Welcome to my greeeeeny world :D

Ketika IPK-ku Biasa Saja

“By… IPK saya jelek…” adu saya pada suami saat menjemput di kampus.

“Berapa, Adek?” lalu suami menyebutkan angka untuk menebak.

“Hehehe, iya segitu… Kok Mas tau?”

“Iya, Adek…”

“Jelek ya, By… Kalo koas biasanya nilainya 3,7 baru disebut bagus…”

“Oh, Adek… Nilai Adek sudah bagus… Bagus itu segitu, Adek…”

Saya tersenyum mendengar suami menenangkan saya dengan kalimat sederhana itu. Ya, bagi kami, IPK tak lagi penting. Suami tak pernah mematok berapa IPK yang harus saya dapatkan. Hal itu tentu membuat saya malah merasa bersyukur dan malu jika IPK saya terjun bebas.

Sebenarnya, saya cukup study-oriented. Lingkungan keluarga yang berprestasi agaknya mempengaruhi obsesi saya dalam bidang pendidikan. Acapkali harus menelan pil pahit ketika kalah dalam hal akademis. Meski sebenarnya di luar hal akademis pun begitu banyak yang membuat saya berharap dapat yang sama. Sayangnya, hal itu semua ternyata membuat masa-masa sekolah menjadi kurang nyaman. Jadilah sekolah Cuma seperti tempat berlomba mencari IPK, bukan lagi sebagai tempat menimba ilmu.

Mengetahui IPK koas tak meroket seperti teman-teman, ada rasa penyesalan. Apalagi harapan untuk cumlaude sangat tinggi. Namun, sadar diri memang harus ada. IPK yang didapat harusnya menjadi refleksi atas apa yang selama ini terjadi. Tak jarang, malam sebelum ujian harus mau mengalah pada rengekan si kecil. Pun kadang harus mau membaca buku disela menyusui. Bukan, saya tidak sedang membela diri. Tapi ladang pahala kala mengasuh anak adalah ladang yang telah saya pilih sejak awal.

Apakah Cuma saya yang menikah dan punya anak? No! Beberapa teman pun sudah berbeda status bila dibandingkan dengan 98% mahasiswa koas yang ada. Bahkan ada yang sudah punya dua anak. Tapi, tentu saja kondisi tiap keluarga berbeda. Terlebih ada hal-hal yang begitu urgen yang membutuhkan pikiran dan tenaga lebih. Alhamdulillah, teman-teman yang ini bisa menyelesaikan koas dengan baik dan lancar. Semoga ke depan semakin sukses 🙂

Lantas bagaimana menyikapi IPK yang tak semegah milik teman-teman lain?

Pertama, bersyukur. Bersyukur bukan bagi yang punya IPK saja, keluarga pun harus bersyukur. Allah sudah berbaik hati memberikan IPK yang tak terjun bebas, bisa untuk melamar kerja, tak jauh beda dengan harapan. Bersyukur. Bersyukur agar nikmatnya ditambah. Bersyukur agar cinta Allah semakin berlimpah.

Kedua, menerima. Mau menolak? IPK sudah keluar! Mau ditolak macam apa? Protes ke dosen? Protes ke dekan? Bisa-bisa yudisium dibatalkan. Kahkahkah :v

Ketiga, bercermin. Coba kemarin waktu sekolah, sudah serius? Jangan-jangan banyak mainnya, banyak guyonnya, niatnya salah, atau malah sekolah cuma mau kelihatan keren. Yuk dilihat lagi kemarin bagaimana prosesnya, apakah sudah sesuai? Kalau prosesnya sudah baik, IPK berapa pun tak masalah. Karena yang diharap adalah pahala.

Keempat, meningkatkan yang lain. Kehidupan tak hanya seputar IPK. Ada kehidupan lain yang lebih bermakna. IPK biasa saja, tapi jadi kepala rumah tangga yang kece dunia akhirat.. IPK biasa saja, tapi implementasi dalam masyarakat boleh diadu. IPK biasa saja, tapi dalam kehidupan nyata keberadaannya begitu bermanfaat bagi orang lain. IPK biasa saja? Tak masalah.

Hargai diri sendiri dengan tidak terlalu memaksa. IPK biasa bukan berarti hidup menjadi biasa. Semua orang punya jalan masing-masing. Tak ada yang salah dengan IPK biasa saja ketika semua proses sudah dilalui dengan benar. Yang penting, IPK kita di rapor akhir nanti tak banyak merahnya. Malu sama Allah 🙂

Wallahu a’lam bishshawab.

NB: Jazakallahu khairan, Yaa Jauzy… Sudah banyak bersabar, membantu, menjadi teman diskusi, dan selalu mengapresiasi hasil kerja saya. Alhamdulillah… :*

Surabaya, 2 Oktober 2015

Cahya Andina Thalib

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: