Welcome to my greeeeeny world :D

            Izinkan kuceritakan sedikit tentang kebiasaan para ibu lewat pengalamanku menjadi anak mama selama 22 tahun. Selama ini, aku sudah mulai mengumpulkan banyak bukti dan kurasa bukti-bukti ini akurat untuk mengambil kesimpulan dan membuat premis mayor dari semua kejadian yang melanda para ibu di seluruh dunia. Mmm.. mungkin hanya beberapa sih, termasuk mama.

—-

            “Max! Masih tidur?”

            Kudengar sapaan mama pagi ini tepat sebelum aku membuka pintu kamar. Masih dengan sarung kotak-kotak warisan eyang, aku keluar kamar sambil sedikit terpejam. Matahari bahkan belum menyapaku mesra, tapi mama sang pahlawan tanpa tanda jasa keluargaku sudah menunggu dengan rol rambut dan daster kembang-kembang kesayangannya yang penuh dengan ventilasi berukuran mikro di sana-sini.

            “Iya, Ma, ini sudah ganteng,” jawabku sambil garuk-garuk kriboku.

        “Kamu ke kampus nggak hari ini?” mata mama berkilat-kilat. Pasti ada yang ingin dikerjakan dengan melibatkan putranya yang paling ganteng se-Indonesia Raya ini.

            “Nggak, Ma. Istirahat dulu. Dosen pembimbing lagi ke luar negeri, nggak bisa konsultasi skripsi.”

           “Kalau gitu kamu ikut Mama, ya,” mama menepuk lenganku. Pasrah kuanggukkan kepala. Tidak ada jalan lain bila tidak ingin uang jajanku disunat. Lagi pula itu bukan pertanyaan, itu titah Kanjeng Ratu.

            “Jam sembilan tet, ya, Max. Jangan telat. Jangan tidur lagi. Pakai baju yang keren!”

            Ya. Memang sangat membingungkan. Aku cuma berharap bahwa kali ini tidak akan ada acara perjodohan lagi seperti bulan lalu. Sedikit kuceritakan, mama sangat antusias mengenalkanku dengan seorang gadis berambut ikal yang manis. Sayang sekali, untuk ukuran cowok ganteng sepertiku, gadis itu tidak cocok. Bukan karena aku menolak, tapi lebih tepatnya karena sang gadis manis tidak mau bertemu lagi setelah dia kejatuhan penghapus dan pensil dari dalam sarang di atas kepalaku. Dan kalau dia sedang membaca ini, kupersembahkan maaf yang tak terkira luasnya. Aku bukannya tidak suka keramas, tapi demi mengurangi polusi air, maka kuyakinkan diri bahwa tak keramas pun aku tetap ganteng seperti biasa.

            Jam sembilan masih lama. Kunyalakan TV dan mengganti-ganti channel bila iklan mulai muncul di layar. Makhluk laut bentuk kotak berwarna kuning yang bolong-bolong belum muncul di TV sehingga temannya yang suka pegang kapur berlari-lari sambil coret sana-sini. Kupindah channel lagi karena bosan. Sudah ketinggalan pengajian yang biasanya kusaksikan dengan air mata berlinang. Eit, aku bukan banci cuma karena aku nangis waktu dengar pengajian! Apa salahnya cowok nangis? Kata Flo, adikku tercinta yang sangat sayang sama kakaknya ini, aku seksi sekali waktu nangis. Setara dengan seksi konsumsi kalau kekurangan dana untuk beli makanan.

            “Max!” Nah, itu dia, si Flo yang baru kubicarakan. Dia sudah muncul dengan kepala terbalut kerudung biru.

            “Mau ke mana? Sang surya bahkan belum menjemput,” kuperhatikan padanan baju Flo yang rapi jali. Bros kembang warna hijau pemberianku tersemat di kerudungnya. Kadang kupikir Flo menderita buta warna, tapi mengetahui bahwa dia bisa masuk ke fakultas kedokteran, semua opiniku kandas.

            “Mau pergi jalan-jalan ke kebun teh sama Linda sama Anisa. Max nggak ikut?”

            “Lho, mama nggak ngajakin kamu?”

            Flo memiringkan kepalanya. Alisnya mengernyit dan matanya menyipit. Beberapa kali mengedipkan mata dengan cepat sambil memandang wajahku seakan di wajahku ada konser para jerawat.

            “Memangnya mama mau ke mana?”

            Nah! Mama memang hanya mengajakku. Sedangkan Flo dibiarkan menikmati liburan semesternya dengan tenang, padahal aku harus mengurus skripsi pada liburan semester ini dan juga mengikuti ajakan mama. Pasti Flo dapat uang saku lebih hari ini.

            “Nggak tahu. Tukeran nyawa yuk, Flo. Sesekali kamu gitu yang nemenin mama pergi,” kutangkupkan kedua tangan sambil menata ekspresi memelas pada Flo.

            “Begini, kakakku tercinta yang paling ganteng dunia akhirat, bukannya aku nggak mau nemenim mama, tapi kayaknya mama membutuhkan otot-ototmu ini, Max. Ini lho, yang katanya sudah dilatih tiap hari!” Flo menepuk lenganku. Ekspresinya mirip dengan ekspresi mama tadi waktu menepuk lenganku juga. Flo memang putri kandung mama. Aku sih bukan, aku bukan putri, tapi putra kandung mama.

            “Nikmati saja, Max. Itu pahalanya gede!” kemudian Flo menghilang dan meninggalkanku yang masih memegangi remote control TV.

^^^^^^

            Well, anggap saja ini latihan sebelum aku menjadi kepala keluarga terbaik yang pernah ada. Di sini, di tengah hiruk pikuk pusat grosir, aku berdiri sambil menggaruk-garuk kepala, sesekali bersiul karena dilanda ngantuk, lalu menendang-nendang udara karena hampir mati bosan. Mama sedang sibuk menunjuk ini-itu sambil menawar. Kadang hinggap di sana-sini hanya untuk mendapatkan harga lebih murah. Bahkan bila hanya berbeda seribu rupiah.

            “Sebentar ya, Max,” begitulah yang diucapkan mama berkali-kali. Ini sudah kelima kalinya mama bilang sebentar dengan interval waktu setengah jam. Dua jam ternyata sebentar untuk mama. Mungkin setengah jam lagi mama belum selesai memilih benda-benda kesukaannya.

            “Max, bagus yang ini apa yang ini?” mama mengacungkan benda yang akan dibelinya.

            “Yang ini, Ma,” jawabku sambil melihat ke toko sebelah.

            “Maaaax, kamu kan nggak lihat. Yang mana?” mama menarik lengan bajuku.

            “Yang ada kembang-kembangnya warna biru, Ma.”

            “Tapi menurut mama bagus yang ada bunga mawarnya. Bagus mana, Mbak?” mama kemudian.

            “Dua-duanya bagus, Bu. Beli semua aja, Bu. Kan lumayan dapat diskon.”

            Nah! Itu tuh! Itu yang pasti bikin mama gentar untuk tetap pada keyakinannya. Pasti mama akan ikut saran si Mbak yang jualan ini!

            “Ah, nggak, Mbak, kalau satu dapat satu sih mau, tapi kalau harus beli dua ya nggak deh, Mbak. Kebutuhan masih banyak…”

            Tuh! Udah tau kan kalau kebutuhan masih banyak? Gitu kok masih bisa mama beli perabotan dapur dan tetek bengeknya dengan gila-gilaan? Ini di tangan sudah ada penggorengan, panci, rantang, mau apa lagi?

            “Mama sekalian mau beli gelas, Max,” mama seakan-akan membaca pikiranku. Tawaran mangkok bunga biru dan merah tadi sudah ditolak.

            “Kan udah banyak, Ma?”

            “Ya biar nggak bosen kalo ada tamu, Max. Kamu mah nggak ngerti perasaan tamu..”

            Ya ampuuuun, itu yang namanya tamu cuma dateng setahun dua kali pas lebaran haji buat ambil daging sama pas lebaran ketupat buat minta sangu, eh, minta maaf. Nah terus apa bosennyaaa?

            “Ya bosen dong, Max, masa tiap ke rumah kita disuguhin minuman pake gelas yang sama?” kata mama lagi-lagi. Jangan-jangan mama emang bisa baca pikiran?

            Aku mengangguk saja deh, yang belanja kan mama, uangnya juga pakai uang papa. Lagipula dengan begini mama ada hiburan, juga berpahala karena bikin bahagia. Iya, bikin bahagia yang jualan pecah belah.

            “Lain kali kalo kamu punya istri, Max, istrimu biar nemenin mama belanja ya?”

            “Kan ada Flo, Ma?”

            “Kamu kayak nggak tau Flo aja. Kapan hari mama ditinggalin sendiri di pasar, Flo malah ngilang, taunya makan bakso nggak bilang-bilang. Mama kan sedih, Max. Flo kan nggak tertarik begini-begini..”

            “Max ju…”

            “Eh, yang ini bagus ya, Max?”

            Aku menelan kata ‘juga’-ku yang belum semuanya keluar dari mulut. Susah jadi anak ganteng yang pesonanya sulit ditolak. Mama pasti lebih terpesona sama aku dibanding sama Flo, alasan Flo nggak suka diajak begini pasti cuma alibi mama. Aku yakin beberapa kali mama dapat diskon karena mengajakku belanja. Mbak-mbak yang jualan pasti terpesona padaku. Sayang mereka nggak mau jujur. Coba kalo mereka mau jujur, pasti… pasti mama semakin kesetanan belanja karena tau senjata untuk dapat diskon besar!

            “Kamu nggak lapar, Max?” tanya mama setelah kami selesai berbelanja. Di tanganku sudah penuh panci dan perkakas lainnya. Napasku sudah ngos-ngosan, mungkin aku sudah nggak secakep Corbin Bleu lagi karena keringatku membanjir.

            “Lapar, Ma…”

            “Kok nggak bilang dari tadi?”

            “Nah tadi Max kan udah…”

            “Eh, Max! Mama lupa! Mama belum beli cetakan kue!” mama histeris sambil memegang kepalanya.

            “Kue apa, Ma? Roti? Lumpur? Pukis? Kan semuanya udah ada di rumah…”

            “Bukan, ini kue yang resepnya baru di-share di facebook…”

            Ya Tuhaaaan… Cetakan kue itu mau ditaruh dimana? Tanganku bahkan nggak bisa kuberdayakan untuk menggaruk punggungku yang dari tadi gatal.

            “Nanti mama yang bawa cetakannya. Kamu sabar sebentar ya… Tunggu di sini aja, mama cuma sebentar kok.”

            Tuh kan! Mama bisa baca pikiran!

^^^^^^

            Sudah sebulan sejak cetakan kue itu bersarang di lemari dapur, namun belum ada karya yang telah tercipta. Entah karena mama lupa atau karena memang mama sebenarnya belum ingin membuat kue itu. Padahal aku sendiri sampai penasaran.

            “Mama nggak jadi bikin kue yang resepnya di-share di facebook itu?” tanyaku pada mama yang asyik bermain gadget.

            “Mama masih belum dapat ilham buat bikin kue, Max… Nanti aja lah kalo dapat arisan. Hihihihi.”

            “Padahal papa sudah penasaran sama kue mama. Cetakannya kotak biasa begitu mau buat kue apa sih, Ma? Sejenis roti?” tanya papa yang ada di samping mama.

            “Papa sabar aja, itu kejutan… Ntar papa bakal suka kok. Yakin deh!” mama mencium pipi papa lalu menghilang di balik pintu kamar.

            “Rumah ini bisa jadi museum alat dapur dan pecah belah, Max. Bisa-bisa adikmu nggak buka praktik di sini gara-gara rumah ini penuh alat masak.”

            “Boro-boro buka praktik, Pa. Itu aku mau buka pintu kamar aja susah, pecah belah mama sudah menjajah teritoriku. Minggu lalu waktu mama habis borong pecah belah lagi, aku harus rela tidur beralaskan keset. Semua pecah belah ada di atas kasur dan karpet, sedangkan nggak memungkinkan buat tidur di sofa, Flo lagi kerja kelompok sama teman-temannya. Papa nggak pingin gitu bilangin mama buat stop beli barang begituan? Mending beliin sepatu futsal buat aku, biar anaknya ini lebih macho dari waktu ke waktu. Biar cepet dapet mantu.”

            Papa diam sejenak, matanya terbelalak, beberapa sekon kemudian tangannya menepuk pundakku.

            “Nah! Kamu harus segera nikah, Max! Segerakan menikah!”

            Aku cuma bisa melongo. Nikah? Sama siapa? Kucing tetangga?

—-

            Akhirnya cetakan kue mama ada gunanya juga. Setelah lebih dari setengah tahun ada di kamarku yang jadi persinggahan sementara, cetakan itu kini bisa dimanfaatkan. Kue apa? Wajik. Flo tentu aja kecewa berat karena dia penggemar makanan Itali, sedangkan aku dan papa juga tak ikut menikmati. Kue itu dijadikan seserahan waktu melamar seorang gadis manis nan imut tiga bulan lalu.

            Hehehe. Kaget kan? Aku sendiri kaget. Lima bulan lalu skripsiku belum selesai, usahaku juga belum berjalan lancar, tapi tiba-tiba ‘Baginda Raja’ bertitah padaku agar menikah. Siapa sangka kata-kata yang sepertinya iseng itu jadi nyata. Firly, sahabatku yang menikah muda, tiba-tiba mengajukan tawaran mengejutkan: “Lu mau kagak nikah sama adek gue?”

            Sontak aku cuma bisa terperangah. Adiknya yang terkenal introvert itu? Adiknya yang berkali-kali mematahkan hati pria karena nggak doyan pacaran?

            “Kok gue?”

            “Gue ngerasa cocok aja sama elu.”

            “Lah, yang mau nikah elu apa adek lu sih?” aku garuk-garuk kepala. Agak takut juga karena makin ke sini makin ambigu.

            “Sama adek gue lah. Dia minta cariin temen gue katanya. Makanya gue tanya ke elu,” jelasnya dengan wajah tanpa senyum, serius banget!

            “Tapi, kalo ada masalah pasti nanti jadinya nggak enak antara kita, Fir.”

            “Ya karena itu adek gue minta cariin. Ntar kalo macem-macem bisa gue gampar!”

            Aku mundur selangkah sembari menelan ludah. Terbayang di benak kalau wajahku pasti sepenyok panci mama di rumah yang tak sengaja dipukul palu oleh papa. Lengan Firly saja sebesar betisku yang terkenal jumbo. Bisa modyar tenan kalau kena bogem mentahnya.

            “Pikir-pikir dulu aja, Max. Gue nggak maksa. Lagian fans adek gue juga banyak. Tinggal pilih.”

            Begitulah kronologi perjalanan lamaranku—aku yang dilamar sih. Hihi. Setelah hampir seminggu dan mengomunikasikan semua pada keluarga, aku mantap untuk mengiyakan tawaran Firly. Dua bulan kuselesaikan skripsi dan mati-matian memajukan usahaku—berjualan alat pancing. Tiga bulan setelahnya aku sudah sah menjadi suami gadis, eh, wanita yang kini sedang mendengarkan ceritaku tentang hobi mama.

            “Karena itu nama kalian Max dan Flo? Dari merk penggorengan?” mata bulat Selly menatapku ingin tahu.

            “Cerdas! Duuuh… istri siapa siiih?” kucubit gemas pipinya.

            “Ehehehe… Hobi mama nggak jelek juga kok, Mas. Kan karena itu papa minta Mas buat segera menikah. Dan barangkali itu dianggap doa, makanya segera dikabulkan…”

            Aku mengelus kepalanya. Mungkin karena aku yang patuh dan taat ini makanya cepat dapat jodoh. Hahahaha.

            “Oh iya, Mas.. Selly besok diajak belanja sama mama. Boleh kan?”

            “Hah?” kupandangi Selly dengan tatapan tak percaya. Mama ngajak Selly padahal kami masih dalam masa bulan madu begini? Mama…

            “Iya deh… Tapi jangan lama-lama ya..”

            “Iya… Hihi..”

—-

            Aku hampir mati bosan kalau Selly tak ada. Rumah mungil ini tampak begitu besar. Sudah lima jam sejak Selly berangkat dan belum ada tanda-tanda dia akan segera pulang. Kuputuskan untuk mengecek facebook dan twitter.

            “Assalamu’alaykum…”

            “Wa’alaykum salaam.. Yey, udah pulang ya?” aku berlari meninggalkan laptop yang tak berdosa itu. Sang bidadari telah kembali ke peraduannya.

            Langkahku terhenti ketika aku melihat Selly. Itu… apa?

            “Dari mama, Mas… Nggak bisa nolak…”

            “Mau ditaruh mana ini, Sel? Dapur kita kan sempit…” kutatap semua alat masak dan pecah belah yang dibawa Selly. Dia hanya bisa meringis polos.

            “Max!” suara yang sangat familiar terdengar dari arah pagar. Lalu sosok yang surgaku ada di telapaknya itu muncul di depan kami dengan cetakan kue berbentuk kotak. Cetakan itu. Aku kenal cetakan kue itu!

            “Mama baru bisa bawa ini semua. Minggu depan Mama bawakan keperluan bayi. Mama sudah membuat daftar apa saja yang dibeli untuk bayi kalian.”

            “Tapi, Ma… Kami kan belum punya ba…”

            “Sebentar lagi kan punya, kita harus persiapkan sejak dini. Pokoknya kamu tenang aja, Max. Mama sudah memikirkan semuanya. Mama..”

            Tak bisa kudengar lagi kalimat selanjutnya karena mama telah beranjak ke dapur dengan Selly yang mengekor di belakangnya.

            Aku terduduk lemas. Oh, Papa… Ternyata menikah bukan alasan yang tepat untuk menghilangkan kebiasaan mama. Papa telah salah duga. Oh, Papa… lagi-lagi teritoriku diambil para panci. Oh… Lagi-lagi bersama panci… Oh, Papa… Mama pun seorang wanita. Begitulah wanita, Pa… Mereka tergila-gila pada alat masaknya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: