Welcome to my greeeeeny world :D

 

Aku belum mengenalmu, Kasih

Kini…

Masih berputar dalam labirin takdir

Masih merangkak

Sambil memenuhi hati dengan rindu membanjir

Adalah dirimu yang menjelma

Dalam tak terucapnya untaian cinta

Menggantung pada leher takdir

Lagi-lagi takdir

Begitulah, Kasih

Pikiranku liar berkelana memikirkan

siapa kau, yang telah dituliskan-Nya untukku

Begitulah, Kasih

aku duduk di pinggir danau kerinduan

menanti hadirmu

di bangku berdebu

menunggu berbicaranya sebuah takdirku

 

Puisi itu saya tulis pada September 2012, saat hampir 22 tahun, tapi pacar aja nggak punya. Keluarga saya sampai berkali-kali menanyakan kapan membawa someone special ke rumah. Gimana nggak parno kalo sepupu yang lain, yang umurnya di bawah saya aja udah punya gandengan, udah ‘laku’ kata orang sekarang. Hah. Kesel juga sih ditanyain itu-itu mulu. Dengan hati harap-harap cemas, saya menggantungkan diri hanya pada Allah, namun juga yakin bahwa tanpa pacaran pun, jodoh sudah ditentukan. Saya akan dijemput pangeran saya dengan cara yang baik. In syaa Allah.

Ketika Berita Itu Datang

“Bismillaah.. Dek, ada yang mau mengkhitbah sampean, sampean mau ndak ta’aruf dengan beliau?”

Begitulah pesan singkat yang saya terima awal September 2013. Pesan yang membuat saya membelalakkan mata dan memelototi layar hape sambil melongo.

Tak ada yang yakin saya akan menikah cepat, apalagi semua orang tahu bahwa Cahya Andina Thalib ini termasuk yang fokus ke sekolah. Walaupun memang beberapa bulan sebelumnya galau jodoh melulu. Follow akun-akun nikah kan dampaknya gitu, jadi pingin segera menggenapkan separo agama, jadi pingin segera lepas dari status jomblo yang ngintil kemana-mana. Nyahaha.

Di tengah kegalauan skripsi yang nggak kunjung kelar waktu itu, saya emang punya niatan segera menikah, tapi niatan itu sempat diruntuhkan oleh ustadzah, mungkin karena beliau lihat saya masih belum bener ngurus diri sendiri. Mana bisa ngurus rumah tangga kalo diri sendiri aja masih lecek begitu?

“Gini lho, Dek, saya tuh sudah seringkali bilang sama temen-temen yang belum nikah buat nggak bingung mikir jodoh. Waktu yang ada sekarang gunakan buat berkiprah di dunia dakwah, saat-saat bujang begini jadikan waktu anti bermanfaat untuk berkontribusi pada agama kita. Nanti, Dek, ketika sudah menikah, waktu yang ada itu rasanya sangat sedikit untuk ummat.”

Nyuuuuut! Rasanya ada yang nyubit-nyubit hati. Saya jadi kepikiran berat masalah ini. Begitu ceteknya kiprah saya di dunia dakwah, apa iya mau menikah tapi dengan konstribusi yang begitu-begitu aja? Seketika keinginan untuk menikah menurun drastis. Gantinya, saya sibukkan diri dengan penelitian untuk skripsi, sering pulang kampung, dan ngumpul grup penulis. Pokoknya apa pun dilakukan buat menekan keinginan untuk menikah.

Tapi Allah berkehendak lain. Pagi itu, beberapa hari setelah berkonsultasi dengan ustadzah, pesan singkat tadi ngendon di hape Samsung putih yang sudah nggak keruan keadaannya. Berbekal harap pada Allah SWT, saya segera melaksanakan shalat sunnah dua rakaat. Siapa lagi yang bisa diharapakan selain Allah SWT? Entah kenapa hari itu ada satu nama yang saya harap beliaulah yang akan mengkhitbah. Tapi kemudian tertepis semuanya, saya harus netral, harus pasrah atas apa yang terbaik menurut Allah SWT. Siapa pun ikhwan ini, jika dia shalih, saya berharap bisa menerimanya jika memang ditakdirkan bersamanya.

Masa-masa Mendebarkan

Sudah hampir sebulan berlalu tanpa tahu identitas diri si ikhwan. Sebeeeeeel. Saya cuma dikasi tau kalo ikhwan ini in syaa Allah shalih dan baik. Itu doang dan itu cukup membuat stress. Apa bisa kenalan sama ikhwan yang tahu saya tapi saya nggak tau dia? Kan jadi su’udzan, jangan-jangan ikhwan ini fiktif. Gegara ini pula sempat ditegur ustadzah, harusnya kan tahu dulu identitas ikhwannya sebelum mengiyakan ta’aruf, tapi yang ada malah sebaliknya. Saya harus mengiyakan tawaran ta’aruf itu baru bisa tahu siapa ikhwan yang akan berkenalan. Sebagai ganti memanggil nama beliau, perantara memberi julukan: Mas Ehem-Ehem. Heuuuu…

Tanggal pertemuan semakin dekat, tapi CV Mas Ehem-Ehem belum saya kantongi, pun CV saya belum di tangan beliau. Belum lagi banyaknya referensi yang digunakan untuk membuat CV ta’aruf. Kayak tugas kuliah aja CV yang saya bikin. Lengkap bangeeeeet. Mbah google berkali-kali terakses biar mau memberi referensi yang tepat. Namun, menjelang pertemuan, perantara kami mengirimkan format CV yang sama dengan CV Mas Ehem-Ehem. Saya isi form sambil deg-degan abis, form ujian skripsi mah lewaaaat. Wuuuus.

Tiga hari menjelang pertemuan, kami baru bertukar CV. Malam itu, debar hati nggak tereduksi walau berada di sekitar banyak orang. Kamis itu memang ada jadwal ke dokter gigi, awalnya saya pikir bisa agak rileks karena nggak ngendon di depan laptop. Tapi dugaan itu salah, Sodara-sodara! Saya makin deg-degan! Selesai kontrol bukannya membuat lega dan pingin segera balik ke kos. Rasanya saat itu malah pingin memutar waktu lagi, pingin menyiapkan mental. Apa pun deh yang penting nggak buka file yang sudah dikirim ke alamat e-mail saya. Tiba-tiba keraguan merayapi otak. Gimana kalo ternyata Mas Ehem-Ehem bukan seperti yang saya duga? Gimana kalo ilfil duluan sebelum ketemu sama beliau? Atau gimana kalo beliau udah baca CV saya dan beliau membatalkan pertemuan? Aduuuuuh.

Akhirnya, dengan mengumpulkan segenap kekuatan dan berdoa ini itu biar nggak pingsan, saya mampu juga buka laptop dan mendownload data yang dikirimkan perantara. Waktu buat menunggu file kelar didownload rasanya berjalan begitu cepat sedangkan jari masih ribut mengetuk-ketuk di atas meja. Ini lebih mendebarkan dibanding seminar proposal yang didatangi dosen-dosen killer.

Satu… dua… tiga… Aaaaaa… ngapain pake password segala siiiih? Bikin makin parno aja! Kalo nggak ada tulang rusuknya, udah dari tadi kayaknya jantung ini lompat-lompat di lantai. Set! Saya segera menutup laptop ketika file terbuka. Gimandosdos dong, Neeee… Ini pertama kalinya tukar CV dan setelah hampir sebulan, saya baru akan tahu siapa yang akan saya temui tiga hari setelahnya. Fuuuuuh… fuuuuh… hanya bisa atur napas sambil menenangkan jantung.

Laptop kembali terbuka dan layar laptop saya tutupin pake tangan. Sedikit… sedikit… sedikiiiit… dan…

Jeng jeng jeng! Waktu seakan berhenti, begitu pula detak jantung saya.

“Ya Allah…”

Debar-Debar Ta’aruf

Jam sudah menunjukkan pukul satu siang, tapi perantara belum memberi kabar sama sekali. Saya jadi sangsi, apa jangan-jangan pertemuannya batal? Jangan-jangan Mas Ehem-Ehem itu mundur setelah baca CV saya yang nyentrik? Jangan-jangan beliau nggak siap ketemu sama akhwat yang aneh kayak saya?

Pikiran-pikiran itu berputar-putar dan menambah buruk mood. Akhirnya saya beranikan diri juga kirim pesan ke perantara sambil menunggu balasan dari perantara di terminal. Saya sudah bertekad, kalau memang ketemuannya batal, capcus naik bus dan kembali ke Surabaya. Tapi ternyata perantara bilang pertemuannya jadi dan beliau memberi petunjuk angkot apa saja yang harus ditumpangi untuk sampai ke rumah perantara.

Hujan menyambut tepat ketika turun dari angkot. Setelah beberapa menit menunggu, perantara kami yang merupakan sepasang suami istri akhirnya muncul juga tuk menjemput. Tak ada debaran jantung yang menderu, saya benar-benar rileks. Aneh.

Detik-detik berlalu. Mas Ehem-Ehem bilang akan datang selepas Ashar. Ya, hujan memang sedang deras, membuat saya nggak bisa kabur kalo-kalo tiba-tiba jadi pengecut. Yang bisa dilakukan adalah berdoa dan teeeerus berdoa agar diberikan yang terbaik, apapun hasil setelah pertemuan ini berlangsung.

“Udah dateng.”

Doeng! Saya langsung kelabakan dari yang tadinya tenang dan santai kayak di pantai tiba-tiba jadi kumat-kumatan alay. Tubuh membeku, mematung di tempat, nggak berani keluar, hilang sudah sisi tomboy seorang Cahya. Aaaaaa.

Entah berapa lama waktu yang habis untuk sembunyi di dapur sambil jongkok. Saya bahkan nggak berani menghitung. Alih-alih segara ke ruang tamu, setelah berani keluar dari dapur, yang ada malah diam di depan kulkas dan menyambar ulekan. Cukup lama ulekan itu ada di tangan. Saking gemetarnya, perantara saya pun jadi deg-degan. Perasaan grogi telah beresonansi sampai pada beliau. Kami berdua histeris di depan kulkas.

Sayangnya, nggak mungkin ngendon di depan kulkas selama itu. Medan pertempuran itu harus dihadapi. Dengan bekal basmalah, saya melangkah ke ruang tamu. Tulang leher seperti nggak sanggup tegak, tentu aja karena nggak berani lihat ke depan. Aduh, pokoknya yang kayak begitu nggak saya banget deh. Malu banget nget!

Menit-menit berlalu dan suasana mulai mencair. Saya banyak menanyakan hal-hal yang belum ditulis di CV. Ya tentu aja banyak pertanyaan karena CV Mas Ehem-Ehem ini gersang banget. Bikin kesel. Pertemuan itu pun berakhir setelah maghrib.

Hari berlalu begitu cepat karena skripsi yang sedang dalam proses. Hasilnya status anak orang menggantung hampir sebulan. Ahahahaha. Sholat istikharah selalu saya lakukan. Hingga pada awal November, keluarga saya siap kalau Mas Ehem-Ehem mau bertandang ke rumah.

Silaturahim ke rumah saat itu cukup lancar. Orang tua saya menyambut baik kedatangan Mas Ehem-Ehem dan dua perantara kami. Kedua kalinya ke rumah, Mas Ehem-Ehem harus berkenalan dengan Pakde-Pakde. Pada 24 November 2013, saya resmi dikhitbah oleh beliau. Acara sederhana yang dilaksanakan di rumah saat itu membuat tersipu malu berkali-kali. Sisi yang selama ini tak pernah saya tunjukkan di hadapan orang lain jadi keluar. Belum pernah saya sefeminin itu.

Penentuan hari pernikahan kami cukup membingungkan. Saya yang harus melanjutkan co-assistant masih bingung kapan baiknya kami menikah. Tentu saja kami berdua ingin agar disegerakan. Pilihan kami jatuh pada bulan Februari, sedangkan orang tua ingin kami menikah di bulan September tahun depannya. Makin galau dong kalo lama-lama. Menjaga sebuah perasaan tidak semudah menjaga benda yang kasat mata, belum lagi bisik-bisik setan yang kadang merayu untuk lebih akrab, namun di akhir penantian menghembuskan ragu yang pekat.

QadaruLlah, Allah menetapkan pernikahan kami di bulan Februari. Sepanjang masa penantian itu, banyak cobaan yang melanda. Tentu kami harus pandai menjaga rasa, harus cerdas menahan buruk sangka, dan selalu meluruskan niat yang bisa saja berbelok dari niat semula. Saya juga pernah merasakan Pre-Marital Syndrom atau PMS yang sering terjadi pada orang yang akan menikah. Hebatnya setan membuat ragu pada calon dan pada diri sendiri. Berkali-kali saya menangis karena takut menghadapi kehidupan rumah tangga.

Doa tetap saya lantunkan hingga hari menjelang pernikahan kami. Biar Allah saja yang menentukan akhirnya, menentukan plot yang baik untuk kami berdua. Dan sampailah kami pada 15 Februari 2014. Sebuah perjalanan panjang dimulai, ibadah seumur hidup telah terajut untuk kami: Cahya dan Mirza a.k.a Mas Ehem-Ehem.

Bermula Dari Hijab

            Saya selalu kagum dengan jalan cerita yang Allah beri. Tak ada yang bisa saya ucapkan selain maa syaa Allah… Begitu indahnya sebuah benang merah yang terkait. Kisah itu bermula jauh dari perkiraan. Kisah itu bermula saat saya masih kelas dua SMA.

“Ah, kepengurusan yang ini mah nggak ada apa-apanya. Kamu belum tau sih waktu dipegang sama Mas Mirza. Dulu waktu dia yang jadi ketua, di sini dikasi hijab.”

Kata-kata itu masih terkenang. Sebuah nama tersemat di sana, nama yang hingga saya menjadi alumni SKI tetap bercokol di girus otak. Saking penasarannya, saya selalu berharap bisa bertemu orang bernama Mirza ini. Kayak apa sih orangnya? Rasa penasaran itu nggak memudar meski lebih dari lima tahun sejak pertama kali mendengar nama beliau.

Setelah sosmed makin berkembang, alumni SKI dikumpulkan dalam satu grup. Inilah awal di mana saya menemukan nama beliau di facebook. Akun beliau adalah salah satu akun yang saya ajak berteman. Nah karena penasaran sama orang ini—yang nggak pake foto profil—jadilah cuma liat relationship status-nya doang. Nyahahahaha *tutupin muka*. Setelah saya tahu kalo beliau belum menikah, langsung deh balik ke ‘rumah’ sendiri. Khawatir beliau tau kalo saya kepoin. Kan bisa metong gayus ye, Booo… 😀

Waktu terus berlalu bersama kesibukan kuliah akhir semester dan mulai galau skripsi. Tapi tetep aja, meski saya udah nggak di Malang lagi, saya masih hobi ngrecokin acara SKI di SMA saya dulu. Bagi saya, masuk SKI amanahnya sampe mati. Nyaahahaha.

Ramadhan akhirnya datang bersama amanah menjadi bendahara untuk baksos. Tak ayal nomor hape saya ada di pamflet yang dibuat. Konfirmasi dari donatur berdatangan. Tapi, malam itu, Juli 2013, ada nomor asing yang nyantronin hape saya. Pengirimnya di sana jelas salah kirim karena yang disebut adalah nama ketua pelaksana, bukan Cahya.

“Eh maaf, salah kirim ya.. Saya Mirza, tadi saya bla bla bla”

Deg! Saya terdiam sejenak. Sambil setengah nggak sadar membalas sesingkat mungkin. Lagian itu sudah hampir menyentuh batas pintu jam malam. Begitu saja. Pesan itu tak ada kelanjutannya. Memangnya mau apa? Saya bendahara dan beliau donatur. That’s all.

Meskipun Ramadhan pergi, kegalauan terkait jodoh ternyata tak pergi juga, malah yang ada makin menjadi. Semakin menggila ketika Pembina di salah satu komunitas penulis yang saya ikuti tiba-tiba memberikan woro-woro di grup.

“Lowongan. Teman saya mau menikah, sedang mencari calon pendamping.”

Saya langsung komen dong kalo ada woro-woro beginian, habisnya bilang lowongan sih, kan jadinya rancu. Kirain mau nawarin kerjaan, nyatanya lagi nyodorin seorang ikhwan yang sedang cari jodoh.

“Kuliah di A, alumni SMA X. Mungkin Cahya kenal.”

“Yang seperti itu saya cuma kenal satu orang, Pak.”

Dan seketika hebohlah grup sebelah yang terdiri dari akhwat-akhwat yang juga dari komunitas penulis yang sama.

“Eh, Ca, yang tadi itu siapa siiih?”

“Nah kenapa Cahya bisa bilang baik kalo belum tau pasti orangnya?”

“Wah, coba kalo aku. Sama-sama sealumni gitu pasti mau. Kan pasti rumahnya deketan.”

“Udah maju aja, Cahya.”

Komen-komen itu tak ayal membuat saya mikir juga. Gimana kalo salah satu teman dari komunitas penulis ini ada yang menikah sama beliau? Dalam hati sampe janji, kalo ada yang nikah sama beliau, saya nggak akan dateng ke nikahannya! Ya walaupun belum tentu juga yang ditawarin Pak Pembina itu orang yang saya duga, tapi entah kenapa saya yakin itu Mas Mirza (saat proses ta’aruf ternyata saya benar kalau itu Mas Mirza). Dan saya nggak mampu liat wanita lain nikah sama Mas Mirza. Lho, lho, memang apa hubungannya Mas Mirza sama saya?

Beberapa hari setelahnya, SKI SMA mengadakan diklat untuk anggota baru. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, saya memang hobi banget ngrecokin SKI SMA. Kesempatan datang juga karena lagi senggang, kan masih ngurusin skripsi yang filenya ngendon di dosen dan nggak segera dikoreksi. Acara berjalan seperti tahun-tahun lalu. Tapi saat itu ada yang beda. Di sana, orang berbadan besar yang nyempil di samping lemari membuat saya terhenyak. ‘Siapa? Mirza? Mirza yang itu? Yang nggak pernah dateng pas diklat? Kok tumbeeen?’ Tapi karena saya dalam posisi bantuin panitia, ya harus professional dong. Nggak ada komunikasi yang saya lakukan dengan Mas Mirza. Semuanya berjalan tanpa kami bertegur sapa. Saya pun yakin saat itu pasti beliau juga nggak kenal sama saya. Tidak ada yang perlu dibicarakan. Momen itu berlalu tanpa ada perkenalan pribadi.

Cinta Dalam Diam

Tak ada kata cinta yang pernah terucap, tak ada usaha-usaha untuk berdekatan sebelum ijab. Tak ada cerita balas-membalas pesan dengan maksud menarik hati. Lelaki yang saya kagumi sejak SMA itu datang begitu cepat setelah ‘disimpan’ oleh Allah pada tempat yang jauh dari tempat saya tinggal. Kami tak pernah bertemu saat SMA, pun selama saya menjadi pengurus di SKI SMA, beliau tak pernah menampakkan batang hidung di depan saya. Kami dipertemukan dalam waktu yang singkat. Kami dipertemukan dalam proses ta’aruf yang terjaga, yang bertepatan dengan skripsi sehingga saya tak punya banyak waktu untuk berangan-angan tentangnya.

Namun kini, lelaki itu ada di dekat saya. Lelaki yang membuat saya terpaut karena hijab yang pernah digagasnya. Lelaki yang saya kagumi bahkan ketika belum tau wajahnya. Lelaki yang melewati masa ta’aruf dengan saya dalam waktu singkat. Lelaki yang tak mengucap cinta sebelum waktunya. Lelaki yang kemudian dengan gagah mengucap ijab qabul di hadapan penghulu dan para saksi. Lelaki shalih yang tiap malam saya pandang wajahnya dan bersyukur karena telah menerima lamarannya. Lelaki yang membuat saya mengerti bagaimana asam manis cinta. Lelaki yang saya harap akan bersamanya hingga Jannah. Lelaki itu adalah suami saya: Mirza.

Ditulis di Blitar saat PKL
Diterbitkan di Surabaya sebagai hadiah untuk suami tercinta

^Barakallahu fii umrik, Suami Sayang… Uhibbuka fillah^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: