Welcome to my greeeeeny world :D

Karena Aku Juga Wanita

Kasak-kusuk itu terdengar lagi, sudah kesekian kalinya berita itu menyantroni kupingku. Sayang tak ada yang bisa kulakukan selain menyabarkan diri dan berpura-pura tak paham dengan apa yang mereka bicarakan di belakangku. Hanya saja kali ini aku tak sanggup menahan air mataku agar tak tumpah.

        “Aku salah apa, Mel?” tanyaku pada Amel yang sekantor denganku. Amel hanya membalas pertanyaanku dengan pelukan dan elusan di punggung.

            “Aku tidak pernah menggodanya. Sungguh!” suaraku mulai terdengar histeris.

            “Iya, Liv.. Semua juga pasti tahu itu..”

            “Jalan keluarnya cuma satu, Mel. Aku yang keluar atau dia yang mengundurkan diri!”

#

Tak pernah kusangka sebelumnya, tatapan itu ternyata punya makna. Sayangnya, makna yang tersembunyi kini menyakitiku sedemikian dalam. Kupikir dia begitu baik padaku karena rasa hormatnya, aku hampir seumuran dengannya, pun jabatanku lebih tinggi di sini–di kantor tempat kami bekerja. Namun aku salah duga. Tatapan itu tak seharusnya ada. Dia telah menikah dan dikaruniai tiga orang anak, bagaimana bisa dia seperti itu padaku?

            “Sudah kamu kroscek ke dia, Liv?” tanya Amel. Dipeganginya tanganku yang gemetar menahan marah.

       “Ini, Mel. Apa-apaan ini? Aku jijik membacanya!” kusodorkan handphone-ku, kutunjukkan sebuah pesan singkat dari lelaki itu.

            “Mbak Olivia, mohon maaf atas apa yang Mbak dengar dan ketahui. Semua itu memang benar. Telah lama saya mengagumi Mbak. Bahkan mungkin rasa ini bukan sekedar kagum. Mohon maaf, Mbak. Saya tidak kaget berita itu tersebar, teman-teman tentu sudah pandai membaca ekspresi saya setiap Mbak Oliv lewat di depan kami. Sikap tegas, santun, bersahaja, telah membuat saya mengagumi Mbak. Bagi saya, begitu terhormatnya seorang muslimah dengan jilbab lebar dan roknya. Pemandangan itu yang ingin saya lihat di rumah. Sayangnya istri saya belum bisa mengganti jilbab pendek dan celana dengan pakaian yang seperti Mbak Oliv pakai. Saya sungguh kecewa. Tidak tahu harus bagaimana lagi memberitahu istri saya masalah ini.

            Mbak Oliv yang dikasihi Allah, keinginan untuk mempersunting Mbak memang ada bahkan sejak saya masih menjadi pegawai tidak tetap. Keinginan itu sebenarnya masih ada setelah saya diangkat sebagai pegawai tetap. Karena itu saya berani mengungkap perasaan saya. Hanya saja.. Istri saya masih belum bisa menerimanya.. Saya kecewa lagi dengan sikapnya, Mbak.. Padahal saya ingin menjauhi zina, tapi begitu sulit meyakinkan istri saya.. Tapi saya akan urus semuanya, Mbak.. Semoga urusan ini lancar.. Saya harap kita berjodoh..”

          “Dia pikir aku apa, Mel? Perempuan penggoda? Tak punya malu? Tak memiliki hati? Apa karena di usiaku yang telah semakin tua tak ada yang meminangku?” tanyaku bertubi-tubi.

            “Duduklah, Liv.. Tenang..”

         “Bagaimana aku bisa tenang, Mel? Di sana, ada seorang istri yang hatinya terluka. Pasti. Dia bahkan sudah punya anak. Tidak ingatkah dia pada perjuangan istrinya bergelut dengan maut saat melahirkan? Hanya karena istrinya belum berjilbab lebar lalu dia bisa mengagumi perempuan lain? Harusnya dia yang introspeksi diri, dia kan kepala keluarga, dia kan imam di keluarganya. Kalau ada yang salah, dia harus koreksi diri dulu. Bukan lantas menyalahkan istri akan kekurangannya. Aku yakin istrinya pun sedang berproses.

         Aku pernah bertemu istrinya sekali, dia bilang ingin mengenakan jilbab sepertiku. Tapi keluarga besarnya cukup alergi dengan jilbab besar. Dia sedang mengupayakan semuanya. Tapi lihat sang suami, Mel, dia tidak sabaran. Dia bilang kecewa dengan sikap istrinya. Lalu bagaimana dengan perasaan sang istri? Hatinya pasti sakit, Mel..”

            “Kenapa tidak kamu beritahukan padanya kalau sang istri sedang berproses?”

            “Dia sudah tahu, Mel. Istrinya sendiri yang cerita ke dia. Tapi lihat hasilnya, Mel, lelaki ini tak bisa sabar!”

            “Liv.. Tenanglah..”

         “Bagaimana aku bisa tenang ketika aku berpotensi menjadi perusak rumah tangga orang, Mel? Aku merasa sangat menyedihkan, tidak berharga, tidak tahu diri!”

            Amel memelukku sambil membisikkan kalimat istighfar. Aku tersedan di pelukan Amel.

#

Kupandangi surat pengunduran diri yang ada di atas meja. Semoga keputusan ini menjadi keputusan terbaikku. Aku tak sudi dihantui perasaan bersalah pada istri lelaki itu. Drama yang mengiris hati ini harus diakhiri. Harus.

            “Mbak Oliv sungguhan mau resign?” Fina menarik tanganku ketika aku lewat di depan meja kerjanya.

            “InsyaaAllah, Fin..”

            “Kenapa? Ada apa, Mbak?”

       Seraya tersenyum kukeluarkan selembar kertas tebal berhias pita dari balik kerudungku. Beberapa orang menjerit lalu memelukku dan memberi selamat. Aku hanya bisa membalas dengan ucapan terima kasih bertubi-tubi. Semakin lama semakin banyak yang mendatangiku sambil membawa doa-doa keberkahan. Namun di ujung sana, lelaki itu menatapku sambil mengepalkan tangannya.

#

           Besok aku akan melepas masa lajangku, mengusir gelar perawan tua yang selalu mengikutiku, dan melepaskan rantai kesendirian dalam tiap hariku. Kupikir aku hanya akan membusuk sebagai “penggoda suami orang”, tapi di balik cobaan itu, Allah hadiahkan momen yang tak terduga. Seorang lelaki yang pernah satu sekolah denganku dulu tiba-tiba datang ke rumah. Cukup mengejutkan karena aku tak pernah mendengar kabarnya berpuluh tahun. Dan setelah tiga hari kuminta petunjuk dari Allah, aku mantap menerima pinangannya. Lalu besok.. besok kami akan menikah. InsyaaAllah.

Beep beep.

       Tanda ada pesan masuk. Kuraih handphone-ku yang tergeletak di atas meja. Kubuka pesan masuk tanpa perasaan kesal yang meluap-luap seperti beberapa hari lalu.

Lelaki itu mengirim pesan lagi.

“Setelah saya tahan amarah saya berhari-hari, kini saya bisa mengirim pesan pada Mbak. Berharap pesan ini bukan pesan terakhir yang bisa saya kirim. Keputusan menikah itu sungguh mengejutkan saya. Hari itu saat Mbak memberikan undangan pada kami, sebenarnya saya telah berencana pergi ke rumah Mbak Oliv untuk melamar. Tapi sungguh saya kecewa, sedih, marah. Sudah ada lelaki lain yang mendahului langkah saya. Bahkan besok kalian akan menikah. Jujur hati saya rasanya hancur. Tak ada rasa malu lagi untuk mengungkapkan ini, Mbak.. Rasa ini masih ada. Dan saya masih berharap suatu hari kita berjodoh. Di surga.”

Kuletakkan handphone dan menatap ke luar jendela. Awan abu-abu gelap terlihat menutupi bulan. Mendung. Kembali bayangan sang istri menghampiriku. Pasti hatinya juga mendung. Bahkan bisa jadi ada badai yang menghantam cintanya.

“Semoga biduk rumah tangga mereka segera membaik..”

###

Surabaya, 29 Januari 2015

Ditulis di sela merawat si ganteng baby boy :D. Ini 100% fiksi 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: