Welcome to my greeeeeny world :D

Cerpen “Ngidam”

NGIDAM

 

“Mas… Mas, bangun, Mas…”

Sayup-sayup kudengar suara istriku memanggil. Tangan hangatnya menggoyang-goyangkan tubuhku yang terbungkus selimut. Sepertinya aku baru saja tertidur, tapi kenapa istriku sudah membangunkan? Memangnya ini sudah masuk waktu Subuh? Kulihat jam dinding, jarum pendek menunjuk angka satu dan jarum panjangnya menunjuk angka lima. Setengah dua kurang lima menit.

“Ada apa, Dik? Hoaaahm…” kupandang wajah istriku yang terlihat cemas, “Kamu mimpi buruk?”

Sinta—istriku—menggeleng pelan. Tangannya masih bergelayut di lenganku.

“Mau ke kamar mandi?” tanyaku lagi. Sinta masih tetap menggeleng.

“Mau es krim…” katanya lirih, mulutnya mengerucut.

“Hah? Mau apa?”

“Es krim, Mas… Es krim yang rasa stroberi…” jelasnya. Kantukku hilang sudah mendengar permintaan anehnya. Mana ada toko yang buka jam segini?

“Ada minimarket di ujung gang yang buka 24 jam, Mas…” terangnya seakan tahu apa yang kupikirkan.

“Tapi, Dik.. Ini masih malam, besok pagi saja ya… Besok beli yang banyak deh!” kataku menyanggupi. Sinta malah menunduk sambil tangannya mengelus perut.

“Ngidam?”

“Iya…” jawabnya sambil tetap manyun.

^^^^^^

“Ngantuk, Bos?” Ridwan yang ada di meja samping menyenggol lenganku. Aku mengangguk.

“Tahajudnya kelamaan ya?” goda Arif yang ada di depan meja kami.

“Istri ngidam, Bos. Jam setengah dua pagi,” terangku sambil mengucek mata.

“Sudah berapa bulan hamilnya?”

“Baru trimester pertama. Tiga bulan.”

“Ngidam apa sih sampai ngantuk begitu? Minta mukul kentongan satpam?” tanya Ridwan lagi. Aku mengerutkan kening.

“Ngidam es krim stroberi, Wan.”

“Halah, gampang itu. Kupikir ngidam apa sampai ngantuk begitu. Hahahaha,” Ridwan malah menjotos lenganku.

“Susah, Bro, cari toko yang buka jam segitu. Minimarket yang biasanya buka 24 jam tadi malam tutup. Terpaksa muter-muter cari sampai ke perumahan sebelah. Mana jalan di perumahan sebelah banyak yang ditutup karena ada perbaikan jalan. Jadilah sejam cari jalan yang bisa dilewati. Es krim sudah dapat, istri minta ditemani makan dilanjut sholat tahajud. Baru juga mau tidur lagi, eh, dari masjid sebelah sudah kedengaran adzan. Ya sudah nggak bisa tidur lagi.” kujabarkan kejadian tadi malam pada Ridwan dan Arif. Mereka mengangguk sambil menepuk-tepuk bahuku.

“Sebenarnya ceritamu nggak lebih amazing dibanding ceritaku, Lang,” Arif mendekatkan kursinya ke meja kami.

Dibandingkan kamu yang bisa cari es krim di minimarket, permintaan istriku ini hampir mustahil dikabulkan. Dia minta aku belikan ayam kecil-kecil yang diwarnai macam-macam itu. Nggak tanggung-tanggung, dia minta beli selusin! Itu jam tiga pagi, Bro!”

Arif menyodorkan tiga jarinya di depan wajahku. Duh, bau terasi!

“Terus, kamu beli dimana?”

“Untungnya tetanggaku jualan ayam kecil-kecil itu.”

“Gampang dong?” Ridwan protes.

“Siapa bilang? Sebelum aku tahu tetanggaku jualan, aku sudah cari ke pasar mana-mana. Sampai Subuh nggak nemu juga, akhirnya aku minta petunjuk ke Allah. Aku sholat dulu di masjid dekat rumah karena aku berniat pulang. Mungkin karena lihat mukaku sudah kusut, ta’mir masjidnya tanya, aku jelasin semuanya. Eh, rejeki nggak ke mana, ta’mir masjid bilang tetangga yang rumahnya di ujung jalan jualan anak ayam warna-warni. Sayangnya waktu sampai sana ayamnya belum dicat, jadilah harus nunggu sampai pagi.”

“Tapi untung sukses ya? Istri seneng dong?” tanyaku.

“Sukses sih sukses, tapi yang bikin gregetan nih, Bro, sampai di rumah, istri minta ayamnya dilepasin semua. Kasihan katanya! Sakitnya tuh di sini, Brooo!” Arif mengelus dadanya. Aku dan Ridwan ngakak.

“Nah kalau ente, Wan? Masa’ sih nggak ada cerita istri ngidam aneh-aneh?”

“Ada lah! Dan dijamin cerita ini lebih keren dari cerita yang kalian punya!” katanya berapi-api.

“Minta mukul kentongan di pos satpam katamu tadi? Hahahaha!”

“Tepat!” Ridwan menepuk pundak Arif, “kurang gila apa coba? Mintanya pas tengah malam, Men!”

“Trus langsung terkabul nggak itu ngidamnya?”

“Ya terkabul, Men. Tapi after effect-nya itu yang bikin malu. Boro-boro mukul kentongannya pelan, istri malah mukul kentongan kayak main gamelan! Mungkin karena dulu aktivis karawitan, jadilan kentongan di pos satpam malah dianggap kayak gamelan! Dan nggak tahu gimana ceritanya, bapak-bapak langsung ngumpul di pos satpam, dikira ada maling, Bro. Mungkin kalau bukan karena ada istriku yang masih di situ, aku sudah jadi Ridwan panggang. Mau nggak mau paginya aku minta maaf sekali lagi sambil bawa buah tangan ke warga sekitar. Untungnya mereka mau maafin.” Ridwan mengakhiri ceritanya sambil menelan ludah.

“Tapi masa’ ngidamnya nggak bisa dipending sih?” tiba-tiba ada seseorang yang dari tadi mendengarkan cerita kami. Ferdi yang tempat duduknya bersebelahan dengan Arif, kini sudah berdiri di depan kami.

“Nah, ini yang calon manten perlu briefing dulu sebelum memasuki samudra pernikahan. Sini, Bro!” Arif menyeret kursi untuk diduduki Ferdi.

“Sebenarnya bisa aja sih dipending. Pas anak pertamaku begitu. Istri sering banget minta ini-itu yang sebenarnya gampang dicari. Tapi karena aku pikir dia Cuma bercanda ya sudah aku abaikan,” jelas Arif.

“Terus kenapa malah nurutin yang aneh di kehamilan selanjutnya, Mas?”

“Soalnya waktu kehamilan pertama dulu dan ngidamnya nggak keturutan, istri sering nangis diam-diam. Awalnya kupikir karena takut melahirkan. Tapi mungkin waktu itu amarahnya sudah ke ubun-ubun, istri langsung nangis histeris sambil bilang nggak mau hamil lagi. Dia bilang hamil itu capek, tapi diperhatikan aja nggak. Dari situ aku tahu kalau istri sebenarnya ingin diperhatikan lebih lewat ngidam-ngidamnya. Makanya sebelum hamil kedua aku bikin perjanjian sama istri, kehamilan keduanya harus dibantu dengan perhatianku.” Arif mengakhiri ceritanya dengan senyum kecil.

“Nah kalau Mas Ridwan kenapa permintaannya istri dituruti?”

“Intinya sih sama, tapi mungkin faktor lain yang mendukung adalah istri rela hamil waktu masih kuliah. Padahal waktu itu sudah direncanakan hamilnya setahun setelah lulus. Kuliahnya istri agak berat dan harus sering turun ke lapangan, belum lagi pressure-nya cukup banyak, jadilah aku berniat mengabulkan apa yang dia minta, toh selama sembilan bulan hamil ngidamnya Cuma beberapa kali walaupun semuanya aneh-aneh.”

“Jadi, Fer, nanti kalau istrimu ngidam, jangan nolak terus. Sesekali bolehlah dituruti. Itu anak yang ada di rahim istrimu kan hasil berdua. Maryam saja yang nggak punya suami, dibahagiakan oleh Allah ketika hamil. Masa’ kita yang sudah menanam benih nggak bisa membantu istri mengurangi rasa lelahnya? Itu kreasi berdua, bukan punya istri sendiri. Ya memang kita yang cari nafkah, tapi bayangkan waktu kita masuk angin tiga hari saja sudah repot, apalagi istri yang harus mengandung sembilan bulan. Belum lagi sembilan bulan itu kita minta jatah juga nggak berhenti, masa nurutin pinginnya istri aja nggak sanggup?”

Ferdi dan aku mengangguk-anggukkan kepala.

“Lagipula kalau bukan kita, siapa lagi? Mau istrinya ngidam ke orang lain? Malu dong kalau keinginan istri malah dipenuhi orang lain? Nanti malah hatinya terpaut ke orang itu!”

Sekali lagi aku mengangguk. Ah iya, kemarin Sinta minta dibelikan buah jeruk. Semoga ngidamnya belum lewat.

^^^^^^^

Advertisements

Comments on: "Cerpen “Ngidam”" (2)

  1. katamiqhnur.com said:

    baru kali ini nemu cerpen dengan judul diatas. hahaha..
    bagus tulisannya..
    salam kenal yaa ..
    jangan lupa visit back yaa, ngga kbakal rugi deh..
    katamiqhnur.com

    • hikarihamzah said:

      Wohoho, iya terima kasih sudah berkunjung. InsyaaAllah segera visit balik ke sana 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: