Welcome to my greeeeeny world :D

Cukup lama saya nggak nulis di blog. Beberapa waktu memang fokus ke web konsultasi online yang saya kelola bersama drh. Aul dan drh. Diyah
Well, kita awali dengan basmalah dulu gengs. Bismillah…
Sebenernya saya sudah pernah nulis tentang ini, bisa scroll ke bawah aja ya karena saya lupa apa judulnya bwahahaha. Nulis ini bukan hal yang mudah karena pasti banyak yang nggak setuju, apalagi yang pro-LGBT. 

Oke, pertama yang harus diketahui adalah saya sudah jadi ibu dari dua putra yang–selalu saya doakan–shalih, pintar, dan sehat. Nggak kerasa tetiba aja gitu keknya saya brojolin mereka dengan penuh drama dan air mata. Bahkan waktu melahirkan Thariq, saya gelar konser dulu dan kalo diingat lagi saya rasanya pingin kembali ke masa lalu kemudian membekap mulut saya biar nggak meracau. Memalukan sekali. Rasa sakit melahirkan itu masih teringat, bagaimana mulesnya, bagaimana nggak boleh ngedennya, bagaimana bukaan demi bukaan terjadi, bagaimana waktu bayi akhirnya keluar, bagaimana rasanya diobok-obok, bagaimana rasanya dijahit, bagaimana rasanya susah duduk, bagaimana rasanya susah pipis, bagaimana rasanya nyusuin pertama kali. Ajaib. Allah yang ngasi semua perasaan ajaib itu. Allah Mahasempurna. Allah Mahabaik.

Lalu apa hubungannya dengan LGBT? Berhubungan sekali. Nggak bisa dipisahkan dengan koar-koar humanity yang selalu mereka kedepankan. Mereka selalu meminta untuk diperlakukan baik, diperlakukan sama seperti hetero (heteroseksual-pen), dan semua keinginan yang dikaitkan dengan humanity. Seakan mereka menjadi makhluk Tuhan paling menderita. Ups, maaf, saya seharusnya nggak bawa-bawa Tuhan, soalnya kaum mereka suka bilang jangan bawa agama dan Tuhan #sensi

Bagaimana mungkin meminta untuk tidak membawa Tuhan dalam kasus LGBT ketika yang menciptakan mereka adalah Tuhan? Apakah Tuhan benar-benar hanya sebagai angan saja? Apakah Tuhan tidak boleh ikut campur dengan urusan yang mereka bilang cinta? Lalu dimana posisi Tuhan di kehidupan mereka?

Ketika saya menulis ini, saya baru saja membaca opini 2 orang yang diunggah di salah satu akun IG. Dua orang tersebut salah satunya adalah pelaku LGBT, sedang yang lain adalah pendukung LGBT. Keduanya sama, mereka menginginkan keadilan bagi LGBT tanpa membawa Tuhan dan agama. Humanity is all they need. Benarkah humanity sudah pasti membela mereka? Apakah humanity pasti memberikan hal yang mereka sebut hak? Maka tolong tanyakan kepada ibu mereka, apakah ada humanity bagi ibu mereka?

Kecewa, sedih, marah, itu yang sebagian besar ibu rasakan ketika mengetahui anaknya berada di jalan LGBT. Manusiawi? Tentu! Sembilan bulan ibu mengandung. Kepayahan, kepanasan, gelombang emosi yang berubah-ubah, insomnia, mual-muntah, dan segala macam kesulitan dalam masa kehamilan sudah dilewati sambil merapal doa agar anak-anaknya sehat, pintar, taat pada Tuhannya, serta doa-doa lain yang pasti baik. Lalu setelah bergelut dengan maut dan membesarkan dengan berbagai trial and error, kekesalan pada diri sendiri karena merasa bukan ibu yang baik, tangisan diam-diam karena belum bisa memberi yang terbaik, semua senyum dan air matanya sia-sia karena anak kesayangannya memilih menjadi sosok yang berbeda. Adakah humanity bagi ibu tersebut? Kalian yang merasa tidak diperlakukan seperti manusia, adakah ibu kalian bukan manusia hingga kalian sakiti seperti itu? Apakah itu humanity yang kalian elu-elukan? Dear kalian yang mendewakan cinta, apakah cinta kasih ibu kalian tak lebih besar dibanding pasangan kalian?

Maka bagi saya, kemanusiaan yang sesungguhnya adalah sadar akan posisi kita sebagai manusia. Yang taat pada Tuhannya, berbakti pada kedua orang tuanya, hidup sesuai ajaran agamanya, berbuat baik untuk sesama, mengajak pada kebaikan, saling menasihati (jangan selalu mengartikan nasihat sebagai bullying dan yang menasihati sebagai haters, open your mind please). Secanggih apapun teknologi, tak akan ada yang bisa mengalahkan Tuhan dalam mencipta manusia: ovum harus bersatu dulu dengan sperma.

Wallahu a’lam bishshawab.

Cahya Andina Thalib

NB: Untuk kalian anak-anak Umik, tulisan ini Umik dedikasikan untuk kalian agar kalian ingat bahwa untuk menjadi manusia yang sesungguhnya kalian harus menjadi hamba Allah yang taat pada-Nya. Tulisan ini sebagai pengingat bagi kita, bahwa humanity selalu ada dalam ajaran agama Islam, bahwa humanity adalah menjadi manusia yang beradab dan berakal, bahwa ketika Allah menciptakan manusia, Allah juga melengkapinya dengan panduan kemanusiaan. Ingatlah, Nak, bahwa Umik menulis ini karena cinta dan kemanusiaan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: