Welcome to my greeeeeny world :D

Suami vs Mamang Sayur

Beberapa minggu lalu, saya nonton k-drama dengan judul “My Wife is Having an Affair This Week”. Drama ini cukup bagus ditonton pasutri meski banyak adegan yang kudu dilewati karena super duper ultra saru bagi saya :v

Singkat aja yak. Drama ini menceritakan seorang suami yang berprofesi sebagai seorang produser sebuah acara. Dia cinta banget banget sama istrinya. Bagi sang produser, istrinya ini layaknya bidadari: perfek. Meski jadi wanita karir, urusan domestik nggak pernah kececer. Semuanya rapi. Di saat si suami punya salah, istrinya nggak marah, bahkan kayak nggak ada apa-apa. Boro-boro ngomel, cemberut aja enggak! Siapa yang nggak mau punya istri sempurna begitu?

Hingga suatu hari, mimpi buruknya mulai datang. Ada pesan misterius di handphone istrinya pas dia lagi pegang itu hape. Kaget dong ada nama cowok yang disamarkan tetiba kirim pesan yang isinya udah pesen hotel dan minta ketemuan hari H di jam J. Awalnya sang suami ga percaya. Masa istri sebaik itu selingkuh? Mulailah dia telusuri semua sikap istrinya yang mencurigakan. Dari dandanan yang lebih berani, belanja kebutuhan kecantikan, sampe ketauan dianter cowok waktu pulang.

Singkat cerita, suaminya ini datang ke hotel yang mereka pesen dan memergoki mereka waktu masuk elevator. Adegan setelahnya monggo nonton sendiri aja karena puanjang :v

Dari situ, ternyata ada alasan kenapa sang istri berselingkuh. Me time. Yak, cuma gegara me time. Jadi selama ini, si istri sebenarnya merasa frustasi dengan segala aktivitasnya. Dia dituntut selalu senyum di hadapan orang lain. Pun ternyata, di rumah, sang suami kurang mampu jadi pendengar yang baik bagi istrinya. Di saat si istri sangat sumpek, hadirlah lelaki “superhero” yang merupakan rekan bisnis perusahaan. Si istri ini dikasi waktu 2 jam buat baca buku. Meeting yang harusnya dimulai jam sekian, diundur 2 jam cuma buat ngasi kesempatan si istri baca buku yang dibawa tapi nggak sempat dibaca. Dua jam! Dua jam yang membawa petaka!  Kelar deh kelar!

Oke, segitu aja sekilas tentang dramanya. Kita beralih ke hal yang pingin saya sampaikan.

Bagi banyak suami, “me time”-nya istri ini ibarat hal yang nggak masuk logika mereka. Bahkan ada yang bilang kalo “me time” ini mengada-ada. Zaman Nabi nggak ada yang namanya “me time”. Padahal bagi saya yang wanita, Rasulullah yang mau ngajak salah satu istrinya safar ya termasuk “me time”. Istri dibebastugaskan dari pekerjaan yang numpuk di rumah. Istri merasakan kembali getar-getar cinta ketika berdua, saat safar bersama. Sepele ya? Sepele banget! Beda dengan lelaki yang entah bagaimana menumbuhkan cinta. Seorang wanita menumbuhkan cinta dengan pengertian dan pendengaran. Nah, pengertian ini jangan cuma “Oh iya, begitu ya..”. Peluk, cium, rangkul, elus, nyatakan cinta. Udah lebih dari cukup untuk membuat istri merasa legowo dengan segala tugasnya. Jangan malah dikasi solusi yang sebenernya dia ga minta. Kemudian, untuk jadi seorang pendengar, nggak cukup hanya mendengar, tapi harus mendengarkan. Luangkan sedikit waktu buat dengerin istri yang nyerocos tentang hal yang dia nggak sreg. Bentar aja, nggak bakal bikin kuping jebol.

Istri pendiam, sabar, suka tersenyum adalah istri idaman. Tapi jika yang dasarnya hobi curhat trus diem, jangan salahkan kalo tukang sayur membuat istri suka berlama-lama belanja cuma biar bisa ngoceh.

Di episode-episode akhir drama itu, mereka yang awalnya memutuskan untuk bercerai ternyata sadar bahwa masih ada cinta yang belum sepenuhnya layu. Si (mantan) suami jadi lebih perhatian, sedangkan si (mantan) istri jadi lebih ekspresif. Nggak dikisahkan mereka rujuk, tapi sepertinya begitu. Mungkin diharapkan penonton menerka-nerka.

Menonton drama itu membuat saya merenungi maksud di baliknya. Suami istri musti terbuka satu sama lain. Suami istri tidak boleh hanya menampilkan sisi “apa adanya” tapi “yang terbaik adanya”. Suami yang unggul dalam logika dan istri yang dominan perasaannya, telah diciptakan untuk saling melengkapi, meski suatu saat suami harus lebih peka dan istri harus lebih rasional akalnya.

Rumah cinta, 28 Januari 2017
Sambil mendengarkan dengkuran merdu Pak Mirz.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: