Welcome to my greeeeeny world :D

Haaaaaaaah. Belakangan ini saya terbakar sekali bila ada pembicaraan menyangkut ‘DEMIT’. Sungguh menguras emosi. Rasanya pingin ikutan ngegaplok demitnya. Saking keselnya, beberapa status jadi bahas demit dan berakhir dengan klarifikasi bahwa semua itu tidak berkaitan dengan rumah tangga saya, tentu saja ini karena Mr. Pooh yang minta.

Jadi sebenernya demit ini apa?
Saya pribadi tidak tahu siapa yang awalnya memberi julukan itu karena sebelum ini mereka disebut pelakor alias perebut laki orang. Mungkin juga disebut demit karena terinspirasi dari tugas setan yang paripurna yakni menceraiberaikan suami istri. Nah, cocok kan jadi filosofi?

Kalau bicara soal demit, ngeri bener bagi kita para istri. Mereka gentayangan dimana-mana. Kantor, jalan, cafe, mall, bahkan mungkin di tempat kajian. Kantor adalah tempat paling sering untuk sang suami mulai dipepet demit. Dari yang awalnya cuma temen kantor, berubah jadi partner ngobrol, sahabat curhat, dan akhirnya timbul benih cinta gombalmukiyo bertabur nafsu. Hah.

Suatu hari saya pernah membaca pengalaman pribadi. Menceritakan tentang seorang perempuan yang jatuh cinta pada teman sekantornya. Awalnya dia nggak tau kalo teman sekantornya ini sudah menikah. Hingga suatu hari dia akhirnya tau. Hatinya patah, tapi nafsunya tidak. Dia tetap menyimpan rasa dan menabur harap. Ingin sekali memiliki lelaki beristri yang dicintainya itu. Salahkah? Di mata saya, tentu saja salah! Kenapa dia nggak menundukkan pandangan? Kenapa harus suami orang? Kenapa nggak mundur ketika tau lelaki itu sudah beristri? Heloooooo, stop playing victim seakan-akan yang paling menderita atas cinta gombalmukiyo-nya. Istri, anak-anak, orang tua, mertua keluarga itu akan sangat tersakiti. They are the real victim!

Namun, sekeras apa pun kita berkoar tentang jahatnya demit, ini sudah akhir zaman. Kemaksiatan merajalela dan pelakunya melakukan dengan riang gembira. Demit malah merasa cantik karena bisa merebut suami orang. Jiwanya tertantang melihat lelaki beristri teguh pendirian. Alibinya berderet untuk menyatakan dia nggak bersalah seperti yang dituduhkan. Merasa menang ketika diutamakan. Mbak Demit, secantik apa pun dirimu, you’re just a piece of demit!

Kini, demit-demit ini malah menyalahkan sang istri. Mereka merasa lebih menarik, merasa lebih enak diajak ngobrol, lebih aduhai di atas ranjang. Heeeeeei, seindah apapun dirimu, ketika sudah melahirkan bodimu ga akan sekencang saat masih belum hamil, wajahmu ga akan selamanya licin kayak porselen, tabiat malingmu itu akan dikenang orang, dan rumah tangga yang kau rusak akan membekas lukanya meski telah diobati. Bolehlah kamu puas sekarang, tapi suami yang kaurebut dari istrinya, bapak yang kaurampok dari anaknya, apakah sudah pasti akan setia padamu nanti? Kamu bukan satu-satunya wanita di dunia. Masih banyak demit-demit lain yang lebih ciamik. Dia bakal cari yang lebih rapet dari kamu.

Yang bikin saya heran adalah kalau demit ini wanita yang sudah bersuami. Bagaimana mungkin seorang wanita bisa begitu tega melakukan itu.
“Suamiku selingkuh, makanya aku selingkuh!”
Apa hubungannya? Suamimu selingkuh, lalu kamu merusak rumah tangga orang lain untuk balas dendam? Bahagiakah kamu? Puaskah kamu?

Poligami kan tidak dilarang dalam Islam?
Ini bukan perkara poligaminya, tapi selingkuh! Kalau mau poligami, lakukan dengan baik. Bukan mencari calon yang kedua dengan keburukan. Di rumah, ada istri yang khawatir, rindu, sayang, sedang engkau para-suami-tak-tahu-diri asik nonton ke bioskop, haha-hihi, berpandangan, pegang tangan, dan semua yang kau lakukan atas nama cinta gombalmukiyo-mu.

Suami, lihat istrimu yang rela hamil 9 bulan, melahirkan, menyusui, menemanimu mendaki kesuksesan, mencuci bajumu yang baunya ampun-ampunan, membelaimu seakan kulit berminyakmu itu selembut pantat bayi, belajar masak sedangkan dia sebelum menikah denganmu hanya tau bagaimana makan, dan hal-hal lain yang kamu tak bersyukur atasnya.

Demit, berpikirlah yang panjang. Jangan rusak kebahagiaan orang lain. Kamu mengatasnamakan perasaanmu sebagai cinta (gombalmukiyo). Padahal, semua itu dusta. Lihat betapa egoisnya kamu yang ingin jadi utama. Merasa berhak atas apa yang bukan milikmu. Adrenalinmu terpacu ketika suami orang melirikmu. Sadarlah! Tolak dia! Kendalikan hawa nafsumu! Kamu perempuan, posisikan dirimu di posisi istrinya! Diam! Jangan lakukan pembelaan! Semakin kamu membela diri, semakin tampak penuh koreng mukamu!

Dan istri, mari kita sama-sama sering introspeksi. Kita ini manusia biasa, tapi kita diberi kepekaan yang lebih terasah. Jangan beri celah setan (demit) untuk mengacaukan rumah tangga kita. Allah sebaik-baik penjaga.

Segitu dulu curahan kekesalan saya tentang demit. Semoga kita dijauhkan dari fenomena perdemitan yang ada.

Ditulis dengan emosi yang menggebu,
Cahya  Andina Thalib

PS: Kejadian di atas bukan pengalaman pribadi :v Ini klarifikasi sebelum diomelin Pak Suami :v

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: