Welcome to my greeeeeny world :D

 

Bismillah…

Sudah beberapa hari saya pingin ikutan komen tentang sebuah curhatan bapak-bapak yang rame banget diserang emak-emak dari segala arah :v Sungguh pemberani sekali bapak tersebut karena curhat di ruang publik, entah karena emang pingin terkenal atau nggak tau ganasnya emak-emak :v Sing sabar, Pak’e… Monggo pinarak mriki, Pak, diwaos kaliyan ngupi-ngupi 😀

Ehem, ehem, mic check, satu dua tiga. Wokey yuk capcus.

Menurut saya, sejuta itu… bisa banyak bisa sedikit. Tergantung berapa pengeluarannya kan ya? Nah kalo tiap hari makan tahu tempe kukus, sayur bayem, sambel… mmmm… nggak pake sambel karena kadang cabe mahal, bisa jadi itu sejuta kembalian banyak dengan catatan anak nggak pake diaper ya, jadi emaknya rajin natur, juga nggak minum sufor karena sekaleng aja bisa bikin kantong zebol. Namun hari gini, sejuta bisa sangat kurang untuk perempuan yang skincare-nya aja lebih dari sejuta, itu nggak pake makan lho ya. Jadi tergantung gimana pengeluarannya kan?

Pernah suatu hari saya diceritain ibu-ibu yang jualan kue keliling, beliau cerita kalo suaminya pernah disuruh belanja ke pasar biar tau berapa harga kebutuhan pokok. Sebenarnya ide ini bagus untuk suami-suami yang ngasi uang belanja tipis tapi pingin masakan di rumah semewah restoran Perancis. Biar nggak idealis dan lebih realistis.

Well, sudah cukup emak-emak di luar sana membahas kecilnya uang sejuta buat mereka. Saya mau bahas yang lain aja: tentang qonaah. Sungguh, banyak istri qonaah yang merelakan diri mereka tak cantik seperti saat gadisnya, tak semodis sebelum dia bertemu suaminya, tak bertangan lentik nan halus seperti sebelum rutin menggosok pantat panci dan peralatan masak lainnya. Nggak semua wanita lho mau begitu. Nyatanya, di dunia ini banyak wanita yang memilih meninggalkan suami demi berada di pelukan lelaki kaya agar terbebas dari pekerjaan yang selalu dianggap remeh tersebut.

Nggak ada wanita normal yang nggak kepingin cantik. Seorang istri pasti pingin cantik, minimal untuk dirinya sendiri. Saya yakin banyak istri yang miris sambil meringis melihat rambutnya awut-awutan karena dijambaki si krucil, daster robek sana-sini karena dipakai dinas siang-malam, ketek bau asem campur menyengat karena bolak-balik ngulek sambel, endesbre endesbre. Nggak perlu suaminya curhat, dia udah tau kalo penampilannya nggak layak dilihat. Nggak perlu suaminya mengejek, ia tahu kalo penampilannya jelek. Tapi wanita tetap wanita yang akan selalu pingin dibilang ayu, seksi, manis, dan segala pujian di mana sebenernya nggak sesuai sama penampilannya yang asli. Seperti bapak-bapak yang tetap pingin dihormati meski ngadepin kecoa terbang aja takut setengah mati.

Ketika suami bertanya-tanya kenapa istrinya nggak seperti saat pacaran dulu atau awal nikah dulu, coba tanya apakah njenengan masih sama romantisnya kayak dulu, perutnya masih sedatar dulu, penampilannya masih senecis dulu, keteknya wangi seperti dulu… Coba direnungi, apa masih kayak dulu?

Benar, istri memang harus berpenampilan menarik di depan suami, tapi sebaik apapun istri sebagai makhluk yang bisa masak sambil gendong anak, mainan henpon, dan nyanyi-nyanyi, kalo dia nggak punya sedikit waktu untuk ganti baju, semprot parfum, dan oles gincu, maka bau terasi campur ompol anak akan tetep nempel saat menyambut njenengan. Bukannya suami yang baru pulang disuruh nunggu biar istrinya sisiran (dandan) dulu? Coba sebelum pulang kerja, kirim pesan dulu yang manis, bilang mau ketemu sama bidadarinya di rumah, biar istri siap menyambut dengan lipstick warna merah membara meski kadang sudah kadaluarsa, asal bisa bikin suami nggak nglirik istri tetangga. Kasi istri waktu buat cantik meski sederhana, Pak. Gapapalah nebeng bedak si bayi, parfum merk kispre, yang penting bisa mayan dilihat. Kalo masih kurang total, mungkin waktu mau oles gincu dan pake bedak secara merata, anak njenengan ngajak cebok, Pak. Maklumi aja, namanya emak siap siaga.

Dan yang penting, Pak, coba lihat wajahnya yang dengan uang segitu tetap merasa bahagia hidup sama njenengan, merasa selalu kangen dengan bau ketek njenengan, merasa kuat hanya dengan bisa melihat njenengan, merasa cukup hanya dengan makan bersama njenengan. Stop melihat perempuan yang dempulnya satu inci, bibirnya dimanyun-manyunin agak terbuka biar kayak ikan mujaer mati, dan auratnya diumbar kek sapi. Skip, Pak. Nggak bermanfaat. Malah yang ada, njenengan akan merasa istri semakin nggak enak dilihat mata, sepet dirasa, pait tingkahnya. Keluarlah dari grup-grup tidak berfaedah yang suka share foto cewek seksi lalu dikomentarin cowok sekompi, jadi bahan fantasi, jadi nggak betah sama istri.

Coba sesekali lihat tangannya yang penuh goresan pisau, yang kuning karena kunyit, yang kapalan karena nggak sempat pake henbodi. Itu tangan penuh perjuangan demi perut njenengan agar nggak makan makanan mentah, Pak. Coba lihat lemaknya yang bertumpuk, yang bikin dia kalo pake lingerie kayak paus kejerat jaring, itu lemak penuh cinta, Pak. Lemak yang numpuk karena bahagia sama njenengan. Lemak yang ada buat anak njenengan. Lemak yang membandel karena nggak bisa ilang meski digosok sanlet sebotol penuh, Pak.

Coba lihat bibirnya yang mulai menghitam sejak punya anak, mungkin saja anemia karena kurang tidur, mungkin berubah karena hormon, mungkin juga karena pakai gincu murah yang nggak tahan lama dipake makan gorengan.

Coba semua yang njenengan lihat sebagai ketidakmenarikan dari istri ditelusuri sebabnya kembali. Jangan-jangan yang bikin dia nggak menarik adalah njenengan sendiri: yang nggak ghadul bashar dan nggak bersyukur atas nikmat punya istri.

Bertahanlah, Pak, seperti istri njenengan yang bertahan meski njenengan tak sekaya Bill Gates, njenengan juga harus bertahan meski istri nggak lagi ayu, langsing, dan menik-menik kayak juri Dangdut Academy.

Demikian komen saya yang panjang sambil dengerin Things That I Couldn’t Say :v

NB: Udah jangan bully bapak itu lagi, Mak, mungkin di rumah udah dicemberutin istrinya :v

 

 

Malang, 7 Desember 2017 2:11 AM

Cahya Andina Thalib Si Emak (Tak) Bergincu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: