kebiasaanmu itu agaknya perlu diluruskan. Kami sih sudah paham, nah kalau kamu ke tempat lain?” Mbak Alfi mencoba menasihati.

            “Iyaaaaaa… Ampun deh, kalian bawel banget!” Ani berdiri dan masuk ke kamarnya lagi. Mbak Alfi, Eca, dan beberapa teman yang lain cuma bisa saling pandang dan mengelus dada.

^^^^^

            Jam sudah menunjukkan lewat pukul dua siang, Mbak Alfi kebingungan mencari jaketnya yang baru kemarin diangkat dari jemuran. Dia yakin benar bahwa jaketnya sudah dimasukkan ke kamar. Kalau saja tidak akan dibawa pergi camping, mungkin Mbak Alfi tidak akan mencarinya seperti ini. Cuma jaket itu yang paling hangat dan layak dipakai pergi ke tempat umum. Mbak Alfi hampir saja menjerit frustasi kalau Niar—teman sekamarnya—tidak sedang tidur.

            “Wen, lihat jaketku yang warna abu-abu?” Mbak Alfi akhirnya memilih bertanya pada teman-teman kosnya satu persatu.

            “Yang pernah kupinjam itu, Mbak?” Weny mengalihkan pandangannya dari laptop dan memandang Mbak Alfi yang kini mengacak-acak rambutnya.

            “Iya, yang itu, yang ada gambar jerapahnya. Lihat?”

            “Di jemuran kan, Mbak?”

            “Sudah kuangkat kemarin, Wen. Kok bisa hilang begitu aja ya?”

            Mbak Alfi kembali mengacak-acak rambutnya. Frustasi benar dengan kejadian yang baru saja menimpanya. Sebenarnya Mbak Alfi sudah curiga dengan Ani, tapi ditepisnya pikiran buruk itu. Selama ini Ani belum pernah berlaku seperti itu, apalagi padanya yang paling tua sebagai anak kos.

            “Ada apa, Mbak? Kok belum berangkat? Katanya mau kemping?” Eca yang baru datang langsung menjejali Mbak Alfi dengan pertanyaan.

            “Jaketku nggak ada, Ca. Lihat, nggak? Yang abu-abu ada gambar jerapahnya,” Mbak Alfi menjelaskan dengan nada kebingungan yang sangat kentara. Beberapa kali melihat jam tangannya sambil menggigit bibir.

            “Lho? Bukannya tadi dipakai sama Ani?”

            Nah! Mbak Alfi langsung terlihat meledak ketika nama itu disebut. Dia yang awalnya mencoba berpikiran positif sekarang menjadi sangat geram. Laporan yang belum tentu benar itu kontan membuatnya segera menerobos masuk ke kamar Ani yang ada di sebelah kamarnya. Indah yang sekamar dengan Ani terlonjak kaget.

            “Ani mana, Ndah?”

            “Masih keluar, Mbak. Kenapa?”

            “Dia pakai jaketku, ya?”

            Indah cuma bisa membelalakkan mata dan memandang Eca dan Weny yang ada di belakang Mbak Alfi. Indah mencoba mencari penjelasan dari tatapan mata mereka berdua, tapi aura Mbak Alfi jelas membuat buku kuduk Indah meremang dan hanya mampu membuatnya menggeleng lemah.

            “Dia ke mana?” Mbak Alfi tampak tak sabar, tangannya terkepal.

            “Katanya mau beli makan, Mbak,” jawab Indah takut-takut.

            “Ya sudah. Maaf ya, sudah nggak sopan masuk kamarmu tanpa ketuk pintu,” Mbak Alfi mengakhiri permintaan maafnya dengan senyuman.

            Belum sampai tiga detik Mbak Alfi menyunggingkan senyum, suara ‘tersangka’ yang membuatnya marah terdengar dari pintu masuk. Mbak Alfi membalikkan badan dan memandang Ani yang berjalan santai sambil melepas jaket.

            “Mbak, makasih jaketnya,” Ani mengulurkannya tanpa terlihat bersalah.

            Mbak Alfi menarik dan mengeluarkan napasnya dengan pelan, “lain kali izin sama aku dulu, ya, An.”

            “Nah tadi Mbak Alfi nggak ada, Niar juga lagi tidur.”

            Mbak Alfi mangambil jaketnya agak kasar sembari melangkah meninggalkan Ani dan yang lain. Segera dimasukkannya jaket abu-abu itu ke dalam tas. Tak peduli dengan keadaan luar kamar yang masih menegang, Mbak Alfi menutup pintu kamar dan segera bersiap untuk berangkat. Eca dan Weny memelototi Ani yang tidak sadar juga bahwa sikapnya sudah melebihi batas. Mereka menarik Ani masuk kamar lalu menutup pintu kamar hati-hati. Lima menit dalam keadaan diam, mereka mendengar pintu kamar Mbak Alfi terbuka dan setelahnya pintu depan ditutup agak keras.

            “Kamu tuh, An, masih juga nggak kapok!” Eca melepaskan pegangan tangannya pada lengan Ani.

            “Aku? Kapok kenapa memangnya?”

            “Kebiasaanmu pinjam sesuatu tanpa bilang itu keterlaluan, An. Mbak Alfi sampai marah begitu,” Weny tampak sangat kesal. Ani yang dinasihati malah mengibaskan tangan seakan tidak terjadi apa-apa.

            “Nah, begini ini kalau dikasih tahu, Ca, Wen. Dia itu habis divaksin apa sih? Ini demi kebaikanmu, An. Jangan cuma dianggap angin lalu,” Indah yang awalnya hanya memandangi laptop kini ikut menasihati. Lidahnya gatal kalau tidak ikut memberi wejangan pada teman sekamarnya. Selama ini Indah memang cenderung mengalah karena tidak ingin bertengkar dengan Ani yang cuek itu. Ani mungkin bisa mendiamkannya sebulan, tapi Indah tidak mau dianggap patung. Apalagi sikap Ani kadang membuat Indah rugi kalau diam saja. Bisa-bisa ludes semua barangnya kalau Indah tidak menghentikan kebiasaan Ani.

            “Mbak Alfi kan biasa aja, kalian yang terlalu heboh!”

            “Biasa aja gundulmu itu, An! Sudah jelas Mbak Alfi kelihatan marah. Kamu sih memang nggak peka. Sikap cuekmu itu perlu dibuang jauh-jauh, An, bikin orang gemes!” Eca meninggalkan kamar Ani dan Indah.

            “Kenapa dia ikut heboh sih? Perasaan yang kupinjam itu jaketnya Mbak Alfi, bukan punya dia.”

            Weny yang ada di sampingnya tidak berkomentar apa pun meski dia mengingat jelas kejadian yang membuat Eca sampai geleng-geleng kepala. Beberapa bulan yang lalu ketika Ani membuka bisnis gorengan kecil-kecilan untuk dijual di kampus, minyak yang digunakan adalah minyak goring Eca. Awalnya Eca memang memperbolehkan untuk masak, tapi Ani malah menggunakannya untuk jualan, itu pun tanpa izin Eca. Eca sendiri tahu ketika dia melewati dapur dan melihat Ani menuang minyak gorengnya dalam jumlah banyak. Jelas itu minyak goreng Eca karena wadahnya ditandai dengan nama. Setelah minyak goreng habis, Ani tidak memberi tahu Eca dan melupakannya seakan memang tidak ada kejadian apa pun.

            “Kamu akan sadar kalau Tuhan yang menegur secara langsung, An,” Weny pun meninggalkan Ani bersama Indah yang akhirnya memutuskan tidur agar tidak ketularan sebal.

^^^^^^

            “Piringku mana, yaaaaa?” Ani memilah-milah piring yang ada di rak.

            “Ngapain, An?” Niar yang bermaksud mencuci piring heran melihat tingkah Ani. Tak biasanya teman sekosnya itu tampak bingung. Sikap cuek Ani selama ini tidak pernah kalah dengan bingung atau gusar. Ani kan cool.

            “Lihat piringku?”

            “Tumben nyari piring milik sendiri, biasanya main comot piring orang,” Niar mencibir sambil membuka kran.

            “Aku serius, Yar. Aku serius!”

            “Aku juga, An. Kamu kan memang biasanya begitu. Ada apa sih?”

            “Piring itu punya ibu kos. Ibu minta dikembalikan sekarang,” Ani tetap dalam keadaan mencari-cari, targetnya sekarang adalah lemari dapur.

            “Nah, kalau nggak ada, kamu bisa beli lagi kan? Tuntas deh perkara,” Niar santai menanggapi sedangkan Ani makin gusar karena di sana pun tidak ditemukannya jejak si piring yang pernah diakui sebagai piring miliknya.

            “Kalau aja piringnya bisa dibeli sama uang dua puluh ribu, Yar. Piring ini satu set bersama pecah belah ibu kos yang lain. Kabar yang aku dengar, piring ini dibeli di luar negeri. Bisa mampus aku kalau mesti ke luar negeri demi sebuah piring!” Ani mulai kelabakan mencari di rak yang sudah berkali-kali dijamahnya.

            “Nah, piring itu kenapa bisa di tanganmu?”

            Ani menghela napas. Sebal juga karena diinterogasi macam maling, tapi mungkin saja dengan memberi tahu Niar, dia mau ikut membantu mencari piring ibu kos yang sedang main petak umpet dengannya.

            “Waktu aku baru pindah ke sini, aku pinjam ibu kos, lalu keterusan tiap mau makan langsung ambil. Ibu nggak protes, jadi kupikir oke-oke aja.”

            “Tuh, kan! Kebiasaanmu memang harus segera ditertibkan, An!”

            “Iya, iya, sekarang bantu aku nyari piringku,” timpal Ani tak sabar.

            “Piring ibu kos, An! Piring ibu kos!” Niar meralat berkali-kali dengan penekanan agar Ani sadar dengan kesalahannya.

            Mereka berdua mencari lagi lebih teliti, menanyakan pada penghuni kos yang lain, bahkan membongkar rak piring di lantai atas, semua dilakukan demi piring ibu kos yang katanya made in luar negeri. Hingga akhirnya Ani berselonjor di dekat rak sepatu dan matanya menemukan benda yang mirip dengan piring ibu kos.

            “Yar! Ketemu, Yar!” Ani bersorak sambil menunjuk ke arah bawah rak sepatu. Ani tidak peduli bagaimana kronologi piring itu bisa sampai di bawah rak sepatu, yang penting adalah piring itu ketemu dan bisa segera dikembalikan.

            Kebahagian Ani langsung lenyap ketika benda pecah belah itu dikeluarkan dari bawah rak sepatu. Bentuknya tak lagi bundar, malah lebih mirip biskuit yang sudah tergigit. Niar yang ada di dekatnya ikut terlihat syok.

            Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut Ani. Niar sendiri sibuk mengusap-usap punggung Ani seakan menyuruh Ani untuk ikhlas. Tapi mana mungkin Ani bisa ikhlas? Bayangan harus ke luar negeri demi sebuah piring berseliweran di benak Ani. Dia hapal benar dengan tabiat ibu kos bila kehilangan sesuatu, bisa sampai bertahun-tahun kekesalan itu mengendap di hati beliau. Wajah ibu kos tadi waktu meminta piring beliau dikembalikan saja sudah membuat Ani merinding. Ani tidak menyangka bahwa piring ibu kos yang terlihat murahan ternyata harus dibeli di negara yang tidak disebutkan ibu kos. Membuat Ani semakin ngeri bila tahu faktanya.

            Berbeda dengan pemandangan menyedihkan di dekat rak sepatu. Di sana, di meja makan rumah ibu kos, lima wanita termasuk ibu kos malah sedang tersenyum-senyum.

            “Jadi, ibu bilang piring itu belinya di luar negeri?” Eca tersenyum sambil mencomot pisang goreng yang memang disiapkan ibu kos untuk mereka.

            “Iya, kan biar makin serem. Padahal piring itu hadiah detergen. Aneh kan Ani nggak sadar?” ibu kos nyengir.

            “Hahaha… Ibu nih top markosip. Bisa aja bikin cerita, kalau dibikin novel bisa laris, Bu,” Weny mengacungkan jempol, “tapi nanti Ibu bilang apa sama Ani? Masa’ dia disuruh ganti piring dari luar negeri?”

            “Nggaklah, Wen. Tapi boleh juga sih kalau Ani mau ganti pakai piring buatan luar negeri. Hehehehe,” ibu kos tampak sangat menikmati perannya. Beliau memang dimintai tolong oleh Eca, Weny, Indah, Mbak Alfi, Niar, dan beberapa yang lain untuk memberi sedikit pelajaran kepada Ani karena penyakit ‘suka pinjam tanpa bilang’ Ani sudah sangat kronis. Ibu kos hanya ingin membuat Ani lebih menghargai perasaan orang lain. Ibu kos juga tahu bahwa piring yang dipinjam Ani tanpa permisi sudah pecah meski tidak tahu siapa yang memecahkan. Untuk membuat Ani susah menemukannya, ibu kos meletakkan pecahan piring itu di bawah rak sepatu. Ganjil memang, tapi Ani kan tidak menyadari keganjilan itu.

            “Semoga Ani tobat…” doa ibu kos.

            “Aamiin…” Eca, Weny, Mbak Alfi, dan Indah menutup mata khidmat.

            “Dan semoga Niar berperan dengan baik serta tidak tertawa sebelum semuanya selesai…” lanjut ibu kos.

            “Aamiin…” suara mereka makin keras

^^^^^^^^^^^^^^^

            Bismillaah…

            Assalamu’alaykum warahmatullaah 🙂

            Halloa! Gimana kabarnya? Masih bingung mau milih capres yang mana? Tinggalin sebentar masalah capresnya, baca tulisan saya aja 😀

            Pernah gak sih mengalami kejadian Mbak Alfi di atas? Atau malah pernah jadi Ani yang suka pinjem nggak bilang-bilang? Well, sebenernya kejadian di atas itu saya tulis berdasarkan pengalaman pribadi maupun orang yang saya kenal. Sebenarnya kenapa sih saya berani nulis itu? Apa mau buka aib orang? Bukan. Bukan. Saya bukannya mau buka aib orang lain, Cuma berharap ini nanti jadi salah satu pengingat kita ketika mau melakukan hal yang bisa merugikan orang lain.

            Apa salah pinjem barang atau makan makanan milik teman? Nggak kok. Itu wajar, namanya juga berteman, harus bisa saling berbagi. Tapi bukan berarti kita nggak bilang dong. Bagaimana pun, sesuatu milik orang lain itu bukan hak kita. Kita wajib minta izin terlebih dahulu, kecuali kita udah ada kesepakatan, misalnya waktu PKL, makanan yang ada di kamar berhak dimakan siapa aja. Nah, kalo yang itu boleh kita makan suka-suka, kan pemiliknya sudah ngasih izin.

            Kalo masalah halal dan haram, itu bukan kapasitas saya untuk menyampaikan. Ilmu saya terlampau sedikit buat membahas ini. Tapi saya Cuma mau bilang kalo sikap kita kayak Ani di atas jelas merugikan teman-temannya. Mbak Alfi yang mau pergi camping jadi harus menunda keberangkatannya, sekali pun hanya menahan Mbak Alfi beberapa menit, tapi yang namanya merugikan tetap merugikan. Untungnya, Ani ini masih dibalas sama manusia, coba kalo balasannya lebih wow?

            Belum lagi kalo udah hamil. Kudu hati-hati banget makan-makanan yang bukan punya diri sendiri. Saya sih waktu PKL kemarin nggak jadi makan snack temen karena belum dapet izin resmi dari beliau. Sekalipun sebenernya yang ada di kamar itu juga buat bareng-bareng. Saya takut janin saya makan makanan yang bukan haknya. Kalo nggak ngaruh ke sifatnya gapapa, nah kalo anak saya jadi suka ngembat barang orang lain gimana? Na’udzubillaahi min dzalik. Jangan ya, Dedek, ya… Itu nggak baik, Sayang *elus perut*

            Mungkin begini dulu yang bisa saya tulis. Barangkali ada pesan-pesan yang bisa diambil selain dari yang saya tulis tadi. Betewe, kalo nemu teman yang kayak tokoh Ani di atas, sabar aja, jangan ngletakin barang sembarangan lah kalo nggak mau dipinjem. Kalo ikhlas sih gapapa, munglkin emang pingin amal banyak ya lebih baik. Nah kalo yang baca merasa punya karakter kayak tokoh Ani, mending segera bertobat deh. Hihihi. Setidaknya kalo mau pinjem sesuatu bilang dulu sama yang punya, kalo mau makan makanan punya orang mending minta izin dulu. Kasian tubuh kita kalo harus mengambil sari-sari makanan yang bukan haknya.

            Mohon maaf kalo ada kesalahan. Semoga bisa memberi manfaat. Oh iya, semua nama di atas nggak ada hubungannya sama nama-nama yang saya kenal kok. Cerpen itu saya bikin jauh-jauh hari, ngendonnya aja yang lama, jadi baru bisa dirilis sekarang. Kesempurnaan hanya milik Allah SWT dan kalo ada kesalahan tentu saja berasal dari saya yang fakir ilmu. Wallahu a’lam bishshawab.

            Wassalamu’alaykum warahmatullaah 🙂

 

Lab. Parasitologi, 24 Juni 2014

^hikari_hamzah yang sedang belajar jadi ibu^

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: