Welcome to my greeeeeny world :D

Posts tagged ‘Kehiduoan rumah tangga’

Tugasmu Sungguh Berat, Mak!

Bismillah.

Tudei setelah bangun dari tidur siang yang nggak nyenyak, saya tiba-tiba mendapat hidayah untuk beberes rumah. Bukan cuma nyapu-ngepel, tapi juga membersihkan kaca jendela dan pintu. FYI, sejak saya pindah, kaca jendela tidak dibersihkan karena memang nggak biasa bebersih itu. Hahahaha. Jorki yak? Yes, saya memang tipe manusia messy.

Pernah suatu hari teman sekelas lihat tas saya dan berujar, “ya ampun, Cahya, your bag is so messy!”. Saya terkekeh. Itu bukan kali pertama, pernah juga saya pinjam mukena teman dan lipetnya kurang rapi (padahal saya udah berusaha ekstra), dia bilang, “Ternyata kamu nggak rapi ya, Cahya!” Ngoahahahaha. Itu saja? Nope. Tari, teman kosan, selalu mengeluhkan kondisi kamar saya yang tidak serapi kamarnya. Tidak heran, kamar Tari dipel setidaknya 2 kali sehari–pagi dan sore, jadi wajarlah dia mengeluh. Kamar saya tidak se-messy itu sebenarnya, dia saja yang terlalu rapi. Sungguh.

Ketidakrapihan dan ketidakbiasaan untuk bebersih sepertinya memang terbentuk sejak kecil. Dibanding diajarkan cara yang benar untuk beberes, saya cenderung mendapat kritik. Saya ingat saat kelas satu SD pernah ‘dirasani’ guru karena tidak bisa menyapu dengan benar. Ditambah dengan sifat pemalas yang sepertinya berasal dari ke-baper-an setiap ibu tidak cocok melihat hasil pekerjaan beberes, makinlah saya ogah belajar. Sedihnya, ketidakbiasaan itu membuat kesulitan setelah menikah. Beberes rumah tidak pernah menjadi habbit. Beberes rumah serasa beban yang pahit.

Beberapa waktu lalu, saya mengantar barang ke rumah pembeli. Alangkah takjubnya ketika melihat ruang tamu beliau indah dipandang serta wangi, penataannya cantik dan simpel, lantai bersih, dinding mulus. Bukan rumah gue banget yang dindingnya jadi tempat berkreasi si bungsu, lantainya ada bekas tumpahan susu, dan penataan ruangnya tampak jelas grusa-grusu. Miris, Gess. Saya merasa dikhianati oleh kaum saya sendiri. Ternyata ada juga emak jaman now yang rumahnya kek foto yang tersebar di pesbuk. Ah, sakit, Gess.

Sampai tulisan ini dibuat, tangan saya masih gemetar karena ‘kerja keras’ tadi. Lebay kan? Gapapa, kalo nggak hiperbola jadi nggak asik. Dari sini saya menyadari bahwa tugas ‘dapur-sumur-kasur’ itu nggak mudah, Mak, Pak. Urusan dapur tuh nggak cuma masak, tapi belanja, bebersih dapur, ngitung uang buat makan. Itu masih dapur ya. Sumur: cuci piring, cuci baju, cuci sprei, mandiin anak, bebersih teras sampe halaman belakang, kadang ikutan benerin perkakas rusak, dll. Kasur nggak perlu dibahas ya, udah pasti paham lah, anyway kalo saya memasukkan perkara bersolek ke urusan kasur karena kaitannya sama suami.

Coba kita runut kerjaan emak mulai pagi: Bangun, belanja, masak, nyuci piring, beberes rumah, nyuci baju, jemur baju, masak lagi, beberes rumah (lagi), masak (lagi), tidur. Itu tidak termasuk nyusuin anak, ajak anak main, ajak anak beli jajan, mandiin anak, nyebokin anak, nyuapin anak, setrika, dan ngurusin olshop bagi yang punya. Belum lagi kalo anaknya udah sekolah, ada acara nyiapin bekal, nyiapin sepatu, nyiapin tas, nganter sekolah, jemput sekolah, dll. Saya belum merasakan ini saja sudah merasa ngeri.

Beruntung dalam urusan kerjaan domestik, suami sangat cekatan turun tangan, apalagi kalo rumah udah kayak kapal pecah dan saya mulai uring-uringan, suami tidak lantas berpangku tangan. Tidak bisa saya pungkiri, uluran tangan suami sungguh membantu saya menjaga kewarasan. Bagi saya, suami saya adalah pahlawan. Jangan pikir suami yang seperti itu tampak seperti suami takut istri, suami yang mau membantu istrinya adalah seorang dermawan dengan senyuman nan menawan.

Sayang, tidak semua suami seperti itu. Berbekal komen sepihak para istri pada tulisan/status yang viral di pesbuk, saya melihat banyak juga ternyata yang mengeluhkan sikap suami mereka, tak sedikit yang menandai nama suami agar dibaca. Meski sebenarnya itu masuk dalam kategori membuka aib, tak dipungkiri bahwa memang ada suami macam itu, suami yang menganggap remeh-temeh ‘pekerjaan’ istri. Padahal, mestinya suami adalah pihak pertama yang mengapresiasi apa yang sudah istri lakukan. Pun begitu dengan istri yang mestinya mendorong dan mengapresiasi apa yang sudah suami berikan untuk keluarga. Seimbang kan. Suami yang begini bukan lantas disebut suami yang berjaya dan tidak takut istri, suami yang begini adalah suami yang tidak tahu diri. Itu opini pribadi saya sebagai seorang istri yang tak mampu melakukan semua sendiri.

Tidak semua komen mengeluh yang tertulis, tapi ada juga komen pujian untuk suami mereka. Itu berarti masih ada suami yang sadar bahwa dirinya tidak menjadikan istri sebagai bawahan, bukan berarti dia takut pada istrinya, tapi saya yakin dia takut dengan pertanggungjawaban nanti pada Tuhannya.

Menulis ini membantu saya mengingat kebaikan suami dan kerewelan saya sebagai istri (juga emak). Tulisan ini bila dibaca lelaki, saya harap bisa memberi gambaran bahwa kerjaan domestik perempuan itu nggak mudah, apalagi kalo di rumah ortunya nggak ada kewajiban ngerjain pekerjaan rumah tangga. Kalau memang tak mau membantu istri, berilah sedikit apresiasi, bukan malah mencaci. Bagi para istri (gue masuk dah ini) yang suaminya berkenan membantu, bersyukurlah. Jangan terlalu banyak nuntut, jangan jadi drama queen (gue nih gueeee).

Terakhir,
Suami itu tulang punggung, istri itu tulang rusuk. Sama-sama penting. Nggak ada yang lebih berat kerjaannya. Semua berat. Semua punya tugas yang harus diselesaikan. Saling dukung, saling syukur, saling sabar. Tulisan ini mesti saya buka setiap saya rewel. Hahaha.

Sekali lagi, Mak, tugasmu berat. Maka kita ikuti slogan Bang Sandi:
Kerja Cerdas
Kerja Tuntas
Kerja Ikhlas

Allahu a’lam bishshawab.

Malang, 1 Oktober 2018

Advertisements