Welcome to my greeeeeny world :D

Really?
Seriously?

Bismillah.
Saya tulis ini karena ada rasa sedih ketika melihat teman muslimah memutuskan untuk menjadi ‘wanita bebas’. Harapan saya, tulisan ini bisa menjadi salah satu pengingat saya kelak jika berhadapan dengan hal serupa. Semoga tulisan ini tidak hanya mengendap di blog, tapi juga jadi alarm ketika iman saya sedang turun sehingga tak harus menunggu tumpukan dosa untuk kembali datang pada cinta-Nya. Let’s get it started.

Setiap orang, setiap manusia, pasti pernah mengalami ups and downs. Masalah silih berganti dari yang paling mudah hingga paling susah. Setelah lulus yang ini, ada masalah yang lain. Kadang masalah tak selalu ujian, mungkin juga jadi teguran atas apa yang sudah kita lakukan. The problem is, kita mau nggak introspeksi dan mengambil hikmah tersembunyi dari masalah-masalah itu?

Di dunia ini, bukan cuma kita yang punya masalah, banyak orang lain yang lebih pelik masalahnya. Dan hebatnya, orang-orang itu banyak yang malah percaya bahwa dengan mendekat pada Allah, masalahnya akan mudah teratasi. Apakah itu isapan jempol? Nope! Mereka keluar dari masalahnya, dengan kemudahan yang mengikuti. Bukankah Allah sendiri yang berfirman bahwa bersama kesulitan ada kemudahan? Bahkan bila dijabarkan maksudnya, bersama satu kesulitan ada dua kemudahan. Untuk yang ini, Anda bisa membacanya di rumaysho.com sebagai salah satu referensi.

Kembali lagi membahas masalah ya. Manusia nggak akan lepas dari masalah. Setiap orang punya ujian (atau teguran atau musibah) sendiri-sendiri. Apa masalah selalu yang bikin nangis-nangis sedih? Tidak. Anak, pasangan, harta juga bisa jadi ujian. Bukankah itu juga ada di Al-Quran? Kita (saya) aja yang nggak demen baca. Kalo kesenangan adalah ujian, maka harta yang banyak dan hidup yang stabil bisa jadi ujian. Iya, diuji apakah ingat sama saudara, mau berbakti nggak sama emak bapaknya, mau menyedekahkan sebagian yang dimilikinya atau enggak. Kan gitu. Di akhirat nanti hisabnya juga lama. Jadi nggak semua yang keliatan enak itu selalu anugerah, bisa jadi ujian juga.

Nah, balik lagi ke masalah yang terjadi di hidup kita. Saya mau cerita pengalaman saya. Suatu hari saya pernah uring-uringan gegara cucian yang saya jemur jatuh ke tanah akibat jemurannya ambruk. Itu saya kesel nggak ketulungan. Bad mood parah sampe keluar grup UPJ. Ga bisa saya ceritain lengkap, ntar panjang pakai banget hahahaha. Yang jelas itu adalah rentetan hari yang sangat ruwet, puncaknya masalah cucian tersebut. Saya marah. Saya ngambek sama Allah kenapa saya kok dikasi teguran melulu udah beberapa hari. Saya kan capek nyuci baju segitu banyak trus jatuh semua. Lebay ye? Tapi saat itu saya nggak merasa lebay. Jiwa saya sedang kering, kayak daun yang kering kan mudah banget terbakar, gitu juga rasanya.

Saya keki banget. Saya marah nggak jelas. Keluar grup UPJ karena takut berimbas ke yang lain. Sorenya ada paketan datang. Pizza! Pas dibuka, ada pesannya “From UPJ with (heart)”. Nah loh, malu nggak sama Allah tuh? Ya malu! Malu semalu-malunya. Saya yang semula kesal karena teguran Allah nggak enak terus, ketika dapat teguran enak  malah kerasa tertampar hingga tak cukup berani berdiri menghadap-Nya. Ternyata Allah baik banget. Allah kasi nikmat sodara yang perhatian sekali. Sodara yang nggak punya ikatan darah, yang jaraknya jauh, yang saya temui dalam komunitas dakwah, tapi mau mendekap ketika saya butuh uluran tangan agar bisa kembali berdiri. Akhirnya saya disuruh suami buat minta ampun sama Allah atas buruk sangka yang sudah terlanjur itu. Malu nggak pas sholat? Iyalah.

Dari situ saya kemudian introspeksi dan menemukan jawabannya: ibadah saya keteteran. Udah beberapa hari saya lewatin aja tilawah kek nggak ada beban. Ya wajar hati gersang, jiwanya lapar, wong nggak dikasi makan, wong nggak deket sama Allah. Teguran itu akhirnya saya yakini sebagai panggilan dari Allah agar saya kembali mendekat. Ibarat sedang perjalanan jauh, nggak peduli dengan keletihan, terus aja jalan dan udah merasa haus tapi nggak minum, Allah tarik saya sampai jatuh ke sungai. Saya basah kuyup, bawaan saya juga basah, tapi letihnya hilang, tinggal segar yang terasa. Selalu ada hikmah yang kadang kita nggak mau tahu. Kita hanya fokus ke hal buruknya tanpa peduli bahwa hal baiknya lebih banyak.

Well, teguran yang datang dari Allah sering tidak kita sadari adalah karena kita sendiri. Kita yang kudunya beribadah ini malah banyak maksiat, banyak ngeluh, banyak kufur nikmat. Alih-alih mendekatkan diri, malah marah dan semakin menjauh. Apakah dengan begitu masalah akan selesai? Belum tentu. Yang ada sih nambah dosa karena melanggar larangan-Nya.

Trus apa hubungannya sama judul di atas?
Sebenarnya saya baru saja membaca komentar seorang netizen di akun IG artis yang melepas jilbabnya. Kurang lebih intinya bahwa artis ini pasti tau yang terbaik buat dia. Gitu kira-kira. Saya juga bacanya sekilas karena komennya sangat banyak. Komen yang jadi membuat saya kepikiran, apa iya yang paling tahu apa yang terbaik untuk diri kita adalah kita sendiri? Lalu kenapa kita perlu sholat Istikharah kalau bingung menentukan pilihan? Bukankah itu kontradiktif dengan pernyataan bahwa kita yang paling paham tentang diri kita?

Kemudian saya ingat surat Al-Baqarah ayat 216 yang artinya, “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.
Setelahnya, saya tanya pada Ustadz Mufid apakah hikmah dari ayat itu termasuk mematuhi perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, beliau jawab iya.

Jadi jelas bahwa kita BUKAN yang paling mengerti atas kehidupan pribadi kita. Yang paling mengerti kita adalah Sang Pencipta. Apa yang terbaik untuk kita, cuma Allah yang tahu, termasuk ujian yang kita hadapi dan segala aturan yang Allah buat. Jadi nggak ada gunanya kita ngambek sama Allah, nggak akan mengurangi kekuasan Allah juga. Pun saat kita taat, nggak menambah betapa kuasanya Allah. Mau kita taat atau enggak, Allah Mahakuasa. Masalahnya ada di kita, yang butuh jadi taat itu kita, yang butuh hatinya tenang itu kita. Maka menjauh saat masalah datang bukan malah bikin masalah selesai, tapi malah nambah masalah. Di dunia mungkin kelihatan selesai, di akhirat ada totalan belakangnya.

Menyambungkan dengan paragraf pertama, tulisan ini saya dedikasikan pada teman-teman muslimah yang memutuskan tuk melepas jilbabnya. Ya, saya memang tidak mengetahui masalah apa yang kalian hadapi. Tapi yakinlah bahwa masalah di dunia ini akan mudah diselesaikan ketika Allah jadi tempat kembali. Jilbab kita adalah simbol ketaatan, bukan sekedar kain penutup kepala. Tak ada alasan untuk menjilbabi hati dulu karena tidak ada toko manapun yang jual jilbab hati. Jangan lepas jilbabmu karena masalah yang terjadi, jangan buka auratmu hanya demi kesenangan duniawi. Mana yang akan kaupilih, menjadi sebaik-baiknya perhiasan dunia atau seburuk-buruknya fitnah?

Wallahu A’lam Bishshawab.

 

Malang, 11 November 2017

Cahya Andina Thalib

Advertisements

Comments on: "Kita yang Paling Tahu Mana yang Terbaik" (1)

  1. semoga dapat hidayah aja deh…miris juga ya
    banyak yang (sok tahu) bilang “i knwo what’s the best for me”
    omong kosong
    mgkn yg blg gitu, lupa sama ayat di atas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: