Welcome to my greeeeeny world :D

Bismillaah…

            Assalamu’alaykum warahmatullaah :’)

            Bagaimana kabarnya? Baik? Sehat? Imannya gimana? Amalnya? Ilmu? Ehehehehe…

            Membaca judul di atas tidaklah mengagetkan saya rasa. Banyak orang yang bersekolah di jurusan tertentu tapi kemudian beralih ke profesi lain setelah lulus. Ya, mungkin karena ketika dia sekolah, bukan ijazah dan pekerjaan yang diatuju, tapi bisa jadi karena hobi dan keinginan untuk mengembangkan potensi.

            Saya sendiri termasuk yang seperti itu sih saya rasa. Meskipun saya kuliah di kedokteran hewan (yang pada awalnya saya rasa saya nyasar sekolah di sini), tidak mengubah keinginan saya untuk jadi seorang penulis, meskipun sekarang masih terseok-seok dalam menentukan ide. Saya kadang berpikir bahwa menulis tidak harus menelurkan buku, tapi menyampaikan ibrah dalam bentuk tulisan dan dibaca banyak orang termasuk ciri penulis juga (ngeles.com).

            Seiring bergulirnya waktu, bahkan setelah saya melewati hari-hari koas (yang sampai sekarang belum selesai karena harus cuti melahirkan), saya makin dipusingkan dengan profesi yang akan saya ambil nanti. Apakah saya akan mendirikan klinik sendiri? Mampukah saya dengan ilmu saya yang masih cetek? Atau apakah nanti saya akan bekerja di perusahaan atau peternakan milik orang lain? Mampukah saya tetap menjadi seorang ibu yang memperhatikan suami dan anak di rumah bila seperti itu? Atau saya malah harus banting setir ke pekerjaan yang membuat saya bisa tetap membantu suami mencari nafkah tanpa harus keluar rumah? Pertimbangan saya tentu saja karena kemuliaan wanita adalah di dalam rumahnya (ngeles.com lagi :v)

            Pikiran yang berlalu-lalang seperti itu cukup membuat saya stress sebenarnya. Keluarga besar saya awalnya tidak mengizinkan saya menikah sambil kuliah karena baiknya wanita bekerja dulu sebelum menikah. Tapi tidak di mata saya. Saya harus menghalangi diri saya dari maksiat dulu. Siapa yang akan menjamin ketika saya bekerja lalu dosa saya tidak menumpuk akibat maksiat? Dan ya, setelah menikah saya jadi lebih mudah menyerap pelajaran, mungkin itu juga karena pintu maksiat tertutup sehingga ilmu yang masuk lebih mudah.

            Namun setelah menikah dan hamil (doakan ya, insyaaAllah menunggu hari kelahiran si dedek :’) ), pikiran untuk bekerja di luar negeri—ingin sekali kerja di Afrika—jadi kandas. Bisa sih kalau suami ikut ke sana. Apalah artinya kalau saya harus LDM dengan suami. Koas saja bikin saya merana karena sering berjauhan dengan suami (manten anyar, meeeen… dan jauhan itu rasanya kayak separo jiwaku pergi. LOL). Pun jadwal koas yang harus saya tinggalkan dan harus saya selesaikan nanti setelah melahirkan cukup membuat saya kelimpungan. Ingin sekali menemani dedek sampai 6 bulan dengan asi eksklusif yang langsung saya berikan. Membayangkan harus berjauhan dengan si kecil membuat saya merasa menjadi ibu terjahat di dunia.

            Sudah kita ketahui bahwa kebanyakan prestise memang menjadi tolok ukur dalam masyarakat kita. Sekolah yang bagus, pekerjaan yang sesuai, gaji yang memadai, hal-hal itu berada dalam satu garis yang akan membuat kita disebut sukses. Sekolah di kedokteran dan jadi dokter spesialis, buka praktik sendiri sekaligus di rumah sakit, gaji selalu berlipat dari kebutuhan pokok. Ya, seperti itulah gambaran sukses yang selalu digaungkan. Bandingkan dengan yang seperti ini: sekolah di suatu bidang pelayanan masyarakat, pekerjaan berjualan secara online (entah apa yang dijual), pendapatan cukup besar. Ini bisa jadi dianggap tidak sukses padahal pendapatannya bisa jadi lebih besar daripada harus bekerja pada orang lain. Kesesuaian jurusan sekolah dan pekerjaan selalu dikaitkan sebagai ciri kesuksesan. Nah begini ini yang bikin saya jadi sumpek. Ahahahaha. Tuh kan, jadi ketawa aneh!

            Melihat teman-teman saya yang kini sudah bekerja dan sesuai dengan kuliahnya, saya tidak bisa memungkiri bahwa itu keren sekali! Mereka yang suka di per-ayam-an dan akhirnya bekerja di peternakan ayam, mereka yang lebih suka hewan peliharaan dan bekerja di klinik maupun rumah sakit hewan, mereka yang suka dengan hewan besar dan bekerja di peternakan hewan besar, atau yang suka akuatik dan akhirnya bekerja di kebun binatang. Mereka-mereka ini saya bilang sangat keren! Mereka mampu untuk menyesuaikan sekolah mereka dengan pekejaan yang mereka lakukan.

            Namun, ternyata setelah ditelusuri, tidak semua sebenarnya punya passion di skolah yang sedang digeluti. Saya sendiri disebut dokter hewan yang ingin jadi penulis, lalu tiga teman saya yang lain meskipun sekolah di kedokteran hewan ada yang ingin jadi duta besar, desainer, dan penyiar. Tidak ada yang salah menurut saya. Seiring berjalannya waktu pasti ada perubahan. Saya sendiri dari awal memang ingin jadi penulis kok. Saya membayangkan akan bisa menerbitkan satu buku (dan kini bayangan itu makin memudar hahahaha). Respon keluarga besar tentu sebenarnya tidak mendukung. Tapi suami mendukung sekali! Apa sih prestisenya seorang penulis? Bahkan dulu ketika saya masih sangat gencar menulis, yang ada di pikiran keluarga saya adalah bahwa menulis itu nantinya dijadikan sebagai modal menulis skripsi. Tapi apa hasilnya? Skripsi saya molor. Bukan itu, tulisan saya tidak dimaksudkan hanya sebagai alat pengejar ijazah, ada hal lain yang saya yakini lebih bermanfaat.

            Akhir-akhir ini sering saya berdiskusi dengan suami, apa yang bisa saya lakukan sembari di rumah menjaga si kecil nanti? Saya sempat bilang ingin bekerja di sebuah klinik kecil di perumahan tempat saya tinggal. Tapi suami sepertinya tidak senang. Oke, abaikan saja yang itu. Banyak hal yang berkaitan dengan hobi yang berseliweran di benak saya. Karena saya kuliah di kedokteran hewan, saya ingin beternak. Ya, beternak, meskipun agak melenceng, saya ingin beternak lebah. Atau saya bisa beternak sapi? Yang kemudian dagingnya bisa dijamin kehalalannya dengan proses penyembelihan yang sesuai dengan syari’at. Atau saya berjualan lewat online shop? Saya bisa menjual produk yang dibutuhkan para muslimah. Ya, apapun asalkan suami ridho dan saya bisa menyisihkan uang dengan bekerjadengan hasil yang berkah.

            Saya yakin tidak mudah nantinya ketika saya memutuskan melakukan pekerjaan yang tidak sesuai dengan jurusan sekolah saya. Hei, saya juga ingin bekerja sesuai dengan sekolah saya selama ini. Tapi ada banyak hal yang saya pikirkan, termasuk si kecil. Seorang ibu adalah madrasah bagi anaknya, saya tak ingin kehilangan momen penting perkembangan anak saya. Benar memang seharian di rumah dan hanya berkutat dengan pekerjaan rumah tangga bisa membuat stress, salah satu yang membuat bahagia adalah bekerja. Tapi bekerja juga tidak harus di luar rumah, saya takut nantinya terlalu fokus di luar dan mengabaikan anak-anak saya. Padahal banyak ibu di luar sana yang hebat karena bisa berkarir dan menjadi ibu rumah tangga yang baik. Tapi tidak bagi saya, saya tidak yakin bisa seperti itu. Saya tetap ingin melihat tumbuh kembang anak-anak saya dan bekerja yang bisa dihandle di rumah.

            Banyak cerita di luar sana. Seorang suami atau istri yang kemudian resign dari pekerjaannya dan beralih ke perniagaan, akhirnya pendapatannya berkali-kali lipat. Semoga lebih barakah ya… Padahal kalau dilihat, pekerjaan itu melenceng dari sekolahnya. Tapi apakah sekolahnya sia-sia selama ini? Tidak. Aktivitas di sekolah tidak hanya mencari ilmu eksakta, tapi juga ilmu sosial. Ada banyak yang bisa diambil pelajaran ketika bersekolah. Dan saya yakin pelajaran dari perjalanan sekolah bisa bermanfaat sangat besar ketika menjalani hidup.

            Akhirnya dari semua yang saya curhatkan tadi, saya cuma ingin bilang bahwa kita bisa bersekolah di mana pun, tapi kita bisa bekerja di mana pun juga. Sekolah bukan cuma untuk mencari pekerjaan, tapi adalah tempat mencari pengalaman dan pelajaran hidup. Sekolah dimaksudkan untuk membuat kita lebih bertaqwa dan meyakini kebesaran-Nya. Bila nanti lulus sekolah dan bekerja tidak sesuai dengan pekerjaan, bukan berarti tidak sukses karena setiap orang punya parameter kesuksesan yang berbeda. Dan bagi yang bisa mensinkronkan antara sekolah dan pekerjaannya kelak, saya sungguh kagum. Tidak mudah untuk bisa mempertahankan sebuah passion. Orang-orang seperti itu adalah yang istiqomah dalam hidupnya dan tentu dari awal memang punya coretan-coretan rencana yang tidak main-main.

            Sedangkan untuk saya sendiri… Hhhh… kadang susah kalau harus mengikuti keinginan banyak orang, apalagi bila harus mendengarkan cerita kesuksesan saudara yang akhirnya dibandingkan dengan kita sendiri. Ada banyak hal yang perlu dikoreksi termasuk kejernihan hati. Coba ditengok, apakah hati itu begitu kotor sehingga terasa sempit segala yang terjadi? Cobalah untuk ikhlas dalam menjalani kehidupan yang ada. Bersyukurlah atas kondisi yang selama ini telah berlalu tanpa harus berputus asa dari rahmat Allah. Mendengarkan semua omongan orang hanya akan membebani diri. Kadang memang perlu, mungkin itu cara Allah menyampaikan koreksi-Nya, tapi ada kalanya omongan itu dibiarkan saja. Setiap orang punya takdir yang berbeda. Setiap orang punya jalan sendiri-sendiri. Tapi begitu bahagia yang bisa bersyukur setiap hari. Pekerjaan apa pun yang nantinya digeluti, ingatlah bahwa yang terpenting adalah berkahnya, halalnya, dan pendapatannya (hehehehe). Sekarang fokus pada kelahiran sang buah hati, lalu selesaikan hutang koas yang sempat tertunda. Belajar dan belajar, tak ada yang sia-sia selama bisa mengambil ibrah. Ayo, Cahyaaaa… Yang penting ikhtiar yang kuat, lalu serahkan pada Allah yang Mahahebat!

 

Rumah Cinta, 15 Desember 2014

3:26 AM

 

^Cahya Andina Thalib_ yang sedang menanti kelahiran buah cintanya dengan suami—Mirza GK^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: