Welcome to my greeeeeny world :D

Bismillaah…

Semoga tulisan ini tidak menjadi salah satu sumber perpecahan. Yang ditulis di sini hanya untuk memberikan opini, barangkali bisa membuka mata kita tentang arti toleransi. Bukan yang membabi buta, bukan yang merusak akidah. Semoga apa yang ditulis tidak menjadikan silaturahim menjadi rusak…

 

“Apa sih salahnya kita punya pemimpin non-Muslim? Selama pemimpin itu adil dan bersih, kenapa tidak kita beri kesempatan mereka untuk memimpin kita walaupun agamanya berbeda?”

Begitu panas kuping ini mendengar statement macam begitu. Dan yang begini ini biasanya karena takut dianggap tidak toleran, rasis, suka membedakan, separatis, fanatik. Sampai-sampai memberitahukan kebenaran pada dunia saja takut akan vonis manusia.

Seakan-akan tidak ikhlas bila agama lain didzalimi, kenyataannya agama sendiri tidak dibela. Padahal kalau kita mau membuka mata, meskipun umat Islam di Indonesia jumlahnya paling banyak, namun secara persatuan dan kesatuan begitu rapuh. Saling menjelekkan, saling menjatuhkan, saling mengatai sesat, saling mengolok, seakan tidak ada yang lebih baik dari kelompoknya. Ketika murid-murid muslimah di Bali dilarang memakai jilbab, apa yang sudah kita perbuat? Apakah kita sudah mensupport mereka setidaknya dengan doa? Atau kita malah berseloroh, “namanya juga mayoritas di sana beragama Hindu, ya wajar dong dilarang pakai jilbab!”

Apa sudah sebegitu terbiasanya hati kita dengan keburukan sehingga kebaikan sendiri terasa menyakitkan, terasa asing? Sebaliknya, ketika umat agama lain berusaha untuk mendoktrin kita dengan kepercayaan mereka, kita enteng saja bilang itu semua toleransi. Hingga suatu ketika kita tidak akan sadar bahwa kita mengikuti ajaran mereka selangkah demi selangkah, sedepa demi sedepa, lalu kita sudah keluar dari agama kita sendiri.

Begitu indah titel “Toleransi Beragama” di telinga kita hingga kita terlena, tak sadar bahwa Islam dirongrong dari dalam, bahwa orang-orang di sana berusaha menghancurkan Islam. Mau tidak mau itu adalah fakta yang harus kita terima. Allah sendiri yang telah berfirman bahwa mereka (Yahudi dan Nasrani) tak akan pernah puas sampai kita mengikuti mereka. Tidak percayakah kita pada Allah? Lalu kenapa kita masih tidak mau membentengi diri? Kenapa kita masih mengikuti budaya mereka: Valentine’s day, Halloween, April Mop, Natal.

Bagaimana bisa kita bisa membela saudara kita jika media massa yang kiita baca adalah media yang begitu menggebu menyerang Islam? Headline mereka menampilkan “kejahatan” tokoh-tokoh muslim. Begitu besar, begitu provokatif, begitu mendidihkan darah menyulut amarah! Tapi tidak adakah tokoh-tokoh muslim yang berprestasi? Ada! Banyak! Lalu ke mana pemberitaan tentang mereka? Bukankah mereka harusnya juga diberitakan secara besar-besaran bahwa mereka adalah pahlawan bagi Indonesia? Oh oh, sayang sekali memberitakan tokoh muslim dengan kebaikannya tidak akan meraup keuntungan yang banyak, memberitakan mereka hanya akan membuat citra Islam semakin baik.

Begitulah kemudian kita bertindak. Asal sudah syahadat, sholat, zakat, puasa, haji, kita merasa cukup, merasa tak perlu lagi amar ma’ruf nahi munkar. Semua dirasa cukup bila tidak mengganggu orang lain. Kebaikan yang begitu besar tetap tidak terorganisir dan dikalahkan oleh kejahatan yang terorganisir dengan baik. Lalu ketika ada aksi pemberantasan kemaksiatan yang agak keras, dengan mudahnya kita berujar, “lihat tuh, malu-maluin Islam aja, main rusak usaha orang! Malu aku jadi umat Islam!”

Tidak malukah kita ketika berujar seenaknya seperti itu? Mereka dengan keberaniannya membuktikan sebuah iman. Sedangkan kita di sini selemah-lemahnya iman saja tidak punya. Yang kita lakukan malah menghujat aksi mereka. Begitu hebatnya media sekuler membuat kita menjadi pembenci saudara kita sendiri.

Sebuah kejadian di mana mushalla diinjak saja hanya membuat kita melirik sekilas, semua dianggap hal itu wajar saja demi membela negara, demi kedamaian bangsa. Lalu kapan kedamaian untuk ber-Islam tercipta? Ketika takbir keliling tak diizikan, sedangkan perayaan tahun baru (yang bergandengan dengan Natal) disambut bak kemerdekaan. Tentu saja merdeka: merdeka dari taat, merdeka untuk bermaksiat.

Begitu mudah. Begitu mudahnya kita membiarkan Islam diinjak dengan dalih toleransi yang ujung-ujungnya melemahkan iman. Menutup mata pada realita bahwa Islam dipecah belah dengan rasa saling curiga. Padahal tiap ibadah ada dasarnya. Kini ketika Syiah mulai merangkak maju, entah apa masih ada sadar dalam diri. Ketika JIL terus menggebu menyebarkan liberalismenya, entah apa masih sanggup tunduk pada Qur’an dan sunnah shahih. Begitu bangga dengan teori pluralism, hingga apa-apa yang mendekatkan saudaranya ke dalam dosa dianggap biasa. Dan demi cintanya pada penilaian manusia, kita malah berani mengabaikan kalam Ilahi. Lalu, dengan pongahnya kita ganti semua itu dengan teori: liberalisme, pluralisme, permisifisme, dan toleransi.

Astaghfirullah… Astaghfirullaah…

Wallahu a’lam.

 

*Ditulis di tengah hiruk pikuk pelarangan FPI hingga pemakaian atribut Natal bagi pekerja*

 

Rumah Cinta, 8 Desember 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: